Anshar Aminullah

Tragedi ini bukan saja milik ketiga Kartini dan kedua pria malang ini. Namun ini adalah sebuah tragedi pada siapapun yang memiliki rasa ketulusan dalam mencinta

Lebih sepekan pemberitaan dan diskusi disetiap sudut di kota ini temanya hampir sama, tragedi yang cukup tragis. Tema ini mungkin hanya bisa bertahan dua mingguan, selebihnya semua akan sirna ditelan hiruk pikuk kota yang sibuk menuju mimpi Metaversenya. Namun di ketiga hati para Kartini ini ceritanya akan berbeda. Mereka akan cukup lama berada dalam sebuah kesedihan, kesunyian, dan kerinduan yang lahir diatas sebuah penghianatan pada cinta mereka, dan yang paling sulit terelakkan adalah “kenangan”.
Saya hendak mengajukan sebuah pertanyaan dengan tetap berupaya berada pada jarak logis yang tak hilang.
Adakah yang lebih menakutkan dan terkadang mengerikan dari yang melekat dalam kepala kita selain kenangan?
Di kedua pria dan di ketiga Kartini ini mungkin masing-masing memiliki alasan untuk saling memilih kenapa mereka melabuhkan hati dalam sebuah ikatan pernikahan yang resmi, ataupun sebuah hubungan terselubung bernama selingkuh.
Kita bisa pastikan bahwa pada mereka yang saling memilih untuk menjalin hubungan bukan semata dari sebuah kesepakatan untuk “sama-sama menjadi penjahat, engkau mencuri hatiku, dan aku mencuri hatimu”. Namun tetap saja alasan seorang pria memilih wanita adalah pada pertimbangan bagian secret dari keindahan yang sangat misterius. Dan alasan Wanita memilih para pria tetap saja didominasi pada sesuatu yang paling tidak rasional baginya. Itulah mengapa pada pria yang bernasib paling tragis, yang padanya dialamatkan telah menautkan hati pada wanita lain, ada hal yang susah masuk dalam rasional kita. Yakni saat sang istri masih saja terus membelanya diberbagai pemberitaan, bahwa dia pria paling setia dalam hidupnya, dia adalah sosok bapak yang paling bertanggung jawab. meskipun senyuman yang tersungging di bibirnya kita bisa rasakan adalah kepedihan yang tak tertahankan, dan sebuah kenangan indah masa lalu, dan kenangan terbaru perihal cerita di tepi jalan disudut kota, saat tubuh kekar lelaki yang dicintainya menjadi lunglai karna tak kuasa menahan rasa sakit akibat paru-parunya tertembus timah panas.

Kita semua tahu bahwa sebuah kejahatan yang sempurna adalah kejahatan tanpa jejak dan berakhir pada ketiadaan yang terus menerus. Namun hal itu jarang berlaku pada kejahatan cinta berbalas yang dusta. Kejahatan tetaplah kejahatan Dia akan selalu memunculkan dirinya sebagai penegasan, bahwa kebenaran selalu berhasil memaksa dia untuk menampakkan diri sekaligus memaksanya mengakui kekalahan.

Pada pria yang harus mempertanggung jawabkan kekhilafan atas kebutaan pada cintanya yang mendalam pada Kartini lain selain Kartini resmi dalam hidupnya. Dia telah meninggalkan jejak yang parah dimana namanya tertulis dengan baik justru saat dia berusaha menghapus namanya dalam sebuah sandiwara.
Dia telah melakukan tindakan barbar, dimana dia menasbihkan cintanya setelah mengorbankan orang lain. Sementara dia melupakan ada seorang Kartini sah dalam hidupnya, yang mencintai dia sepanjang hayat, sebuah cinta sejati yang kehilangan makna tepat disaat sang suami menorehkan tanda tangan sepakat untuk ikut para aparat yang menggelandangnya.

Kita menjumpai kenyataan bahwa meningkatnya rasa sayang dan cinta pada seseorang acapkali membuat mental kita menjadi kuat menghadapi kenyataan tapi tidak dengan sisi moralnya.
Kartini berstatus penumpang gelap di dua hati pria tadi. Dia memelihara keindahan pada dirinya, sementara kesuraman menjadi satu-satunya hasil dari hubungan segitiga mereka.
Dalam dirinya, dia mengalami kesedihan dan penderitaan saat dia tersentuh cinta yang penuh dinamika dan harmoni kegundahan, rasa cemas serta ketakutan-ketakutan, dari bangunan rasa pada dua hati lelaki yang tak pernah dia sangka akan berada dalam drama berujung kematian.
Namun kita mesti berbaik sangka, sekali ini saja, percayalah! bahwa tak pernah sekalipun dia berniat untuk menorehkan luka dalam jiwa yang satu, dan menimpakan maut pada jiwa yang lain. Dia adalah seorang Kartini yang mencoba menguatkan hatinya kembali dari sebuah cinta yang kandas dan berhenti pada kekosongan status pernikahan. Dia adalah seorang Kartini yang berada disebuah batas sebait doa, saat dingin dan kantuk disepertiga malam dengan mata berkaca memohon pada Tuhannya agar kebahagiaan datang memeluknya. Walaupun pada akhirnya, kenyataan yang dia dapati adalah sebuah pola hubungan saling mencinta dari kedua pria yang sangat dekat pada lingkaran dosa struktural, dosa sistemik dan dosa kolektif.
Pada Kartini di sebuah sudut Kelurahan. Dia mencintai seorang pria yang juga mencintai orang lain. Dia menempatkan sang suami dalam indahnya kenangan diatas puing hati dan serpihan-serpihan rindu yang mendadak buram karena ketakjujuran.

Pada kedua pria ini, mereka berdua merawat sebuah rahasia. Dan ketika rahasia itu ditemukan maka berubahlah rahasia itu menjadi sebuah gerbang untuk meraih rahasia lain yang belum ditemukan.
Dan pada kedua pria malang ini. Yang pada mereka telah melakukan kebohongan ilusi hasrat pada pasangan masing-masing. Ketahuilah, dusta tak akan pernah berakhir dalam sebuah keindahan. Dusta justru akan menggiring pada ketakutan lalu engkau memeluk kematian saat rasa rindu palsumu melekat erat dibenakmu.
Pada seorang Kartini di sudut pantul terbaik. Penyesalan mungkin sedang mendera pada kepedihanmu yang engkau tahan. Engkau menorehkan cinta namun justru itu melukai kehidupanmu. Namun engkau tak boleh kehilangan harapan terhadap dirimu dan seorang buah hatimu. Percayalah, engkau cukup memetik hikmah dan Tuhan akan mempertemukanmu dengan lelaki yang selalu hadir dalam mimpimu yang paling rindu, dan percayalah itu tidak pada kedua pria tadi.

Teruntuk kedua Kartini yang terikat pada ikatan suci pernikahan. Percayalah, kadangkala kekuatan cinta dan ketulusan hati kalian membutuhkan sudut pantul terbaik dari seorang Kartini lain untuk membuktikan betapa berbahayanya kekuatan dusta dalam cinta. Ketika dusta dalam cinta itu dipelihara oleh orang yang engkau cintai penuh tulus, maka mereka sisa memilih diantara dua jenis hantaman karma kekuatan cinta kalian dari sudut pantul terpilih. Jika bukan hantaman pada raga yang terpenjara oleh penyesalan mungkin dia mendapatkan hantaman Jiwa yang berada dalam kehampaan denyut nadi.

Artikel ini juga telah dimuat di https://sulsel.herald.id/2022/04/21/elegi-hati-tiga-kartini/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist