Anshar Aminullah

Dalam rentang waktu yang panjang kedepan, hari ini akan selalu dikenang oleh siapapun yang pernah dan sedang menjadi bahagian dari proses dalam struktural bernama Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (Masika ICMI), sangat bersejarah pasti. Sebuah pertemuan bernama Munaslub yang disaksikan banyak tokoh nasional pentolan ICMI. Nama baru dengan banyak harapan baru, Pemuda ICMI.

Pilihan menyematkan kata Pemuda tepat di depan kata ICMI memang berpotensi akan mengarahkan mindset bagi tak sedikit orang, semacam berasosiasi, ini OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) yah? yang dideklarasikan dalam rangka meramaikan ratusan OKP yang terdaftar di Kemenkumham. Ataukah ini organisasi baru yang akan menjadi pesain baru KNPI yang telah dualisme bahkan tigalisme strukturalnya di semua level kepengurusan? Dan cukup wajar asumsi ini muncul, sebab menjadi hal yang tak lazim ketika ICMI menggunakan kata pemuda di depannya.

Sebuah langkah maju kedepan yang perlu diapresiasi lebih terhadap apa yang diambil oleh Cendekiawan muda, top leader dari sebuah gerbong besar para intelektual muda Indonesia yang berhimpun dalam wadah Pemuda ICMI, Dr Ismail Rumadan.
Ketika ada yang bertanya mengapa baru sekarang ikhtiar progressif untuk umat dan bangsa ini baru diambil?
Saya pribadi tak akan berani berasumsi dalam term ini. Sebab bisa jadi berpeluang penuh bias dan kehilangan makna sesungguhnya, baik dari visi kelembagaan maupun misi organisasi secara universal. Tapi mungkin sederhananya seperti ini, akan menjadi sebuah pertaruhan besar akan ‘arah baru’ pilihan Masika ICMI berubah nama menjadi Pemuda ICMI. Sebuah upaya untuk menjawab tantangan zaman dan berakselarasi dengan kemajuan teknologi sekarang ini.

Kita sepakat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan sekarang ini telah membawa manusia ke sebuah dimensi berbeda. Algoritma menjadi ‘penguasa’ yang nyaris mengendalikan banyak hal dalam aktivitas kehidupan kita, khususnya yang berhubungan dengan teknologi digital. Tak sedikit yang tak sadar sedang berada dalam dimensi yang justru sisi humanis kita memudar. Berinteraksi dengan gadget jauh lebih menyenangkan dibanding berinteraksi dengan teman-teman sekitar walau itu dalam momentum reuni akbar sekalipun.
Serasa Ilmu Pengetahuan telah menggiring kita ke sisi dimana kita kehilangan identitas sebagai manusia yang ironisnya adalah ‘pencipta’ ilmu pengetahuan itu sendiri.

Meminjam pernyataan Ulrich Beck, bahwa Idealnya ilmu pengetahuan menjadi pelindung manusia dan alam terhadap kontaminasi global. Dalam hal itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa dalam hal ini manusia dan alam menghadapi risiko dalam banyak aspek, tetapi ilmu pengetahuan terus saja mendesak lebih jauh hingga muncul kritik dan protes terhadap reputasi historis rasionalitas yang disandangnya (1944).

Perubahan nama menjadi Pemuda ICMI ini membuat khalayak akan menaruh banyak harapan besar di dalamnya. Selain dia tak boleh kehilangan identitas kecendikiaan kaum mudanya, dia juga harus menjadi pelopor dari sebuah perubahan besar disaat bangsa kita sedang berada dalam ancaman krisis ekonomi global yang berada di depan mata. Dan juga kondisi memudarnya identitas kebangsaan generasi muda kita kian hari makin terasa. Maka wajarlah jika bangsa ini juga berharap besar pada Pemuda ICMI untuk membawa perubahan fundamental, dari gerakan bernuansa struktural yang dimixed dengan gerakan berbasis kultural. Sehingga identitas kebangsaan tidak hanya kembali terasa, tapi juga akan membawa Indonesia tampil terdepan menuju peradaban dunia.

Anshar Aminullah
(Mantan Sekretaris Masika ICMI Orda Makassar)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pemuda ICMI: Penegasan Kepeloporan dan Kecendekiawanan Kaum Muda Indonesia, https://makassar.tribunnews.com/2022/09/18/pemuda-icmi-penegasan-kepeloporan-dan-kecendekiawanan-kaum-muda-indonesia.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist