Awalnya saya tak pernah mendengar lagu ini secara keseluruhan, hanya sebatas mengganggui penyanyi dilagu itu dalam setiap update statusnya. Ini terjadi beberapa hari lalu, saya pun sempat mendengarkan secara keseluruhan lagu tersebut. Sangarnya setiap harmonisasi Guitar dan hentakan drum dari band yang menamakan dirinya Ritual ini. Kami kadang bercanda malah dengan menyebutnya Rituil sebagai ungkapan persahabatan terhadap para personilnya.
Diera modern sekarang ini, tak sedikit Band yang justru terjebak dengan ala kebarat-baratannya, seakan kehilangan kreatifitas bahkan malah bangga dengan keidentikan baratnya. Yang jadi fenomenal adalah kehadiran Band Ritual yang digawangi oleh Mamat, Oscar dan Igol, 3 orang yang masih tersisa dari Band beraliran cadas ini.
Mereka justru hadir dengan sebuah konsep musik yang menurut saya adalah satu bentuk kreatifitas terhadap sebuah upaya inovasi pada sebuah aliran/ genre musik. Tak satupun orang yang akan menyangka dari ketiga sosok fenomenal dalam dunia musik di Makassar ini sanggup menyentil fenomena sosial di masyarakat kita dengan perpaduan Musik Rock dan istilah-istilah Makassar.

Apa yang menarik dari “Baso Anak Metal” ini dibeberapa liriknya bisa kita dapati misalkan saja “kalo update status nakalahki Khahlil Gibran, Kalo pasang foto nakalah sangarki Rambo, tapi kalo naputar lagu dihapena, sangnging lagu love (baca lope) dan lagu yang romantis”.
Kesanggupan mereka mengungkap fenomena sosial para remaja kita sekarang ini lewat sebuah musik cadas menjadi catatan tersendiri buat saya. Oscar dan Mamat sanggup memadukan sebuah instrument yang energik tapi penuh dengan pesan moral bagi anak bangsa.
Disetiap dentuman gitar mereka serasa mengajak kita untuk bangun dan bergerak dari zona nyaman akan buaian tradisi luar yang telah menjadikan kita terkadang mempermalukan diri sendiri. Iya, mempermalukan diri sendiri adalah ketika kita bangga dengan produk luar dan hasil karya orang luar dan menjadi minder dengan karya diri sendiri.

Disisi lain, Secara detail lewat harmoni vocal, seorang Igol sanggup menghentak sekaligus menyentil para remaja kita sekarang ini yang tergiring menjadi alay karna telah kehilangan karakter akibat budaya luar. Sentilan Sang Igol ini mestinya menjadi tamparan keras bagi kaum muda kita yang telah kehilangan identitas aslinya sebagai orang Timur yang selalu identik dengan norma-norma serta adat yang selalu terjaga tatanan kehidupan bermasyarakatnya.

Sang Igol juga mampu memberikan nuansa tersendiri dengan karakter vocalnya yang semakin matang oleh karna tempaan ruang dan waktu.
Sebagai catatan terakhir adalah bahwa “Baso Anak Metal” ini adalah sebuah kreativitas anak bangsa akan penggabungan 2 buah Kultur berbeda (Barat dan Timur) dalam sebuah harmonisasi cadas yang nyentil. Menurut hemat kami, Ini adalah sebuah keberanian dalam melakukan sebuah evolusi musik cadas berbasis Kearifan Lokal.
Mestinya anak-anak Band Makassar banyak belajar dari keberanian berinovasi dari ketiga musisi senior di Makassar ini. Perpaduan ide dari ketiga orang ini seakan seperti sebuah RITUAL MUSIK yang mempertegas posisi dan nilai tawar musisi Makassar di panggung musik nasional.

Selamat menjalankan ibadah puasa di hari ke 19 Ramadan 1444 H.

Artikel ini telah tayang di https://jurnalmakassar.pikiran-rakyat.com/makassar/pr-826545009/baso-anak-metal-evolusi-rock-ala-makassar?page=2

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist