Jika ada yang bertanya perihal apa rutinitas disetiap penghujung September sejak SD sampai di tahun ini, sederhana saja, menonton Film garapan Arifin Chairin Noer.

Pria yang lahir di daerah Cirebon selain sebagai sutradara dan penulis skenario handal. Film ini tetap menjadi tontonan wajib setiap tahunnya.

Urusan pro dan kontra mengenai isinya itu nomor kesekian, nostalgia masa kecil tentu menjadi hal yang utama.

Akhir-akhir ini, struktur politik dan akademik di Indonesia memperkuat pola justifikasi tema pada film ini bahwa dia lebih dominan pada pro dan kontranya.

Namun sesungguhnya menurut hemat pribadi saya, makna penting yang tersirat adalah bagaimana hebatnya pancasila sehingga sampai detik ini kita tetap mampu merawatnya agar tetap menjadi dasar negara kita.

Melemahnya penerapan nilai-nilai berpancasila dalam kehidupan generasi muda kita sekarang ini harus kita terima sebagai sebuah kenyataan sosial.

Meskipun pada prinsipnya, pada kenyataan sosial itu mempunyai banyak lapisan makna, dan penemuan terhadap setiap lapisan baru ternyata akan mengubah persepsi tentang keseluruhan.

Disetiap periodesasi kepemimpinan di negeri ini, dialektika mengenai framing pemikiran yang coba dibangun dalam sejarah, baik yang tergambarkan dalam film ini, selalu terjadi jelang dan seusai peringatan Hari Kesaktian pancasila. Namun Dialektika ini harus kita terima sebagai ujian sekaligus rahmat Allah dalam dinamika kehidupan.

Sebab bilamana seorang menolak cobaan untuk menerima dialektika semacam ini, dan lebih mau menghadapi pengalaman relativitas yang disebabkan oleh fenomena alternasi secara jujur, maka dia tiba pada dimensi kesadaran sosiologis yang krusial kesadaran bahwa bukan saja identitas tetapi ide-ide adalah nisbi terhadap lokasi sosial yang khusus.

Pandangan akal sehat biasa mengatakan bahwa kita hidup melalui urutan peristiwa tertentu, termasuk dalam rentetan peristiwa pemberontakan PKI yang tertulis dalam sejarah bangsa ini.

Dalam hal mengambil pelajaran tak ada yang berkategori lebih penting dan ada pula yang kurang penting: Semuanya penting sebab ini menyimpan cerita perihal kita kehilangan putra terbaik bangsa pejuang kemerdekaan yang bergelar Pahlawan Revolusi. Namun perihal efek politis pada kelompok tertentu saya pribadi cenderung akan menghindar untuk berasumsi.

Kita cukup menjadi saksi sejarah bagaimana respon setiap penguasa negeri ini di setiap tanggal 1 Oktober tiba. Dan akumulasi kesaksian tersebut biarlah jumlah keseluruhannya menjadi riwayat hidup kita sendiri.

Dengan demikian, menyusun riwayat hidup kita adalah fokus mencatat peristiwa-peristiwa ini dalam tatanan kronologis atau dalam tatanan yang diurut menurut penting atau tidaknya.

Bangsa ini memang terkenal dengan masyarakatnya yang religius. Bahkan religiusitas masih menjadi resep ampuh untuk mendongkrak elektabilitas person dalam menduduki tampuk kursi kekuasaan.

Saking religiusnya masyarakat kita sehingga tak sedikit yang telah sampai pada titik sabar dan bersabar atas upaya duduk lama di kekuasaan dari periode ke periode.

Bahkan dilanjutkan oleh anak cucu mereka tanpa banyak menghadapi reaksi berlebih. Mungkin salah satu penyebabnya yah itu, kita telah menjadi orang yang sabar dalam banyak hal.

Bagaimana kelanjutan masa depan tatanan kelembagaan bangsa ini, yang sekarang terlihat seperti terbentuk dari ketiadaan. Kita bisa melihat secara tidak langsung semua sarana kekuasaan telah secara efektif digunakan. Tak sedikit oposan telah tergusur secara perlahan.

Semua sarana pemaksa berada di pihak yang berkuasa dan telah melakukan persiapan-persiapan memadai bagi pengalihan kekuasaan pada pewaris-pewaris yang telah disiapkan.

Maka tinggal problem legitimasi, yang justru makin urgen karena kebaruan tatanan baru itu yang dalam sudut pandang lain ini sangat disadari kerawanannya dalam beberapa hal.

Namun biarkanlah semua dinamika politik negara ini mengalir seperti air. Yang terpenting adalah bahwa pancasila haruslah tetap kita rawat nilai-nilainya dalam kehidupan kita.

Film Pemberontakan Gestapu ini biarlah menjadi hiburan bagi sekelompok orang dan menjadi pengingat terbaik akan sejarah kelam bangsa kita di masa lalu bagi sekelompok lainnya.

Tinggal kita memilih kita ada di sisi yang mana, semuanya memiliki posisi benar dalam pendekatannya masing-masing. Yang penting kita bisa bersepakat bahwa Pancasila tetap abadi dalam Kesaktiannya.

Tulisan ini juga telah diterbitkan sebelumnya di :

https://herald.id/2023/10/01/pancasila-abadi-di-kesaktiannya

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist