Pagi ini saya bersyukur masih mampu untuk senyum-senyum simpul. Mungkin karena membaca sebuah tema nasional di tahun 2023 ini. Kalimatnya cukup sederhana, “Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan”. Kalimat ini pula yang saya harap dicamkan baik-baik oleh adik saya yang akan mengadu nasib pada seleksi CPNS. Dia bersaing dengan ribuan pendaftar untuk formasi yang di centang pada kolom pilihan. Soal lulus atau tidaknya itu urusan lain, setidaknya dia telah membuktikan bahwa dia tidaklah bodoh-bodoh amat karena masih sanggup menjawab soal Seleksi Kompetensi Dasar di Komputer. Dan paling tidak, dia telah memiliki tekad memerangi kemiskinan di masa depan, meskipun lingkupnya masih di wilayah personalnya sendiri. Niatan adik saya untuk masuk dalam kesibukan birokrasi memang tak sepenuhnya dilengkapi dengan pengetahuan bahwa di birokrasi adalah soal tata langkah (prosedur) yang layak. Dia juga belum mengerti bagaimana birokrasi dianggap berjalan jika telah sesuai aturan-aturan dan tata urut yang rasional. Dia hanya dimotivasi sebuah stimuli awal, bahwa menjadi birokrat adalah sebuah pilihan jalan untuk menjadi calon ‘pahlawan-pahlawan’ bagi kelangsungan proses administrasi setiap lembaga di negeri ini.

Pun demikian dengan para calon ‘pahlawan-pahlawan’ bangsa di dunia politik khususnya para caleg-caleg yang balihonya tetap eksis dan bertebaran di sepanjang jalan. Mereka telah merencanakan jalan hidupnya menjadi pejuang aspirasi di gedung DPR/ DPRD. Meski tak mengenal gugur dalam perjuangan di gedung parlemen namun hanya mengenal kolaps tak berdaya dalam “serangan fajar” kompetitor berlabel caleg saingan. Kawan-kawan kita ini tak sedikit yang telah mengambil keputusan jalan hidup yang kongkret, yang didefinisikan sebagai sarana menuju tujuan yang berkenaan dengan rencana hidup secara keseluruhan (baca : 3 periode minimal).
Kita paham, bahwa jika rencana hidup dirumuskan secara defenitif, relevansi terhadap keputusan-keputusan terhadap rencana besar seperti “nyaleg” akan selalu dibayangi ancaman kecemasan, frustrasi mengarah depresi. Ketiga kata ini telah diantisipasi lebih awal ketersediaan ruangannya oleh para petugas di Rumah Sakit Jiwa pasca pengumuman perolehan hasil suara di 2024 nanti. Para saudara kita yang nyaleg ini memang tetap harus dibekali dengan kemampuan tinggi menunda kesenangan atau kepuasan. Ini penting, sebab dengan hal tersebut, dia akan bisa melangkah lebih jauh pada rencana besar mereka.

Calon Pahlawan Demokrasi

Ada sebuah fenomena unik yang sempat saya dapati dan baca beberapa hari lalu di salah satu media online lokal (bukan media nasional bahkan). Di momentum UIPM 2023 Biathle/Triathle World Championships yang diselenggarakan di Menggiat Beach Ayodya Resort Nusa Dua Bali awal November 2023 kemarin. Diikuti oleh kurang lebih 450 atlit dari 34 negara. Atlit MPI Sulsel Sukses Raih 3 Medali Emas, 1 Perak dan 2 Perunggu. Ironisnya, prestasi ini tak begitu menggaum padahal ini adalah capaian yang lumayan fantastis. Adalah seorang St. Diza Rasyid Ali,calon Senator DPD RI yang seyogyanya di saat sekarang ini sudah harus menyibukkan diri berinteraksi dengan para calon pemilihnya di level grass roots agar para calon pemilih bisa lebih kenal dan dekat, dan mungkin akan memilihnya dibanding 17 calon senator lainnya. Uniknya, dia justru menyibukkan diri mengurus para atlitnya yang sedang berjuang membawa nama harum bangsa baik di level nasional maupun di level internasional. Hal yang kurang lazim memang bagi para politisi di situasi seperti saat ini, dimana disaat-saat urgen peluang keterpilihan mereka ditentukan di dua bulan terakhir ini, justru yang bersangkutan lebih memilih mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Saya bukan bermaksud menjadikannya sebagai rule model dalam ruang berpolitik, namun setidak ada sedikit spirit dan nilai yang mampu kita petik di dalamnya, khususnya bagi para politisi muda pendatang baru kita.

Para “Calon Pahlawan” bagi hadirnya demokrasi yang sehat di negara kita ini. Dimana eksistensi mereka bukan hanya perihal akan berlangsungnya persaingan satu dengan yang lain dalam rangka status sosial dan keberhasilan ekonomi mereka lewat catatan nominal di buku rekeningnya. Namun kehadiran mereka juga tetap terselip harapan lahirnya masyarakat yang dihiasi keselarasan tanpa memandang strata sosial. Mereka adalah perwakilan rakyat guna menggugat kenaikan biaya hidup yang dalam rilis survey pemerintah “puas” secara kepemimpinan padahal tak sedikit kenyataan didapati realitasnya adalah, pendapatan riil dari banyak penduduk justru semakin menurun dalam angka-angka dan fakta.

Di tangan para saudara-saudara caleg kita ini memang banyak asa khususnya akan hadirnya budaya berdemokrasi yang jujur, adil serta output pemilu yang bermartabat mampu tercapai. Meskipun optimisme tersebut masih sebatas harapan besar bernama mimpi, mungkin dikarenakan masih disibukkannya mereka dengan implementasi strategi meraih simpati mendulang suara pasca penetapan Daftar Caleg Tetap oleh KPU.

Sebagai catatan khusus bagi para caleg-caleg pendatang baru diujung tulisan ini. Bahwa masa reses para Incoumbent memang menjadi bonus khusus bagi para petahana di DPR. Hal itu janganlah dijadikan sebagai penghalang peluang keterpilihan dengan mencoba melawannya dengan cara kurang elegan berupa kalimat-kalimat berbau negative campign terhadap mereka yang masih duduk manis di kursi dewan. Kalimat sederhananya semacam reses dibalas resek. Tetaplah pantang untuk membubarkan diri dan berhenti berikhtiar hanya karena “serangan fajar”, tepat di saat sedang memikul potensi beban sejarah sebagai bangsa yang mengalami kemunduran berdemokrasi di setiap berlangsungnya Pemilu. Dan tetaplah semangat. Mungkin kelak ratusan tahun yang akan datang nama kawan-kawan sekalian akan di dengung-dengungkan di seluruh penjuru negeri tepat disaat bangsa ini telah berdiri tegap dan gagah di panggung peradaban dunia.

Selamat Hari Pahlawan!.

Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di :
https://makassar.tribunnews.com/2023/11/10/calon-pahlawan-pantang-bubar-di-medan-serangan-fajar

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist