Di hampir semua obrolan dan diskusi mulai dari warung kopi hingga ruang diskusi publik di Hotel, tema berbau pilpres selama beberapa pekan terakhir selalu menjadi pilihan topik yang menarik. Perpaduan antara tema-tema kekinian yang penuh cita-cita yang mementingkan penyelamatan areal kekuasaan dalam keluarga dibandingkan penyelamatan bangsa. Kalaupun ada tema seputar ditetapkannya Ketua KPK FB sebagai tersangka, dia akan menjadi tema selingan saja, maklumlah, di tanah Sulsel FB ini termasuk orang yang cukup ramai disebut-sebut namanya terkait kasus yang menimpa mantan Mentan dan mantan Gubernur dua periode di Sulsel. Saking serunya diskusi ini membuat kita nyaris lupa, bahwa hari ini para guru kita tengah merayakan Hari Guru Nasional.

Salah satu masalah bagi negara berkembang seperti Indonesia, bukan hanya masalah bahwa mereka masih minim Sumber Daya Manusia yang handal dengan kecakapan teknologi yang masih di dominasi status User dan followers, serta ketercerabutan dari akar budaya. Tetapi kita juga seolah sedang mengalami penghisapan oleh sistem kapitalis dan terbenanamkan oleh sistem sosialis.

Para guru di negeri ini menanggung beban tanggung jawab yang cukup besar. Mungkin akan sedikit ringan bagi para guru dengan status PNS, tapi bagaimana dengan rekan-rekan kita yang masih berstatus sebagai guru honorer, beratnya pasti lebih ekstra lagi. Di lain sisi, kerapkali terjadi perbenturan antara bayangan kekerasan fisik dan phobia dilaporkan kepihak berwajib oleh orang tua siswa hanya karena emosi sesaat mereka pada person sang guru, pendidik yang dengan sabar telah mendidik, mendadak menjadi pesakitan di ruang pemeriksaan dan interogasi pihak berwajib. Hujan sehari menghapus panas setahun, nila setitik merusak susu sebelanga, demikianlah yang pada akhirnya menimpa sang guru yang terlapor.

Pun juga dalam beberapa kasus yang berbuntut penelusuran lebih mendalam oleh kejaksaan dan KPK. Faktanya, bahwa tak sedikit pejabat yang terkena apes akibat ulah anak-anaknya yang masih berstatus siswa yang kerapkali saat liburan di negara luar memamerkan kemewahan serta keindahan negara tersebut lewat postingan medsosnya. Mentalitas suka pamer dan bergaya seolah duit buat liburan itu adalah hasil kerja keras mereka. Kita percaya kebiasaan itu bukanlah salah dari guru yang mendidik anak tersebut. Lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam pergaulan di luar sekolah juga menjadi salah satu variabel utama yang bertanggung jawab akan tingkah hedonis tersebut.

Para guru-guru kita saat ini bisa jadi masih tetap memiliki impian untuk menciptakan suatu komunitas yang membawa implikasi revolusioner bagi tatanan dunia pendidikan kita di masa mendatang. Dimana dorongan yang luarbiasa ini dilahirkan oleh sebuah impian dalam situasi modern, bahwa pemimpin-pemimpin bangsa ini kelak adalah produk yang dihasilkan dari pendidikan berkualitas yang berjenjang dan dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya sekedar produk luar yang hanya memanfaatkan gengsi luar negerinya, meski kualitas otaknya hanya setara anak sekolah kelas sembilan namun melabeli diri setara anak S1 dari kampus yang numpang kerjasama dengan kampus terkenal di dunia.

Hingga detik ini, kita juga masih bersyukur oleh karena produk-produk keluaran dari para guru kebanggaan kita adalah SDM dengan kemewahan dalam bermimpi karena kesadaran mereka pada prinsip “rawatlah cita-citamu sebagai sebuah mimpi-mimpi besar dan percayalah, cepat atau lambat Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu”.

Kita selalu berharap di momentum hari guru ini dukungan moril terhadap para guru kita harus semakin ditingkatkan. Mereka harus tetap menjadi pelita bagi keberlangsungan cerahnya bangsa ini ditengah kegelapan tanpa listrik dari kebiasaan pemadaman bergilir yang dilakukan oleh PLN. Sebab bagaimanapun, guru tetap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang kerap kali menjadi pahlawan yang dapat tanda bukti laporan kepolisian dari kekhilafan oknum yang belum kapok merasakan mengajar mandiri di rumah saat pandemi Covid melanda dunia, dimana wabah ini telah berhasil melahirkan ‘guru-guru’ dadakan yang makin sadar bagaimana beratnya tugas para guru kita di sekolah.

Dan guru juga telah menghadirkan kesadaran personal, bahwa tuntutlah Ilmu sampai di negeri Cina, namun tak usah berharap lebih dengan menunggu guru kembali dari Cina, sebab bisa jadi rasanya sudah berubah dan berbeda.

Selamat Hari Guru Nasional!

Artikel ini juga telah tayang di media :

https://herald.id/2023/11/24/guru-pahlawan-yang-langganan-dilaporkan/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist