Tulisan ini saya hendak mulai dengan dua hal awal. Pertama, cawe-cawe ini sama sekali tak memiliki hubungan istimewa dengan yang sedang viral di jagat maya dalam beberapa hari ini.
Kedua, kecenderungan dalam tulisan sederhana ini hanyalah sebentuk analisis yang terserak-serak, yang mungkin hanya menghasilkan secuil fragmen-fragmen analisis sosial tanpa harus terperosok dalam asumsi-asumsi politik.Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena saya sendiri baru “ngeh” dengan istilah ini.

Pengungkapan cawe-cawe jika tak diberikan batasan sumber asal muasal viralnya, itu bisa menghasilkan daya ledak empiris dengan mempengaruhi kehidupan sosial yang terstimuli dari kondisi-kondisi demokrasi kita hari ini.
Begitupun dengan pola komunikatif pada cawe-cawe, jika diperiksa dengan pendekatan instrumentalis tentang rasionalitas pentingnya dalam penggunaannya dikondisi urgen, sangat berpotensi menghasilkan penghilangan banyak dimensi kesantunan yang on the track dalam kehidupan sosial-politik kita.
Saat mengimplementasikannya, dia harus menghasilkan kesadaran bahwa Tuhan juga berperan atas nasib kita.
Tuhan juga ikut membereskan, merampungkan serta ikut menangani dengan cara berbeda dalam posisi Maha segala-galanya.

Bahkan terlibat dalam mencawe-cawe kehidupan kita, dan itu murni dilatarbelakangi oleh Maha kasih sayang-Nya kepada setiap hambaNya.
Dalam perspektif personal, jika cawe-cawe ini sepenuhnya ditumpukan pada makhluk bernama manusia, maka yakinlah, secara diam-diam kita akan merasa hanya diri kita sendiri yang bisa menolong nasib kita.
Tuhan akan mendapat tempat situasional berdasarkan kebutuhan kita saja. Dan dengan sendirinya, kita akan berupaya dengan berbagai cara menyerobot kesana-kemari mencurangi teman, bahkan mencuri rahmat yang diterima oleh saudara kita yang berakibat merosotnya kualitas moral pada diri dan terhadap sesama bahkan terhadap Yang maha Kuasa.

Jika cawe-cawe berada di tangan ulil amri, tingkat akurasinya tentu jauh lebih tinggi.
Di tangannya tak hanya mampu menghasilkan kemenangan dalam momen kompetisi, dia juga akan menghasilkan kelekatan moral dalam momen konsolidasi, namun juga mampu menghasilkan runtuhnya keberhimpunan jika dia tidak terkonsolidasikan dengan baik diantara banyaknya ‘kepentingan’ di dalamnya.
Ketiganya berpotensi terjadi oleh karena cawe-cawe bukanlah sistem budaya seperti dalam perspektif Richard Munch dimana dia dibangun di atas simbol-simbol yang dikontrol oleh defenisi-defenisi situasi.
Pola maknanya pun juga tidak dibentuk oleh dasar konstitutif pemaknaan kondisi manusia. Standar nilai yang dibangun pun masih ambigu dari kebermaknaan tindakan dalam kerangka acuan budaya tertentu.
Keseimbangan Mikrokosmik akan terjadi saat cawe-cawe dilakukan demi kepentingan ummat. Dia akan menjadi kekuatan yang luarbiasa jika diperuntukkan untuk kemaslahatan khalayak dan kebaikan sebuah negeri.
Bukankah Allah akan selalu membersamai segala niat kebaikan, apatah lagi jika itu dilakukan oleh representasi sifat Maha penguasa-Nya di muka bumi yakni para ulil amri.
Dan pada akhirnya, kita berharap kebersihan spiritual, kejernihan dan kejujuran dalam jabatan serta kelayakan moral selalu menyertai para ulil amri kita hari ini, esok dan yang akan datang dalam ikhtiar cawe-cawenya. Para ulil amri kita ini punya kewajiban mengantarkan siapapun dan kubu manapun pada status general bernama “kemenangan rakyat”, bukan kemenangan personal ditengah kekalahan struktural.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Cawe-cawe, Ikhtiar Ulil Amri dan Keseimbangan Makrokosmis, https://makassar.tribunnews.com/2023/06/06/cawe-cawe-ikhtiar-ulil-amri-dan-keseimbangan-makrokosmis.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist