Anshar Aminullah

Setelah sempat terkena prank beberapa hari lalu, pemerintah akhirnya membuktikan ketidak konsistenan pada pernyataannya di beberapa media nasional awal Agustus lalu, bahwa BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan. Hanya berselang tiga minggu lebih, BBM bersubsidi rupanya naik dan pemerintah kembali mencoba menenangkan khalayak dengan kalimat “ini pilihan sulit”. Ironi memang, sebuah pilihan kurang tepat disaat kondisi ekonomi banyak orang di negeri ini semakin sulit.

Rasa-rasanya baru beberapa hari lalu semangat kebebasan menggema diseluruh penjuru negeri dalam peringatan 77 Tahun Indonesia merdeka. Tengoklah kemeriahan orang-orang yang ikut lomba di tujuh belasan cabang tarik tambang beberapa minggu lalu. Ini adalah cerminan kekuatan rakyat secara lahiriah, dan cerminan kekuatan bathin sebagai rakyat, saat dideoan mata mereka, tambang-tambang besar dikuasai oleh segelintir orang untuk memperkaya dirinya, sementara rakyat sendiri hanya bisa menikmati dan bahagia dengan lomba tarik tambangnya.
Tak soal, kita memang selalu banyak belajar dari kesulitan-kesulitan yang diakibatkan oleh penjajah dimasa lalu, dan oleh para penjarah kekayaan negeri dimasa kini.

Euforia dirgahayu kemerdekaan

Masih terasa hingga sekarang. Dan pemerintah memberikan berita kado spesial beberapa hari setelah penghujung Agustus dan menyerahkan bingkisan kenaikan harga BBM bersubsidi di awal September. Sebuah bingkisan yang mungkin akan banyak merubah kondisi perekonomian orang-orang yang masih terus berusaha pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat pasca pandemi ini.

Kondisi membaik tentu menjadi harapan pasca penetapan harga baru BBM ini. Namun naiknya harga untuk barang-barang lain akan sulit terhindarkan, dan ini pasti akan berimbas pada kelangsungan hidup masyarakat yang masih berada dalam garis kemiskinan . Bantuan Langsung Tunai hanya akan menjadi solusi sesaat. Dan setelahnya, penerimanya akan kembali bergelut dengan kerasnya kehidupan oleh karena BLT tak akan pernah mampu mengcover kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Sementara secara global, ancaman resesi telah diperingatkan bank dunia. Kesiapan Indonesia pun banyak yang mempertanyakan perihal sampai dimana kekuatannya untuk bertahan menghadapi ancaman tersebut. Tak main-main, 60 negara diprediksi akan ambruk ekonominya, Indonesia masuk dalam list tersebut, dan pemerintah sepertinya memulai memberikan penguatan dengan ikhtiar menaikkan harga BBM. Anggaplah seperti itu, sebuah penguatan yang secara tak langsung justru tak sedikit orang yang mungkin merasa dilemahkan atas kebijakan itu sendiri.

Kita memang ditakdirkan menjadi bangsa yang kuat, ini bisa terlihat pada kemampuan ikhlas dan tetap mendukung pemerintah sesulit apapun kondisi kita. Hal yang teramat sulit memang mendapati rakyat yang tulus dan sebaik rakyat Indonesia. Kita tak seperti Myammar, Pakistan, dan Sri Lanka yang saat tak mampu bertahan dengan kesulitan ekonominya, dengan people powernya menggulingkan pemerintahan yang tak becus mengurus negeri. Sesulit apapun keadaan tetap saja masih banyak yang mengelu-elukan hebatnya pemerintah dengan kebijakannya yang dianggap merakyat.
Tak banyak yang dapat kita perbuat selain pasrah dan banyak mempersiapkan diri untuk menyaksikan bagaimana kedepan daya tahan bangsa ini menghadapi resesi perekonomian dunia yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Meskipun kita masuk dalam 15 negara yang berpotensi besar terkena resesi global, namun masih saja pemerintah tetap berupaya menenangkan kita semua dengan tidak membuat kepanikan massif tepat disaat kita justru berada dalam sebuah ancaman serius.

Indonesia memang “Ojo dibandingke” dengan negara lain. Peradaban kita dimasa lalu telah membuktikannya. Walaupun berakhir dengan ‘kepunahan’ namun selalu lahir peradaban baru yang jauh lebih maju di tempat lain di nusantara ini beberapa ratus tahun setelahnya.
Semoga saja ancaman resesi ekonomi secara global ini bukanlah peristiwa yang akan mengantarkan kita diujung ‘peradaban’ baru negeri ini. Karena kita percaya bahwa masih banyak di negeri ini orang-baik dan jujur serta mumpuni yang bisa membawa bangsa ini menjadi lebih baik dan Sejahtera dalam makna yang sesungguhnya.

Artikel ini telah tayang sebelumnya, selengkapnya https://herald.id/2022/09/04/akhirnya-naik-juga/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist