Beberapa minggu ini jagad maya dihibur oleh sebuah video pria remaja asal Jeneponto dengan idiom terkenalnya “Pakingtaki”. Video ini terlihat biasa saja dalam hal pengambilan gambarnya, resolusi videonya tak begitu tajam, pengaturan auto fokus dan perhitungan pencahayaan jauh dari kata profesional, wajah objeknya pun jauh dari kata fotogenik. Meski pada prinsipnya dijaman sekarang cakep itu relatif, tergantung setting auto beauty aplikasi kamera 360.
Aldi Pakintaki tidak seperti remaja di kelas ekonomi lainnya, ataukah kelompok-kelompok status yang berlandaskan pada ikatan subyektif antara para anggotanya yang terikat menjadi satu oleh karna gaya hidup yang sama, serta berjuang untuk mempertahankan perasaan superioritas terhadap mereka yang tidak termasuk dalam lingkaran sosialnya. Dia adalah anak muda yang mewakili kelas sosial terbawah yang kreativitas dan keunikannya kadang membutuhkan yang namanya faktor keberuntungan agar bisa mengantarkannya pada kesuksesan dengan masa berlaku sejenak.
Aldi Pakintaki dalam pengamatan kita secara langsung, baik dari video yang dia buat sendiri maupun dari wawancara sebuah podcast salah seorang selebgram Makassar, akan terlihat, bahwa apa yang dilakukannya cenderung menegaskan bagaimana dia berada dalam sebuah kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Diumur yang masih anak-anak sudah tak dirawat oleh kedua orang tuanya. sang ibu ke Kalimantan dan sang ayah tak dia ketahui kemana rimbanya.
Tanpa bimbingan kedua orang tuanya secara langsung yang kemudian berimplikasi pada perkembangan mentalitasnya. Cara pemilihan diksinya yang cenderung monoton, membuatnya kadang menjadi bingung sendiri dengan apa yang hendak dia utarakan. Meski pada akhirnya justru itulah yang membuat para nitizen merasa terhibur.
Dia dendam dan masih sakit hati jika harus bertemu dengan kedua orang tuanya. Pendidikannya menjadi tak terurus, dia putus sekolah sejak SD. Rumah yang dia tempati memang sangat memprihatinkan oleh karna kondisi ekonominya yang memang jauh dari kata berkecukupan. Dia pada akhirnya harus menumpang dirumah tetangganya yang berbaik hati padanya. Masih ada segudang kisah pilu dalam kehidupan remaja hitam manis ini yang mungkin belum dia ungkap, kisah yang mungkin akan menguras emosional banyak orang yang mendengarnya.

Latah Sosial?

Istilah latah sosial sangat dekat dengan sebuah kondisi atau suatu fenomena sosial yang terjadi kepada suatu individu saat hendak bertindak dan bereaksi terhadap suatu kejadian dan menjadi suatu kebiasaan. Dia acapkali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, bisa dalam budaya, bisa juga dalam keterikatan sosial, maupun pergaulannya dan dilakukan secara spontanitas.
Konsep-sebab spontanitas ini tumbuh dari pengalaman bersama yang terdapat pada individu-individu mengenai ungkapan simbolik yang hadir dan menghasilkan suatu akibat tertentu dalam kehidupan emosional mereka secara kolektif.
Tak sedikit yang justru tidak faham apa arti dan maksud dari ‘Pakintaki’ ini. Namun karena tak ingin tercap tak mau ketinggalan serta ikut meramaikan, mereka juga ikut menjadi bagian mempopularitaskan istilah ini. Pakintaki yang dalam bahasa Indonesia yang paling mendekati adalah sejenis kata perintah untuk membuat kaget seseorang atau jika dia benda maka dia harus diberikan stimuli awal berupa gerakan dorongan tenaga full sepersekian detik agar bisa ada respon.
Tematik idiom Pakintaki bertahan selama tiga minggu. Dikesempatan itu mungkin kita berfikir, bahwa tindakan orang lain yang tetap berkutat pada kondisi latah sosial sama sekali tidak masuk akal. Namun pembenaran yang dilakukan melalui alasan bahwa “ini trend sesaat saja dan tak usah diambil pusing”, membuat kita menjadi heran kalau pembenaran seperti itu sebenarnya merupakan rasionalisasi tentang tindakan yang diberikan dengan alasan berbeda.
Berkutat dengan latah sosial merupakan tindakan non logis yang lalu dirasionalkan menurut motif-motif yang dapat diterima secara sosial. Meskipun beberapa substansi latah mengalami beberapa kondisi berakselarasi dengan jaman, tak seperti pada versi awal Geertz (1968:96), latah pada permulaanya dianggap sebagai bentuk keterpanaan (startling), peniruan, dan sekaligus bentuk pengejekan (mimicry) kepada kaum kolonial yang berbeda secara fisik dengan pribumi.
Sebagai catatan penting dari fenomena ini, bahwa Aldi Pakintaki dengan segala keterbatasannya telah membuka mata kita lebih lebar lagi, bahwa minimnya kesempatan mengecap pendidikan diberbagai tingkat, wajah yang tak mesti mirip artis, berasal dari pelosok kampung, itu bukanlah halangan. Dia bisa menjadi modal sebuah kepopuleran, disaat keberuntungan telah berpihak pada kita. Idiom Pakintaki telah menjadi sangat populer di era digital, walaupun pada realitasnya mungkin telah menggiring tak sedikit warga net yang menjadi ‘latah sosial’ tapi tetap merasa seolah semuanya normal dan tidak terjadi apa-apa. Wallahu A’lam.

Artikel ini telah dimuat di https://sulsel.herald.id/2022/02/23/pakintaki-latah-sosial-di-era-digital/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist