Mahasiswa semester 3 itu akhirnya berhasil meyakinkan Prof Basri Hasanuddin, sang Rektor kala itu, agar membantunya lewat rekomendasi untuk beasiswa Yayasan Latimojong. Andai saja beasiswa itu tak didapatkannya, mungkin dia akan kembali kekampung untuk bertani sebagai pilihan terakhir oleh karna ketaksanggupan sang ayah yang hanya seorang pensiunan TNI membiayai 9 orang didalam keluarganya. Demikian sebuah ungkapan tulisan di WAG tepat beberapa jam setelah sang anak tak kenal menyerah itu ditetapkan sebagai Rektor terpilih Universitas Hasanuddin suksesor Prof Dwia yang akan segera menyelesaikan masa baktinya di periodenya yang kedua.

Jamaluddin Jompa. Sosok yang ternarasikan dalam Wikipedia, sebuah sejarah singkat perjuangan hidupnya menggarap sawah sepulang dia bersekolah. Tak mudah memang menggantungkan cita-cita yang tinggi dengan hanya bermodalkan gaji pensiunan TNI. Hanya orang-orang tak kenal menyerah lah atau bahkan terkategorisasi nekad yang punya harapan setinggi langit buat mengenyam pendidikan hingga level di perguruan tinggi. Kita mungki bisa bersepakat, bahwa kita tak bisa memulai impian dengan sebuah keraguan total. Kita harus memulai dengan prasangka baik pada Allah. Menanamkan spirit tersebut diatas memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Pilihan model tindakan yang hanya punya tekanan kecil dapat dipastikan sebagai sebuah pilihan kurang tepat dan tak akan cukup untuk mengantar seseorang sampai dilevelan jabatan bernama Rektor. Butuh kajian panjang lebar untuk menjelaskan secara detail, bagaimana seorang anak kampung, yang untuk fokus bersekolah di satu tempat saja sulit, oleh karna mesti harus mengikuti sang ayah dimanapun dia bertugas. Bukankah bersosialisasi dengan kultur yang sedikit berbeda ditiap daerah butuh waktu? Namun pengecualian mungkin berlaku bagi seorang anak bernama Jamaluddin Jompa (JJ) itu. Justru hal demikianlah yang besar kemungkinan membuatnya menjadi lebih kaya dengan pelajaran kultur antar etnik dari khasanah budaya kita.

Orientasi yang gamblang menuju sebuah capaian akhir pada puncak karier struktural dalam sebuah perguruan tinggi semacam ini, memang tak umum dilakukan oleh anak bangsa kelas menengah. Apatahlagi dia berada dilevel kelas bawah. Namun apa yang dilakukan dan akhirnya dicapai oleh seorang Prof JJ telah menegaskan, bahwa persepsi kita sendiri ini dibentuk oleh kapasitas personal kita yang ditempa oleh keadaan sulit. Kepekaaan kita merespon setiap level kesusahan, akan mengarahkan kita pada satu garis tindakan yang jelas menuju satu tujuan yang tunggal, yang dinamai Keberhasilan. Nama JJ akan selalu menjadi kebanggaan anak bangsa kelas bawah yang tak pernah berani bercita-cita tinggi dalam dunia akademik. JJ akan menjadi simbol dalam banyak makna “Jangan Jumawa, Jempolan dan Jenius, atau mungkin Jawaranya orang Jelata. Yang jelas, bahwa sosok Prof JJ adalah figur yang telah berhasil mengembangkan konsep kepandaian kreatif, sanggup mengaitkan ide-idenya sebagai sebuah ilmuwan dan cendikiawan. Prof JJ telah menjadi figur sentral dan strategis milik almamater dan ummat. Dan Prof JJ adalah pesan tegas Tuhan dari Langit untuk anak bangsa kelas bawah “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”.

Artikel ini telah ditayangkan sebelumnya di https://sulsel.herald.id/2022/01/29/prof-jj-pesan-langit-untuk-anak-bangsa-kelas-bawah/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist