Beberapa hari ini, netizen Indonesia dikagetkan dengan video singkat penganiayaan seorang remaja anak petinggi sebuah Ormas terkenal. Tidak tanggung-tanggung, adegan yang diperlihatkan cukup menyulut emosi oleh karena tindakan ekstrem kepada orang yang tak berdaya, yang diperlihatkan oleh anak seorang pejabat di Ditjen Pajak. Namanya MD, pria remaja yang tersulut emosi oleh karena bisikan wanita cantik yang menyimpan kenangan manis pada kedua pria yang kini sama-sama bernasib malang itu. Wanita ini memang terkenal sebagai seorang Princess di sekolahnya. Anugerah paras ayu dan cantik, ditambah senyum manis, yang mampu membuat dua orang pria untuk saling menyakiti. Satunya harus berurusan dengan hukum, dan satunya lagi masih berada dalam status koma di ICU hingga detik ini.

Ulah wanita belia ini, sanggup menggiring secara serentak nyaris satu Indonesia “pada sisi mana kita akan menempatkan harga sebuah cinta?”. Dia menjalin cinta dengan MD setelah tak lagi bersama D, pria yang tak lagi dia sebutnya sebagai kekasih dan hanya bisa menorehkan sebagian kecil dari fragmen kenangannya. Agnes mengungkap cerita kenangan yang coba dia ulang dengan D, pada sebuah pertemuan singkat yang dia bungkus dengan nama pelecehan. Saat MD mendengar cerita sepihak tersebut, dia menjadi kehilangan akal sehat, lalu dengan sengaja menjatuhkan dirinya terhempas dari ekstase jiwanya dan seluruh harapannya dia lumpuhkan. Sebuah pilihan bodoh, yang pada akhirnya nyaris menghilangkan harga keseluruhan hidup yang dia miliki beserta keluarganya.

Penganiayaan itu pun terjadi. Dan entah apa yang membuat salah satu di antara mereka di TKP, merekam adegan kekerasan yang kemudian menjadikan warga netizen di Indonesia semakin geram. Mungkin hukum alam yang sedang berlangsung, bahwa sekuat apapun kejahatan disembunyikan, dia tetap akan terkuak memperlihatkan dirinya secara gamblang, bahwa kebenaran akan selalu menang di penghujung cerita. Kepalsuan yang diceritakan Agnes, pada akhirnya membuat khalayak seperti menemukan titik kesalahan dari sebuah kode cinta di setiap intonasi retorik, yang dibisikkan ke telinga MD. Hastag #pajakuntukbelirubicon dan berbagai hastag dengan tema serupa bermunculan, dan tak pelak membuat banyak pihak yang jadi kebakaran jenggot. Dua orang menteri bahkan ikut manjadi bagian kisah ini. Menteri Keuangan dengan tegas mengeluarkan kebijakan yang berimbas pengetatan pemeriksaan laporan kekayaan pejabat pajak. Mereka terkena getah dari kisah yang mereka sendiri tak pernah paham dan duga. Dan klimaksnya, ayah MD diberhentikan dari jabatannya dan pasrah menjadi bulan-bulanan netizen. Sementara Menteri Agama pasca membesuk korban D, dengan tegas mengungkapkan rasa sedihnya diiringi kalimat bahwa anak anggota dari ormas yang dipimpinnya adalah anaknya juga. Kalimat yang makin membuat drama karya Agnes Gracia Haryanto semakin memacu adrenalin siapapun yang mengikuti setiap episodenya. Wanita belia ini memang berhasil menempatkan dirinya sebagai cahaya cinta yang gelap dan menggelapkan cahaya cinta lainnya. Apa yang telanjur dilakukannya, telah menyadarkan khalayak tentang berbahayanya cerita yang tidak digali kebenarannya dari dua sisi. Peristiwa ini mengajarkan bagaimana cinta buta menghabisi kekuasaan dan kekuatan banyak pejabat, yang selama ini tenang dan nyaman di zona aman. Berikutnya

Pasca peristiwa ini, kita menaruh harapan di masa depan, agar Agnes dapat menjadi pribadi yang jauh lebih bijak dan penuh kasih dalam mendidik anak-anaknya kelak. Meskipun pada masa sekarang ini, seorang Agnes selain telah mampu membawa dua orang pria yang istimewa di hatinya terjebak menuju jalan berujung tragedi. Agnes juga telah menasbihkan bagaimana berbahayanya sebuah penaklukan sempurna dari seorang wanita yang datang dengan cinta penuh hasrat, dan menjadikannya sebagai senjata yang paling tajam dan mematikan.

Baca berita ‘Agnes di Antara Cinta Buta, Harta dan Takhta yang Terkena Getah’ selengkapnya https://herald.id/2023/03/01/agnes-di-antara-cinta-buta-harta-dan-takhta-yang-terkena-getah/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist