Beberapa hari lalu media diramaikan dengan pernyataan beberapa tokoh penting level nasional. Seperti sebuah getaran suara dari bukit Hambalang, mereka mengungkap perihal janji beberapa tahun lalu. Konon, janji itu pernah diucapkan salah satu bakal calon Presiden RI, yang beberapa hari lalu resmi menggenggam tiket pencapresannya. Bakal calon Presiden ini, katanya pernah berjanji tak akan maju selama tokoh yang pernah memenangkannya, masih memiliki niatan yang sama. Dan kubu calon tersebut pun membantah halus soal isi perjanjian itu. Bukan begitu konteks substansi isinya, menjadi pilihan jawaban baliknya. Memang bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan tiket seperti ini. Diperlukan seabrek kualitas mumpuni, kredibilitas, kapabilitas, prestasi dan reputasi. Dan satu dari sekian juta orang di negeri ini, belum tentu memiliki syarat tersebut. Saat bicara tiket Capres, maka wajib bagi calonnya berjalan di jalanan yang disediakan parpol dengan berbagai persyaratan di dalamnya. Adapun kekecewaan ataukah keberhasilannya dihasil pilpres nanti, itu lain soal. Yang jelas, nama dan gambarnya akan tetap masuk dalam helai di lembar konstitusi negara. Terlepas dari benar apa tidaknya soal janji tersebut, sebagai rakyat biasa, hal ini mungkin pernah terprediksi dan teranalisa lebih awal oleh kalangan elite di lingkaran mereka, serta para pengamat dengan tingkat kemampuan mengeksplorasi isu di atas rata-rata. Sedangkan rakyat kecil dengan segala keterbatasan pengetahuannya, terkadang mengalami jenis kesulitan yang lebih besar. Misalkan saja, kemampuan memprediksi bukan menganalisis. Dan dalam analisis ala kadarnya, acapkali juga menghadapi banyak masalah, yang meskipun dapat menjelaskan dengan lebih baik apa yang sudah terjadi atau sedang terjadi, ketimbang memprediksi apa yang akan terjadi. Keuntungan menganalisis di levelan dangkal, jauh lebih aman dibanding memprediksi. Sebab, memprediksi perbedaannya dengan meramal itu setipis tisu. Dalam berbagai nasihat tertulis agama Islam, meramal itu kan mendekatkan kita pada kemusyrikan. Indikasi janji kedua orang dengan kepentingan sama di kubu yang berbeda ini, tetap memiliki efek-efek sosial dan politik jangka panjang yang masih terasa hingga saat ini.

Harus diakui, kebiasaan berjanji dalam dunia politik kita di Indonesia ini, masih hadir ketika kondisi tradisi dalam akar budaya kita mulai memudar. Berjanji dan wajib menepati, tak menepati merupakan ‘pengkhianatan’ terhadap tradisi dan harga diri. Ini adalah karakter asli warisan para leluhur kita. Gerak zaman terus melaju dan terus berubah. Mungkin saat ini proses tradisionalisasi yang baru dibutuhkan sekali lagi untuk mengamankan kekuatan pengikat sosialnya, dan justifikasi-justifikasi diskursif, juga dibutuhkan untuk menjamin pola baru tersebut. Berjanji dalam sebuah momentum besar dalam dunia politik di negeri ini, saat ini juga belum didukung iklim sebuah sistem politik yang tepat. Berjanji mungkin lebih tepat hadir saat sebuah sistem politik tidak berfungsi dalam pengertian yang naturalistik, melainkan sebagai tindakan-tindakan sosial yang saling bergantung dan penuh makna yang diorientasikan menuju pengambilan keputusan kolektif.

Kita bisa mengatakan, suatu sistem telah memenuhi fungsinya apabila putusan-putusan kolektif yang lahir dari kebutuhan-kebutuhan, yang terartikulasikan bisa diraih lewat interaksi-interaksi politis, yang saling bergantung dan dikelola secara normatif. Para tokoh yang berada dalam tagih menagih janji ini, berada dalam semacam ujian akan ketangguhan, moralitas dan integritas. Biarkan waktu yang menjawab perihal isi maupun ada tidaknya perjanjiannya.

Namun yang pasti, dengan bermodalkan moralitas dan integritas di level rendah pun Indonesia tetap menjadi bangsa yang besar.Kedua tokoh ini serta beberapa tokoh-tokoh hebat di sampingnya, harus memperlihatkan ketangguhan kualitas manusia Indonesia khususnya dalam momentum berkompetisi dan berkontestasi pada Pilpres 2024 nanti. Sebab jika mereka tak mampu memperlihatkannya, dalam pusaran dinamika politik inilah akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar, namun semakin tidak mengerti akan dirinya sendiri.

Baca berita ‘Menagih Janji di Bukit Hambalang’ selengkapnya https://herald.id/2023/02/04/menagih-janji-di-bukit-hambalang/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist