Tepat dinihari waktu Jakarta, saat waktu menunjukkan pukul 00.20 di tanggal 25 November 2022. Beberapa WAG muncul gambar beserta ucapan Selamat Ulang Tahun yang ke 49. Seluruh group WA saya yang menerima gambar tersebut begitu antusias memberikan ucapan. Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak jaman Blackberry Messanger masih merajai dunia chat di Indonesia. Saya cukup kenal dengan wajah itu, bahkan sangat kenal sejak 15 tahun yang lalu. Kami memanggilnya ketua Ciwang. Panggilan akrab kami yang mampu merekatkan setiap bagian dalam struktural yang dipimpinnya kala itu.

Memimpin berbagai organisasi, termasuk DPD KNPI Sulawesi Selatan dengan segala kebijakan yang dilahirkan, mampu membuat stabilitas KNPI di tingkat Propinsi, Kabupaten/ Kota, Kecamatan bahkan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) kala itu mampu bersinergi dalam membangun kepemudaan di Sulawesi Selatan.

Setiap keputusan dan kebijakan organisasi yang dikeluarkannya selalu mampu menjadi solusi dari setiap kebuntuan yang sulit terselesaikan. Selain faktor didampingi oleh pengurus dengan pengalaman yang cukup mumpuni diperiode tersebut, kemampuan Ilham Syah Azikin membuat keterlekatan emosional disemua pengurus menjadi modal besar dalam menahkodai organisasi ini selama 3 tahun. Awalnya saya hendak menceritakan beberapa kisah berkesan selama mendampingi dalam kepengurusan yang dipimpin. Namun saya mengurunkannya, karena saya yakin bahwa disetiap orang yang pernah bersentuhan dengannya pasti memiliki cerita yang berkesan dan sulit untuk dilupakan. Sesuatu yang memang cukup jarang dimiliki oleh banyak Top Leader di level kepemudaan.

Kemampuan meninggalkan kesan positif yang mendalam, yang disetiap saat jika melihat hal-hal yang berkaitan dengan program diperiodesasi saat dia memimpin KNPI, tak sedikit yang selalu menyebutkan namanya yang telah berhasil menanamkan tradisi positif dalam kepemudaan di Sulawesi Selatan hingga hari ini.

Tak Banyak Berubah

Jika hendak mencari perubahan dari seorang Ilham Syah Azikin sejak menjabat menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bantaeng, maka mungkin itu adalah hal yang cukup sulit didapati. Selain hanya wajah beliau saja yang berubah dengan sedikit kerutan oleh karena hampir sepanjang waktu mempersembahkan segenap energi yang dimilikinya untuk kebaikan Umat di Butta Toa, Bantaeng. Karakternya yang selalu membuat keheningan menjadi gelak tawa oleh karena kemampuan melucunya yang khas, ringan tangan membantu segala kesulitan yang mendera teman-temannya bahkan orang yang tak begitu dikenalnya.

Kemampuan brillian dalam menghadirkan ide-ide untuk kemajuan daerah, tak pernah hilang bahkan silaturahminya tetap intens walau ditengah kesibukannya menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten yang dipimpinnya.
Wajah Bantaeng kini tetap bisa eksis berbicara lebih di level Nasional dengan berbagai penghargaan yang diterima. Pesimistis yang hadir saat peralihan estafet kepemimpinan dari Nurdin Abdullah, dimana tak sedikit yang meragukan kemampuannya dalam menjaga stabilitas pembangunan dan prestasi Bantaeng di Level Nasional, mampu dia jawab dengan prestasi dan kinerja yang bagus disegala sektor, lewat jejak digitalnya bisa mempertegas pernyataan ini.

Hampir seluruh pertanyaan saya ke ketua Ciwang selalu dia jawab, mulai dari nada serius hingga nada yang selalu mengundang gelak tawa oleh siapapun yang mendengarnya. Namun ada satu pertanyaan saya yang hanya dia jawab dengan senyuman simpul. Saat saya menyampaikan, bagaimana keberhasilannya dalam membangun kepemudaan di Sulawesi Selatan saat dia menjabat ‘Gubernurnya’ Pemuda Sulsel dalam kapasitas Ketua DPD KNPI. Saya bertanya sambil memperhatikan sorot matanya yang tetap penuh optimisme “Ketua Ciwang, bukankah dengan menjadi Gubernurnya Masyarakat Sulsel akan menjadi ruang yang lebih luas dalam memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakat, dan bakti itu telah ketua buktikan di level kepemudaan dan dilevel pemerintahan Kabupaten. Adakah niatan baik ini muncul dalam beberapa tahun ini?”. Beliau hanya tersenyum simpul tanpa jawaban sepatah kata pun kala itu. Dan hanya orang-orang terdekatnya yang selalu mampu menafsirkan setiap gestur yang dia tunjukkan.

Terlepas dari apapun yang menjadi niatan politik seorang Ilham Syah Azikin, dia akan selalu mendapat support dan dukungan sepenuh hati dari berbagai kalangan yang pernah berinteraksi langsung dan tak langsung dengannya. Ini bisa jadi karena selama ini diapun membangunnya tanpa pernah mengharapkan imbalan, murni karena dorongan rasa kemanusiaan dalam dirinya.
Sosok Ilham Syah Azikin dimasa yang akan datang akan menjadi cerita tersendiri bagi anak muda yang pernah terdampak dari keberhasilan Visi kepemudaannya “Terwujudnya Pemuda Kreatif Yang Berwawasan Kebangsaan Menghadapi Persaingan Global”, tepat di 15 tahun lalu. Bahwa jika hari ini dan esok para generasi di Sulawesi Selatan yang masih memegang teguh wawasan kebangsaannya dan mampu menjawab tantangan zaman di era persaingan global saat ini, maka nama Ilham Syah Azikin tak boleh dinafikan, dia harus tetap tercatat rapi dalam tokoh yang menginspirasi dan membawa dampak positif akan hal diatas, khususnya bagi keberlangsungan regenerasi pemuda di Sulsel hingga hari ini. Namanya boleh saja menjadi milik rakyat Bantaeng untuk hari ini, namun Ilham Syah Azikin akan tetap menjadi milik anak muda Sulsel untuk selamanya.

artikel ini telah tayang sebelumnya di :
https://makassar.tribunnews.com/2022/11/27/pemimpin-kharismatik-itu-bernama-ilham-ciwang-azikin-gubernurnya-pemuda-sulsel

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist