Anshar Aminullah

Satu persatu kedatangan rombongan jemaah haji asal Indonesia telah sampai di tanah air. Tak terkecuali rombongan jemaah dari Sulsel. Mereka telah mencukupkan rukun kelima tanda memeluk Islam secara kaffah yakni berhaji bagi yang mampu.
Takdir Tuhan telah membawa mereka ke tempat-tempat mustajab di tanah suci Mekah-Madinah selama bulan Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Mereka memulai sebuah titik perjuangan berupa niat ibadah, menabung, menunaikan dan pada akhirnya kembali dengan selamat ke tanah air.

Kedatangan mereka mendadak menjadi viral. Cukup banyak yang terlihat menarik perhatian. Sekelompok ibu-ibu berpakaian khas ibu haji dari Bugis-Makassar.
Make up serta aksesoris yang mereka gunakan, plus aura yang terpancar dari wajah mereka, semakin menegaskan betapa ibadah haji itu merupakan ibadah yang luar biasa efeknya. Mereka semua telah bertamu dan bertemu dengan Allah tanpa proses birokrasi yang ribet seperti saat mengurus KTP di negeri +62. Mereka langsung memuja dan memuji Allah tanpa melalui perantara. Berhaji telah membawa mereka ketitik tertinggi dimana Allah yang langsung berurusan soal ganjaran pahala dengan para jamaah ini.
Mungkin saja beberapa diantaranya baru saja memindahkan Tuhan ke tangan dan hati mereka, semacam mendadak religius, bergaya saleha, ikut majelis taklim, menjadi lebih peka terhadap nasib orang miskin dan anak yatim di panti asuhan, namun tetap peka dengan tak memberikan ruang bagi panti pijat plus yang terkadang menggoda imam suami mereka. Tapi di Islam proses terakhirlah yang akan menjadi penentu. Yakni sampai dimana keimanan kita melekat saat ajal diujung tenggorokan.

Aksesoris yang melekat mulai dari emas hingga sutra dan kebaya mahal yang mereka gunakan menjadi daya tarik tersendiri. Mereka tampaknya nyaris tak pernah mengalami situasi psikologis yang cukup kompleks berupa malu menampilkan tanda-tanda solehanya dan kecenderungan hedonisnya. Tetapi apa yang kita saksikan ini tak serta merta membuat kita boleh menuduh mereka pamer dan sombong. Karena bisa jadi mereka justru jauh lebih bisa menempatkan tawadldlu dan husnudzdzan jauh lebih baik dari kita yang berpakaian sederhana, dengan tanda hitam bekas sujud di dahi, namun masih gemar berprasangka buruk terhadap sebuah hubungan penyebab adu tembak dengan korban pertama CCTV.

Kita mesti bersyukur atas apa yang kita saksikan pada para tamu-tamu Allah ini, seraya mendoakan semoga fenomena ini bisa meningkatkan kualitas keimanan kita, dan pada mereka bisa mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam mekanisme sistem pada struktur dimana keterlibatan mereka sebagai manusia yang telah ‘menyempurnakan’ rukun Islam dengan mentalitas yang siap patuh, tunduk pada ketentuan Allah yang termaktub dalam sumber-sumber hukum Islam.
Saya sendiri mencoba untuk tidak terlalu bersikap berlebih atas kedatangan para ibu-ibu haji berfashion mahal ini. Sebab saya masih memiliki satu pekerjaan, yakni mencoba mencarikan solusi bagi teman saya yang justru makin pusing dan bingung dengan kembalinya jemaah haji ini.
Pasalnya, perempuan yang akan dipersuntingnya adalah gadis kampung sebelah, seorang dokter cantik yang bertugas di salah satu rumah sakit pemerintah berstatus sebagai ASN. Dia adalah anak tunggal dari seorang tuan tanah dan pengusaha sukses dibidang properti. Dokter cantik ini baru saja tiba beberapa hari lalu dari tanah suci sebagai bahagian jemaah haji tahun ini.
Bisa dibayangkan bagaimana tema uang panaik teman saya ini akan menjadi tantangan tersendiri yang akan mengurangi nafsu makan dan meningkatkan konsumsinya pada obat sakit kepala. Sebab ibu hajjah dokter ini, yang secara spiritualitas jelang tuntas, dan balutan fashion klasiknya sebagai Ajji Lolo (haji muda) telah membuat saya sampai di kesimpulan awal, bahwa Saya tak bisa membantu banyak pada teman saya, kecuali menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari dua hal, Baygon dan Silariang.

  • Artikel ini telah tayang di Herald Sulsel dengan judul ‘Ibu Haji dan Spiritualitas Dalam Balutan Fashion Tradisional-Klasik’ selengkapnya https://sulsel.herald.id/2022/08/05/ibu-haji-dan-spiritualitas-dalam-balutan-fashion-tradisional-klasik/

  • By Anshar Aminullah

    Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist