Perhelatan Musyawarah Nasional ke XI KAHMI yang akan berlangsung 24 – 28 November 2022 di Palu, Sulawesi Tengah dalam hitungan jam akan segera dimulai. Momen akbar ajang silaturahmi dan konsolidasi para alumni ini, menjadi wujud bangunan solidaritas hijau-hitam untuk berkonstribusi membangun negeri.

Mengadaptasi Solidaritas model Durkheim, bahwa hadirnya faktor pengikat disebabkan dalam masyarakat terdapat suatu kesadaran bersama, baik dalam dimensi interaksi, interelasi, dan dimensi interdependensi. Hal inilah yang membuat proses bermasyarakat hadir yang dinamakan solidaritas (Organik dan Mekanik).

Mewujudkan kesadaran bersama dan melahirkan solidaritas menjadikan Munas KAHMI ini sebagai momentum yang tepat. Kesadaran bersama dan solidaritas, barangkali istilah “Sinergitas” menjadi makna yang paling mendekati kedua hal diatas.
Sinergitas merupakan sumber penyatuan visi, sebuah bangunan optimis dan dorongan positif manusia. Ini bisa menjadi pangkal ikhtiar para kader HMI yang telah purna untuk bergerak menuju perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini.
Tidak mudah memang mewujudkan kesatuan visi dalam upaya membangun peradaban baru Indonesia. Semua elemen potensi tidak akan mudah menyatu dalam dorongan totalitas. Ini bisa berdampak pada mandeknya di tengah jalan ikhtiar tersebut. Dia bisa berakhir sebagai sebuah tema yang situasional saja, yang pada akhirnya akan redup sendiri, tepat setelah terpilih Presidium baru hasil Munas XI. Terkecuali ikhtiar tersebut dibangun dari totalitas dan kesadaran bathiniah. Kesadaran yang menjadi energi yang tak pernah redup, energi yang tanpa batas yang lahir dari kalimat ikhlas “Yakin Usaha Sampai”.

Dalam perjalanannya, KAHMI perlahan namun pasti telah keluar dari stigma “setingkat dibawah arisan”. Dimana dulu organisasi ini kerap dianggap sebagai tempat berkumpulnya para alumni, sekedar melepas kangen, soal diskusi dan ide yang dihasilkan anggaplah sekedar bonus. Konsolidasi yang intens dari beberapa tahun lalu melalui kegiatan KFJS (Kahmi Forever Jalan Santai) di berbagai Kabupaten/ Kota se-Indonesia mampu melahirkan sebuah solidaritas dan keterlekatan yang sangat kuat antar alumni lintas generasi dan antar alumni lintas Propinsi.

Berakselarasi dengan Zaman

Kemajuan teknologi telah membawa manusia ke sebuah era yang menakjubkan. Era ini bisa membebaskan kita dalam keterbatasan sebagai manusia untuk ‘menaklukkan alam’. Namun ini juga berpotensi menjadi objek penyembahan baru, sebuah berhala modern yang justru dihasilkan oleh kemampuan menakjubkan manusia yang kita sebut teknologi. Meskipun semua tetap kembali pada “The Man Behind The Gun”. Olehnya itu kemajuan teknologi harus ditempatkan sebagai kebutuhan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat pada sisi kemanusiaan kita. Dan KAHMI seyogyanya mengambil peran edukasi berkesinambungan keseluruh lapisan masyarakat, agar tak tersesat dalam jalan terang, tepat disaat kemajuan inovasi sedang giat-giatnya.

Satu hal penting yang tidak boleh terlupa. Momentum hajatan demokrasi di negeri kita dua tahun kedepan. Menjadi sebuah keharusan bagi para kader untuk mengambil sebuah peran strategis dalam upaya menegaskan posisi dan nilai tawar HMI dimomentum 5 tahunan ini. Apatahlagi salah satu kader terbaik HMI sementara ini bisa dipastikan dan hampir tak terelakkan kehadirannya dalam pilpres sebagai salah satu calon dalam bursa 01 RI periode 2024-2029.

Kita menaruh harapan besar atas kehadiran salah satu kader terbaik HMI ini. Pilihan keikut sertaannya berkompetisi seyogyanya bukan hanya pada misi kemajuan tertentu yang ingin dicapai kembali oleh negeri kita ini, khususnya pada aspek peningkatan dan pemerataan kecerdasan anak bangsa diberbagai penjuru negeri. Kehadirannya sendiri kita berharap memiliki dampak positif bagi keberlangsungan hijau-hitam. Dan nantinya eksistensi KAHMI tidak hanya berkonstribusi maksimal pada gerak laju bangsa, namun KAHMI juga diharapkan mampu mendeteksi gejala sekecil apapun perubahan yang terjadi pada masyarakat kita, terutama yang berefek langsung pada pemuda/ pemudi dengan tidak hilangnya daya antisipasi serta inisiatif dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di Munas ini pula kita menanti lahirnya sebuah rekomendasi jelang tahapan pemilihan serentak di 2024. Perihal upaya mereduksi potensi terjadinya dinamika politik yang kurang santun dan mengabaikan sisi etika dalam implementasinya. Isyu politik identitas yang kerap dilemparkan oleh oknum yang dalam jejak digitalnya justru yang bersangkutan paling kental dalam pusaran politik identitas itu sendiri. Terlepas isyu politik identitas sebagai bagian dari strategi politik, azas kebermanfaatannya untuk kelangsungan berdemokrasi kita tetap perlu menjadi pertimbangan. Dalam kacamata saya dibeberapa bulan terakhir justru kehadiran isyu ini membuat kita cenderung terkotak-kotak dan memposisikan kelompok tertentu secara terpaksa untuk berada pada kondisi yang tak sehat dalam berdemokrasi.

Sebagai catatan penutup, Munas XI ini hendaknya tidak sekedar seremonial dan ajang mengenang kisah semasa mahasiswa. Saat meneriakkan kebenaran dan meneguhkan idealisme sebagai Insan akademis, pencipta, pengabdi. Tapi bagaimana membawa kembali semangat tersebut di era sekarang ini dengan tidak menghilangkan nafas Islaminya. Karena seringkali peradaban suatu bangsa dimulai dengan rasa bertanggung jawab akan bagaimana mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Yakinlah atas setiap usaha kita dalam sinergitas untuk bangkit membangun negeri menuju peradaban baru, bahwa Allah Swt akan selalu memberikan ridha-Nya bagi siapapun yang ikut bergerak di dalamnya.

Selamat Bermunas KAHMI. Yakin Usaha Sampai!

Artikel ini telah tayang sebelumnya di :
https://makassar.tribunnews.com/2022/11/22/refleksi-munas-xi-kahmi-sinergitas-dalam-ikhtiar-membangun-peradaban-baru

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist