Anshar Aminullah

Fenomena ini cukup unik. Yah jika kita bandingkan dengan balap motor liar ini justru lebih aman dan bisa jadi hiburan tersendiri di bulan Ramadhan.
Namun aktivitas taruhannya itu yang justru melenceng dari spirit bulan Ramadhan ini. Nominal yang kecil dan jenis taruhan yang tergolong receh misalkan saja rokok yang dilakukan oleh Sekelompok orang ini, yg kelihatannya lebih cenderung pada nuansa mencari hiburan dan bahan lucu-lucuan saja. Namun lambat laun jika masyarakat sekitar lokasi maupun pemerintah tidak mengontrolnya dengan baik, ini berpotensi menjadi judi dengan nominal taruhan yang terus bertambah, dan lambat laun daerah lain akan menganggap ini hal yg biasa saja dan akan mempraktekkan hal yang sama diakibatkan terjadi pembiaran selama ini. Sekecil apapun nilainya memang agama maupun norma sosial kita tak membenarkan ataupun membolehkan. Namun hal ini juga mesti kita lihat dalam perspektif lain. Misalkan saja, mengapa pemerintah tak membuatkan arena yang lebih safety dan representatif bagi para peserta ini. Bisa jadi selama ini beberapa diantara mereka ada ketakmampuan masuk dalam komunitas Runner yang memang membutuhkan biaya lebih pada aksesorisnya. Buat makan saja susah apatahlagi buat beli aksesoris seorang Runner, itu nggak main-main harganya. Bukankah pelari dengan style tradisional seperti balap lari ini justru menjadi peluang untuk mendapat atlit tanpa mesti bersusah payah menjalani seleksi. Hiburan balap lari ini saya pikir perlu ditertibkan dan diarahkan saja. Jangan dilarang sepenuhnya, kecuali mengganggu ketertiban dan keamanan pengendara lain saya kira itu lain soal.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist