Anshar Aminullah

Proses transformation atau penciptaan hal baru (something new) yang bisa jadi ini yang dinamakan New Normal. New Normal yang merupakan produk yang dihasilkan dari peristiwa Pandemi ini rupanya bukan hanya menghadirkan kebiasaan baru, kebiasaan yang harus tetap dalam Protap Covid-19 yang antara lain : Cuci tangan, menggunakan Hand sanitizer, memakai masker dan jaga jarak dalam aktivitas seperti biasa. Kebiasaan “Tidak Takut Corona tanpa Protap Covid-19” pun rupanya menjadi bagian terselubung dari konteks New Normal ini. Ironisnya, makin lambat kenaikan kasus makin takut masyarakat, makin cepat kenaikan kasus Corona justru masyarakat menjadi makin berani. Ini lucu dan unik, apa sesungguhnya yang tengah terjadi dalam masyarakat kita? Memang, Covid-19 yang menginfeksi puluhan ribu orang dan merenggut nyawa belasan ribu saudara-saudara kita diberbagai daerah adalah fakta nyata didepan mata. Namun situasi di Indonesia ini khususnya di Sulawesi Selatan bisa lebih buruk karna wabah berbanding lurus dengan peluang besar terjadinya krisis sosial dan tekanan ekonomi.
Dalam konteks yang lebih Mikro, ketakutan berlebih akan tekanan ekonomi pada masyarakat kita menghadirkan rasa Nekad “kita semua akan mati, namun jangan sampai Corona justru membuat kita mati kelaparan disaat kita menunggu ketakpastian melandainya kurva”. Idiom ini pada akhirnya menjadi pendamping stigma lain bahwa Pemerintah memang takkan pernah berhasil mengatasi dengan baik Pandemi ini. Jadi wajarlah jika tak sedikit masyarakat disekitar kita seolah tak peduli lagi dengan wabah ini, toh urusan perut keluarga adalah bagian dari harga diri yang perlu dipertahankan sampai mati, bukan menunggu mati dengan ketakutan terhadap Covid-19.

Artikel ini juga telah tayang di https://www.tagar.id/analisis-sosiolog-mengapa-orang-tak-percaya-corona

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist