Dua hari ini jagad maya di Indonesia marak soal kontroversi analogi suara Speaker masjid dengan suara anjing yang menggonggong oleh salah satu menteri di negeri ini.
Belumlah reda viralnya Aldi Pakintaki, pernyataan yang bikin appakintaki (baca : menyentak) ini juga tiba-tiba muncul disalah satu televisi swasta di Indonesia beberapa waktu lalu dan akhirnya potongan wawancaranya tershare melalui media sosial. Nitizen pun terbagi dalam berbagai kubu. Yang mencibir, yang membela, dan yang netral. Pada yang mencibir tak bisa juga dikatakan sebagai sikap yang dilatarbelakangi semacam kebutaan spiritual. Pada yang membela tak boleh juga kita kategorisasikan inkonsistensi dan kemunafikan. Atau pada yang netral adalah bukan sikap apatisme yang cenderung tak mau ambil resiko.
Meme berhamburan, video plesetan berseliweran, status dan komentar di berbagai akun media sosial saling menerjang. Hal itu juga kadangkala sedikit mengaburkan konteks tujuan dan maksud mereka, apakah ini kepentingan duniawi, kepentingan ukhrawi ataukah kepentingan ilahiyah murni. Hanya Allah yang tahu akan kualitas dan orientasi kepentingan diatas.
Polemik ini melemparkan ummat di Indonesia pada garis yang amat sulit mendapatkan titik tengah yang bisa membuat suasana menjadi adem. Meskipun pada prinsipnya, kita selalu mendapati suasana yang kompak kembali setelah berlalu beberapa hari yang telah diawali dengan permohonan maaf pelaku dan ditutup dengan isyu baru yang tak kalah hot. Apatah lagi ekspansi Rusia ke Ukraina rasa-rasanya jauh lebih menguras emotional kita dibanding berbalas pendapat dan komentar, yang acapkali tak jelas ujung pangkalnya.

Kebuntuan Silogisme dan kegoyahan Solidaritas?

Mungkinkah ada masalah dalam penalaran kita ? Entahlah, namun jika kita mengingat kembali perihal Penalaran, kurang lebih adalah merupakan aktivitas kognitif untuk menilai atau menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang didapatkan, tentunya dengan menggunakan logika-logika. 
Silogisme pun variatif, yang mungkin sangat menjebak silogismenya adalah :
– Semua yang bunyi bersamaan itu ribut
– TOA Masjid sering bunyi bersamaan
– Anjing menggonggong sering bunyi bersamaan
Kesimpulannya adalah bla bla dan bla….
Abaikan sementara berfilsafat bin berlogika pada silogisme ini. Biarlah itu menjadi lapangan kajian bagi para pakarnya.

Pengeras suara bermerk TOA ini memang adalah produk budaya. Suara yang dikeluarkan melalui MP3 atau kaset masjid itu yang kemudian memiliki legitimasi religius dari tahun ke tahun yang tak pernah dipersoalkan. Entah karena tak ada yang berani ataukah mungkin sudah waktunya dicarikan alasan yang tak jelas agar merusak solidaritas sosial kita.
Perlu dicatat, bahwa dalam fakta sosial kehidupan kita, agama dan solidaritas sosial memiliki kelekatan hubungan yang sangat kuat. Solidaritas yang disahkan secara religius pada kenyataaannya telah mengantarkan masyarakat kita di Indonesia menjadi tetap satu dan peduli tanpa melihat latar belakang agama.
Setiap dunia religius itu didasarkan pada suatu struktur penalaran yang dengan sendirinya merupakan produk aktivitas manusia, maka setiap dunia religius secara melekat adalah rawan realitasnya, kata Peter L Berger. Bukan cuma soal pemurtadan saja kerawanan itu, namun saat tingkat kegoyahan dan diskontiunitas berlangsung meningkat, potensi keluar dari tujuan utama beragama yakni “tidak kacau” semakin terbuka lebar terwujudnya.

Persoalan TOA ini tak boleh merusak konsepsi tatanan sosial kita yang sudah berlangsung lama. Hubungan mikrokosmos dan makrokosmos dalam struktur Ilahi selama ini, tak boleh ada pengingkaran bahwa TOA masjid telah menjadi salah satu penyumbang terbesar konektivitas vertikal dan horizontal Tuhan-Alam dan Manusia. Mungkin kita sisa mengatur timing terputarnya, juga volume yang pas agar dinamisasi dan harmonisasi telinga siapapun yang mendengarkan dapat tercipta.
Karena bisa jadi TOA masjid dihadirkan oleh Allah untuk “Appakintaki” sifat saling menyalahkan, selalu merasa benar dan berkuasa dalam kehidupan, serta menghilangkan keegoan “Jangan ada TOA diantara kita”.

Artikel ini telah dimuat di https://sulsel.herald.id/2022/02/26/ketika-toa-masjid-mendadak-appakintaki/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist