Citayam Fashion Week

Dalam tiga minggu terakhir trend fashion di jalan Sekitar Dukuh Atas di Jakarta Pusat menyebar ke banyak daerah, Makassar tak terkecuali dengan CPI Fashion Weeknya. Dan tak kalah menarik bahkan di luar negeri pun efek trend CFW ini terasa dampaknya lewat sorotan media asing.

Aktivitas berjalan ala model di catwalk, dimana zebra cross menjadi tempat melenggok bagi kumpulan model dadakan anak-anak kelas bawah yang selama ini hanya akrab dengan tahu bulat dan makanan murah sesuai isi kantong oleh karena keterbatasan ekonomi mereka.

Adalah Jeje, Bonge, Roi, Alpin dan Kurma menjadi orang-orang dibalik ketenaran kegiatan mengekspresikan kelihaian berbusana dan berjalan indah ala model kelas atas ini.

Viralnya kegiatan Ini dihiasi pula dengan kontroversi pencatutan hak cipta, ikut diramaikan banyak selebritis dan pejabat publik yang ikut bergaya, turut menjadi penyumbang signifikan menyebarnya dengan cepat trend busana jalanan ini sebelum resmi dibubarkan oleh Pemprov DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Hiruk pikuk CFW hampir 24 Jam di kawasan tersebut akhirnya menghilang. Untunglah Bonge, Jeje, Roi, Alpin dan Kurma serta beberapa pentolan lainnya telah menjadi selebritis dadakan.

Endorse Produk, wawancara di berbagi Channel Youtube dan TV Swasta bahkan bantuan dari berbagai pejabat dengan sendirinya, membuat pundi-pundi mereka menjadi berisi, bisa jadi untuk waktu yang lama dari biasanya.

Citayam Fashion Week ini adalah salah satu Fenomena Sosial yang terjadi disaat remaja kelas bawah butuh ruang lebih untuk mengekspresikan kebiasaan style berpakaian mereka yang mengikuti trend luar.

Meski masih ambigu apakah terjadi kecenderungan akulturasi budaya barat dan lokal pada CFW ini. Namun yang nampak di mata kita adalah sebentuk krisis identitas yang sesungguhnya membayangi generasi kita dibalik trend ini. Kebanggaan terhadap budaya luar menebal sementara budaya sendiri kian menipis.

Memang akan berbeda ceritanya mungkin, andai dikawasan Dukuh Atas ini yang ditampilkan kesenian tradisional. Dia hanya akan berlalu begitu saja di reel IG dan FB kita oleh karena tak ada yang begitu menarik dibandingkan dengan video keramaian berbagai tampilan busana, dari yang original sampai KW, desain sendiri, bahkan kostum hasil pijaman milik teman mereka.

Cepat atau lambat aktivitas serupa yang punya spirit yang sama, lambat laun berpotensi akan menjadi sebuah sistem budaya bagi generasi millenial kita. Meniru aksi bukan berprestasi. Terkenal secara instant adalah target generasi belia yang mereka jadikan sebagai rule model.

Pada prinsipnya, sistem budaya dibangun di atas simbol-simbol yang dikontrol oleh defenisi-defenisi situasi. Pola makna dibentuk oleh dasar-dasar konstitutif pemaknaan kondisi manusia, standar nilainya adalah kebermaknaan tindakan dalam kerangka acuan budaya tertentu.

Acuan budaya dari Paris Fashion Week inilah yang kemudian direduksi masuk kedalam CFW, sisi elitisnya mungkin akan sulit didapat, oleh karena bukan brand dan model kelas dunia yang terlibat.

Namun akselarasi antar kelas dalam memamerkan kreativitas berbusana mereka setidaknya sudah menggambarkan seperti apa yang terjadi di negara asal Napoleon Bonaparte tersebut.

Namun apapun keadaannya Citayam Fashion Week ini harus tetap kita apresiasi sebagai sebuah kekayaan kreativitas anak bangsa kelas bawah. Dimana mereka tak berani bermimpi lebih untuk menjadi tenar oleh karena keterbatasan mereka dari banyak sisi khususnya pendidikan.

Semangat Jeje Slebew dan Bonge Cs masih mewakili bagaimana kegigihan kaum pinggiran untuk bisa tetap bertahan bahkan eksis ditengah himpitan ekonomi keluarga.

Mereka adalah pewaris masa depan bangsa ini yang masih berani merawat asa yang nyaris pudar dalam sebuah mimpi yang ‘sempurna’.

Artikel ini telah tayang di Herald Sulsel dengan judul ‘CFW, Eksistensi Bocah Kelas Bawah Dalam Mimpinya yang Sempurna’ selengkapnya di sini.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist