Beberapa hari terakhir di pekan ini, suasana politik negeri ini mendadak ramai. Salah satu bakal capres mendadak membangun komitmen dengan bakal cawapres tetangga sebelah. Dua kubu meradang walau terlihat tenang, yang satunya merasa ditelikung dan yang satunya lagi merasa dikhianati, yang satunya terlihat santai seolah tak peduli dengan dinamika itu.

Sebagai pengamat dadakan dengan kompetensi minim ilmu dan pengalaman di luar lapangan, saya cenderung menghindari untuk memberikan kesan dan penilaian bahwa efek di kedua kubu dari apa yang dilakukan oleh yang mendeklarasikan lebih awal pasangannya, adalah manifestasi dari ketidak matangan emosional dari sebuah strategi yang cenderung kehilangan etik. Bisa jadi ini justru adalah salah satu wujud dari sangat matangnya kalkulasi politik yang pada rakyat kecil seperti kita ini hanya mampu membaca permukaan saja, yakni berupa pengingkaran komitmen dan keinginan meraih basis suara.

Peristiwa politik ini juga menjadi semacam dialektika dalam berpolitik. Yakni bilamana seseorang menolak ‘cobaan’ untuk menerima dialektika semacam ini dan mau menghadapi pengalaman dari realitas yang disebabkan oleh fenomena politik secara jujur, maka dia kemungkinan besar akan sampai pada kesadaran politik mengarah krusial.

Para elit politik negeri ini memang tengah berada dalam sebuah panggung besar, sebuah tempat berakselarasi dan berkompetisi yang puncak hajatannya sisa menghitung bulan tepat di tahun 2024 nanti. Persaingan mereka memang akan tetap berharap banyak pada janji “Demi rakyat dan untuk rakyat, kami akan perjuangkan”. Pada jualan term inilah mereka akan berebut simpati dan dukungan para pemilik suara.

Dalam suatu kesempatan Maurice Duverger (1966), bahwa di dalam sebuah perjuangan politik, sebagaimana di dalam persaingan ekonomi, peserta yang terbaiklah yang akan menang, yaitu mereka yang paling bermutu dalam intelegensianya, keberaniannya, kekuatannya, kelicikannya dan kemampuannya dalam bekerja. Demikian juga dalam pendekatan Teori Liberal pada term kompetensi ekonomi dan kompetensi politik, Kepentingan pribadi adalah motif yang utama dalam perjuangan polituk. Kekuasaan dicari bagi keuntungan dirinya, bukan karena dedikasi bagi pelayanan umum.

Dengan munculnya berbagai pendapat dalam keriuhan peristiwa politik ini, akan bijak mungkin, jika kita mencoba melepaskan kecenderungan membesar-besarkan masalah ini dengan analisis liar yang mendiskreditkan ataupun membela secara berlebihan kelompok tertentu, sebab ini bisa membawa kita jauh dari substansi tujuan berdemokrasi dalam bangsa kita. Namun semuanya tetap kembali ke diri masing-masing, mau tetap konsisten dalam usahanya untuk memenangkan kontestasi di 2024 nanti, ataupun tetap istiqomah dalam ikatan koalisi. Yang terpenting selalu harus kita ingat, bahwa apapun atraksi dan akrobat politik para elit, bangsa Indonesia akan tetap dikenal dalam hal moralitas dalam menepati janji, bukan karena sekadar mayoritas penduduknya
beragama Islam, namun kita juga dibangun dari sebuah peradaban masa lalu yang senantiasa mengedepankan kebaikan bangsa dan umat di atas kepentingan pribadi dan hasrat berkuasa atas segala kekayaan negeri ini.

Artikel ini sebelumnya telah dimuat di https://herald.id/2023/09/06/pilih-ikhtiar-di-peluang-menang-atau-istiqomah-dalam-ikatan/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist