Anshar Aminullah

Kasus Holywings ini memang cukup menyerap emosi umat Islam maupun Nasrani di Indonesia. Terlepas dari kesengajaan ataupun kekhilafan yang dilakukan oleh internal Holywings ini menjadi persoalan yang serius lantaran melakukan pelecehan terhadap dua nama yang sangat disakralkan khususnya oleh umat Islam . Minuman keras adalah bagian dari perjalanan kehidupan sosial kita yang mungkin dilihat dalam berbagai perspektif perihal posisi halal, haram maupun bolehnya, ini tergantung dari prinsip ajaran agama yang ada di Indonesia. Namun hampir semua agama bermuara pada satu nilai bahwa minuman keras tersebut bisa menjadi sumber lahirnya kekerasan dan kejahatan. Lalu muncul oknum di Holywings yang memicu kemarahan secara massif dengan hal konyol berupa promosi di minuman gratis itu. Kejadian ini menandakan bahwa di Indonesia ini acapkali kebebasan berekspresi dan berapresiasi tidak dipahami substansi dan batasan boleh tidaknya. Level pelecehan ini sederajat dengan melecehkan kitab suci umat Islam. Dan ini bisa saja menjadi awal bagi munculnya kejadian serupa jika tak ditindaki dengan tegas oleh pemerintah. Alibi pengelola soal tenaga kerja mereka yang sekitar 3 ribuan orang ini memang perlu menjadi catatan khusus pemerintah. Kita berharap sanksi tegas yang diberikan ini mampu membuat perubahan secara signifikan pengelolaan tempat dengan konsep yang sama di seluruh Indonesia agar tetap bisa menjaga perasaan ummat beragama khususnya Islam. Bahwa hal-hal sakral dalam agama agar sebisa mungkin tetap dijaga dengan selalu menghindarkan hal-hal yang bisa memicu kemarahan secara spontan dan massif dari masyarakat beragama kita di Indonesia.

Artikel ini juga telah tayang lebih awal di : https://sulsel.herald.id/2022/06/29/pelajaran-dari-holywings-jaga-sakralitas-agama/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist