Anshar Aminullah

Anshar Aminullah
Ketua Departemen Politik dan Demokrasi PN Pemuda ICMI

Hari ini hari Pahlawan. Momentum terbaik bagi bangsa kita buat bersiap-siap menghadapi resesi yang diprediksi akan segera menerjang Indonesia tanpa ampun. Tema yang tersaji tahun ini penuh makna “Pahlawanku Telandanku”. Harapan besar tak lebih semoga bisa menjadi perekat kuat guna bergandengan tangan bersama, agar tak sempoyongan dihantam badai krisis global.

Masih segar diingatan saya di akhir 80an, saat bisa menghafal nama-nama para pahlawan yang poster bergambar wajah mereka terpampang rapi di setiap sudut kelas Sekolah Dasar kami. Bangga dan punya kesan mendalam saat menelusuri jejak-jejak perjuangan mereka dalam buku sejarah. Saya masih ingat kalo cita-cita saya kelak bisa mengikuti jejak Bung Karno. Berharap bisa menimal mendekati menjadi sosok berwibawa memimpin bangsa untuk bergerak maju mengusir penjajah, bukan bergerak maju menanam padi ditanah penuh lumpur seperti adegan video yang viral beberapa waktu lalu. Jika tak mampu menjadi seperti Ir. Sukarno yah kalau bisa cita-cita kedua saya kepingin seperti Pangeran Diponegoro lah. Sosok agamais, pemberani dan tak takut pada penjajah. Walaupun pada akhirnya dia menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Dia jalani penuh ikhlas dan tetap rajin beribadah. Tak pernah sekalipun berniat untuk meminta pemotongan masa tahanan, merekayasa barang bukti apalagi meminta fasilitas kelas mewah dalam tahanannya, meskipun statusnya sebagai tahanan kelas elit kala itu. Memang benar, bahwa hal itu mustahil karena tak ada fasilitas demikian. Tapi percayalah, integritas dan konsistensi perjuangannya untuk bangsa ini tak akan pernah membuat dia menukarnya dengan menjadi seorang penjilat bin penghianat.

Bangsa ini kehilangan sosok-sosok seperti mereka berdua dan sosok pahlawan-pahlawan lainnya. Yang tersisa hanya nama mereka, yang salah satu diantaranya masih ampuh dan sakti menjadi nama belakang penanda keturunan. Dan yang tersisa lainnya hanya sebatas nama mereka yang terpampang pada kayu yang sudah rapuh dan plat besi yang sudah karatan sebagai penanda nama pada jalan-jalan protokol.

Bangsa kita seolah kesulitan menyusuri jejak-jejak kepahlawanan mereka. Nama mereka pun kadang hanya terlintas saat kita sedang mencari alamat. Mungkin kita tak akan pernah sampai berniat untuk menyusuri jejak-jejak perjuangan mereka. Karena kita hanya butuh sesaat pada nama mereka untuk sampai di tujuan via Google Maps agar tak tersesat pada alamat palsu.

Sulit kemudian bagi kita untuk mewarisi semangat mereka dalam rangka membenahi bangsa ini yang sedang tidak baik-baik saja. Sebab Google Maps hanya mampu menunjukkan posisi dan lokasi sekitar papan rapuh tempat nama mereka terpampang, tapi tidak dengan lokasi spirit perjuangannya.

Selamat Hari Pahlawan!

artikel ini sebelumnya juga telah tayang di :
https://makassar.tribunnews.com/2022/11/10/mencari-jejak-pahlawan-lewat-google-maps

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist