Anshar Aminullah

Pasca perhelatan MotoGP di sirkuit Mandalika, sebuah gelaran akbar level internasional yang telah mengangkat nama Indonesia di Mata dunia, jagat maya kembali diramaikan dengan berbagai macam komentar soal kehadiran para pawang hujan di sirkuit tersebut.
Mba Rara tiba-tiba menjadi sorotan dalam kontroversi pendapat warga +62. Pawang berdarah Jawa kelahiran Papua dan berasal dari Bali ini mendadak ramai dibincangkan. Sebagian orang menganggap bahwa apa yang dipertontonkannya adalah aktivitas pamer kesaktian namun memalukan bagi bangsa kita. Terlebih lagi saat bersamaan banyak mata di lokasi menyaksikan ritual tersebut. Bahkan pemerintah lewat BMKG pun mempertegas lagi, bahwa ini bukan karena Mba Rara, tapi karena durasinya sudah selesai jadi hujannya berhenti. Disebagian lain mengaggap ini melawan Tuhan. Dan sebagian lainnya justru merasa terhibur dengan tingkah-tingkah unik tersebut.

Posisi aktivitas nge-pawang ini bagi tak sedikit penganut Islam memang dianggap cukup mengganggu konsistensi aqidah bagi pelakunya. Hal ini berlaku tentu jika sang pawang adalah seorang muslim atau muslimah, namun jika bukan ceritanya pasti akan berbeda.
Dalam perspektif lain, ada kondisi dimana iman dan mentalitas kita pada khazanah budaya negeri yang acapkali memberikan peluang kemudaratan lebih tinggi dibanding kemaslahatan. Ini terjadi saat pesimisme akan kehendak alam itu diluar kendali kemampuan normal manusia. Akibatnya, perdukunan adalah solusi yang cepat. Telinga kita sudah lazim saat tetangga kehilangan duit, motor, emas atau hewan ternak maka dukun adalah tempat bertanya dan solusi paling instan sebagai tempat mengubur rasa mengikhlaskan kehilangan.
Lihatlah pula saat ada gelaran hajatan pesta, ataupun semarak sebuah event yang menghadirkan orang banyak dan pejabat. Saat hujan terprediksi akan membasahi acara dalam volume lebih, berdoa ke Yang Maha Kuasa masih sering di backup dengan mencari sesepuh adat di kampung yang bisa memindahkan hujan. Pada kondisi ini label kemusrikan justru dikaburkan pada alibi “ini ikhtiar tradisional yang dinamakan kearifan lokal”. Meminta bantuan sesepuh adat di kampung lebih enjoy dengan melabelinya sebagai usaha manusia agar acara berjalan lancar. Ini mengarah sebagai Aqidah situasional, yaitu suatu bentuk akal-akalan meng-Esa-kan Tuhan jika itu tak mengganggu urusan dan kepentingannya. Aqidah Situasional itu juga mencakup perilaku, dimana jika dia yang melakukan maka ini disebut sebagai Local Wisdom. Jika orang lain maka ini dia cap melampaui kehendak Tuhan. Ini khan tak adil namanya.

Aktivitas Pawang ini memang telah ada sejak jaman nenek moyang kita. Tak ada referensi paten soal kapan munculnya. Namun dibeberapa kelompok masyarakat ini sudah menyatu dalam sistem sosial-budaya yang berasal dari ritual tradisional, lewat pengkonstruksian simbol-simbol dengan cara-cara terikat oleh sebuah pakem. Dalam satu sisi, pawang ini dianggap sebuah kegilaan. Namun dilain sisi, mungkin ini bisa jadi adalah ‘kebijaksanaan batiniah’ ala-ala Foucault.

Saya sangat tertarik dengan salah satu pendapat sahabat saya dalam sebuah goresan status di media sosial, bahwa ini bukan wilayah siapa yang benar atau siapa yang salah. Juga bukan soal etis dan tak etis. Termasuk estetika. Bahwa tingkat kesalutan sahabat saya ini ada pada kepercayaan diri sang pawang di pentas internasional tepat disaat jutaan mata dunia sedang live menyorot setiap detik peristiwa di sirkuit. Tulisan status tersebut dipertegas, bahwa gagal atau berhasilnya pawang adalah hal lain. Namun rasa hormat tetap perlu kita berikan oleh karena keberanian sang pawang menunjukkan bahwa bangsa kita punya tradisi dan keyakinan dalam “mengatur semesta” dalam dimensi kemanusiaan kita (S.T).

Kehadiran pawang mungkin bukanlah penegasan person bahwa mereka lebih hebat, lebih pandai, lebih skilled dan mumpuni dari Allah. Namun tak bijak juga jika posisi akal sehal hanya disematkan pada kita yang menyaksikan dan sang pawang justru pada posisi sebaliknya.
Aktivitas pawang memang dalam kehidupan modern sekarang ini tak pernah kehilangan panggung. Kerja-kerja dibalik layar yang kemudian pakemnya dilanggar oleh Mba Rara dengan mengambil posisi didepan layar dan tampil menghentak dipanggung utama. Ini seolah mempertegas adanya kekeringan mekanisme dalam dunia modern. Ada semacam kesadaran keagamaan sesaat yang lahir dari ramainya perbincangan aktivitas pawang ini. Tiba-tiba saja ketauhidan bagi tak sedikit orang mendadak menjadi tebal akibat aksi ini
Riuhnya kontroversi ini juga secara tak langsung menggiring kita pada pentingnya mengimplementasikan dalam kehidupan sebagaimana yang di sebut Cak Nun sebagai kelayakan moral, kejujuran dan kejernihan intelektual, kesehatan mental dan kebersihan spiritual. Ini penting, sebab jika hal itu terlepas dalam kehidupan kita, ada rasa kuatir, jangan sampai kita yang menertawakan aksi tersebut justru sedang memperolok-olok diri sendiri. Yakni merasa lebih paham agama dan merasa finish di sakratul maut akan lebih baik dari mba Rara yang juga beragama Islam ini.
Sebab biasanya, makin tinggi perasaan lebih memahami kebenaran, seseorang justru semakin sukar melakukan penyucian diri.
Beruntunglah beberapa hari kedepan Ramadhan akan menyambut bagi hamba-hamba yang hendak mensucikan dirinya untuk kembali menjadi Fitrah. Jangan sampai ibadah Ramadhan Mba Rara jauh lebih sempurna dibanding kita yang telah menertawakannya, itu khan lucu jadinya! Wallahu A’lam.

Artikel ini juga telah dimuat di https://sulsel.herald.id/2022/03/25/pawang-hujan-di-antara-kearifan-lokal-dan-akidah-situasional/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist