Siapa yang tak kenal dengan Ralf Rangnick, tokoh sepakbola modern yang sedang naik daun. Tak usah menanyakan apa kesuksesan dia dalam dunia sepakbola. Pelatih kelas wahid seperti Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel pun tak pernah lupa berterima kasih kepada Ralf Rangnick, diberitakan dalam detiksport, Klopp pun sempat berguman “duh… Pelatih hebat datang dan akan melatih klub Inggris”. Pelatih kawakan Chelsea si Tuchel pun menimpalinya dengan kalimat sederhana namun sarat makna “Saya jadi pelatih karna dia”.
Pria sederhana ini sangat dikenal jago taktik, sepertinya tak ada pelatih manapun yang akan membantah, bahwa Rangnick-lah yang berhasil memperkenalkan gaya sepakbola menyerang, yang akhirnya menjadi cikal bakal Gegenpressing, sebuah strategi dengan pendekatan yang membutuhkan tekanan dengan intensitas yang tinggi untuk bisa memenangkan si kulit bundar untuk kembali dengan cepat, di tambah dengan penjagaan ketat di barisan pertahanan untuk menetralisir ancaman serangan balik lawan lebih awal.
Gaya sepakbola gegenpressing berpengaruh luarbiasa di Jerman, bahkan menularkannya kepada banyak tim dan pelatih di sana. Jerman pun terkena Imbasnya, Piala Dunia edisi 2014 akhirnya berhasil mereka sabet.
Rangnick juga berhasil membangun dua klub entah dari mana, klub Jerman yang tak masuk hitungan lebih, Hoffenheim dan RB Leipzig, oleh karna dominasi Munchen dan Dortmund bergantian dalam beberapa dekade terakhir.

Tetap Membumi walau dipuji setinggi Langit

Itulah Rangnick. Tetap menjadi sosok yang tak jemawa dengan berbagai pujian yang dialamatkan kepadanya. Ditengah desas-desus kedatangannya di Manchester United, dia tetap profesional melakukan aktivitasnya di klub Rusia, Lokomotiv Moscow. Bukan meninggalkannya secara mendadak dan bersikap tak jantan dengan mencoba menukangi dua klub sekaligus, walau itu tak mungkin terjadi dalam dunia sepakbola modern.
Ada kisah unik dan sarat makna serta patut dijadikan teladan yang ditunjukkan oleh seorang Rangnick. AC Milan di tahun 2020 hendak merekrutnya menjadi pelatih. Ini dilakukan klub justru ditengah trendnya lagi meningkat dibawah asuhan pelatih Stefano Pioli dimana tim sedang memimpin klasemen Liga Italia kala itu. Bahkan jika Rangnick datang, dua orang dipastikan akan kehilangan posisinya. Selain sang pelatih, juga sang legenda Paolo Maldini yang menjabat direktur teknik klub. Gaji selangit pasti sudah menanti untuk kedua posisi tersebut. Namun diluar dugaan, pria kelahiran Jerman 63 Tahun lalu ini menolak halus.
Dia berpikir realistis oleh karena laju AC Milan sedang bagus-bagusnya. Hal yang tak elok merusak situasi yang sedang harmonis di dalam tim ungkap Rangnick.
“Sangat tak bijak bila saya pergi ke sana. Mau dilihat dari sudut pandang siapapun, baik dari saya ataupun klub, hal itu tetap tidak bijak,” kata Rangnick pada Agustus 2020 (detiksport)

Kerendahan hati dan bijaknya seorang Rangnick tak salah jika dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan kita. Menghargai laju bagus seorang yang bisa saja kita gantikan itu gampang-gampang susah. Presiden AC Milan bisa saja melakukan pergantian atas permintaan Rangnick, namun itu tak kunjung dia minta. Rangnick paham bagaimana perasaan seorang Pioli, dia menempatkan dirinya pada posisi tersebut. Bagaimana seandainya jika hal itu menimpanya, saat Tim yang dibesut sedang dalam performa oke lantas dia diganti walaupun itu berada diujung kontraknya. Dibenaknya mungkin berkata, bahwa ini persoalan etika, ini persoalan moralitas, dan ini adalah contoh yang kurang baik dalam dunia kepelatihan. Mengganti orang yang telah memperbaiki tim yang sedang terpuruk seperti AC Milan di Italia bukanlah hal yang terpuji, walaupun itu dengan alasan ratusan kali ditelpon dan di Whatsapp oleh pemilik klub.
Beruntunglah AC Milan yang memiliki Presiden sekelas Paolo Scaroni. Yang tetap mempertahankan Pioli sebagai pelatih hingga detik ini. Dan lihat, AC Milan hanya membutuhkan 1 poin saja untuk memuncaki klasemen liga Italia bulan ini. Dan untungnya AC Milan mengontak seorang Rangnick yang masih mengedepankan etika serta moralitas terhadap sesama pelatih. Bayangkan jika seandainya Milan mengontak seorang pelatih Liga Tarkam (Antar Kampung) yang nekad masuk melatih dengan pengalaman minim dan bahkan dengan bekal reputasi dipecat karna ngebet melatih dua klub yang beda kasta sekaligus secara bersamaan. Selain hanya butuh 1 musim untuk degradasi, klub ini akan jadi tertawaan sepanjang masa. Orang akan mengenang AC Milan melakukan lawak Srimulat yang buat banyak pihak tertawa terbahak-bahak saat menyebut nama klub itu. Rangnick dan AC Milan adalah contoh yang baik, yang pada keduanya tak akan pernah kita dapati dalam manajemen timnya memperbantukan orang-orang yang tak punya kredibilitas dan pengalaman merusak kinerja tim dimasa lalu.

Artikel ini juga telah dimuat di https://jurnalmakassar.pikiran-rakyat.com/trending/pr-826508458/rangnick-dan-etika-profesionalitas-berbasis-moral

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist