Siang itu jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Saya ada di ruangan Konselin kampus UNHAS. Sebagai mahasiswa S2, saya dan teman di Pasca Sarjana Jurusan Sosiologi saat itu sedang mengerjakan tugas. Saya sedang mempersiapkan bahan diskusi . Saya senang karena dapat berdiskusi berbagi ilmu dengan berbagai kalangan dan berbagai usia tanpa batasan waktu karena dapat dilakukan di kala senggang.Mendadak ada seorang teman memecah kesunyian. Bahwa diskusi sebentar lagi dimulai sebab ibu Dosen telah ada di luar ruangan. Bahan pun diselesaikan dengan segera. Kelompok telah terbagi dengan 3 kecenderungan, Pro, Kontra dan yang berfungsi sebagai pembanding sekaligus Juri terhadap kedua kelompok tersebut. Diluar dugaan, ternyata saat diskusi tersebut dimulai kami merasa sepertinya ada yang tidak singkron dari pola awal sesaat setelah ketua tingkat memaparkan papernya. Ternyata sebagian besar dari kami telah keliru memahami materi diskusi tersebut. Akhirnya kamipun diberikan waktu untyuk mengevaluasi missed komunikasi tersebut. Setelah berselang beberapa lama, dengan berdiskusi mempermantap bahan tersebut dengan agak lama juga kayaknya, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Bahan untuk membuat tulisan tentang perlunya publikasi beberapa persoalan di Indonesia juga sudah cukup dari dua pihak.

Setelah sampai di rumah . Saya kemudian membuka komputer. Lalu saya menulis apa yang yang sudah saya dapatkan dari diskusi dengan dua teman di atas. Menulis terasa cair, lancar dan tanpa hambatan.
Yang ingin saya tekankan adalah bahwa untuk menulis, diskusi dengan orang lain akan menjadi sumber gagasan yang penting. Ini penting dilakukan saat kita dalam keadaan bingung apa yang akan ditulis sementara sudah punya keinginan kuat untuk menulis. Diskusi juga akan membuat beragam perspektif ada dalam pikiran kita. Paling tidak, pikiran kita sendiri, dan apa yang didapat dari diskusi tersebut.
Masalahnya, tidak semua orang senang dengan diskusi. Sebab, untuk bisa berdiskusi kita harus punya kemampuan mendengar dan bukan kemampuan berbicara saja. Untuk ikut diskusi, kita tidak harus menguasai persoalan. Memang lebih bagus bisa menguasai persoalan, tetapi jangan hanya gara-gara tidak menguasai persoalan kita tidak mau ikut diskusi.
Diskusi juga bisa disengaja dengan melibatkan orang untuk diajak diskusi atau menjadi pendengar pasif. Yang penting, ikut dalam atmosfir diskusi, itu saja. Anggap saja kita sedang memasukkan sumber-sumber gagasan dalam pikiran. Dengan demikian, diskusi tidak harus diikuti ketika kita sedang mau menulis. Maka, banyaklah ikut diskusi, seminar, lokakarya dan semacamnya. Ada banyak sumber-sumber gagasan dalam acara-acara tersebut.

Apakah yang saya lakukan di atas bukan plagiat pikiran orang lain? Sebenarnya, apa yang ditulis oleh para penulis terkenal itu juga awalnya hanya meniru apa yang pernah dia baca, lihat, dengar dan alami sendiri. Kemudian sejalan dengan peningkatan skills menulis dan pengatahuan dia mempunyai “ramuan” sendiri, dan gaya sendiri dalam menulis. Kegiatan ini hampir sama seperti seorang bayi. Saat belajar jalan, ia akan meniru apa yang dilihatnya. Apakah ini tidak boleh? Dalam menulis, tidak jauh berbeda. Tapi, kita harus selalu berusaha melepasan bayang-bayang orang yang kita tiru itu secepat mungkin. Suatu saat, kita akan mempunyai gaya penulisan sendiri. Sekarang pilih mana, meniru gaya penulisan orang yang membuat kita belajar, dengan tidak pernah meniru tetapi kita tidak pernah bisa menulis?

Agar ide yang berasal dari orang lain tersebut tidak dikatakan plagiat, kita perlu mengolahnya dengan kata-kata dan kalimat kita sendiri. Karenanya, meniru suatu hal yang tidak bisa dipisahkan, tetapi tetap berusaha untuk lepas dari kungkungan yang kita tiru tersebut.
Sebagai ucapan terima kasih pada teman yang kita ajak diskusi tersebut minimal berikan ucapan terima kasih karena telah membantu membuat bahan diskusi. Atau traktir mereka makan juga tidak masalah. Ini lebih dari cukup. Bukankah kita bisa menulis juga karena peran mereka? Mengeluarkan uang untuk alokasi dan ke orang lain jangan dianggap pemborosan. Pahami pula bahwa itu sebuah investasi yang kita akan memetiknya di masa datang dalam jumlah yang lebih besar. Biarkan orang lain juga ikut menikmati rejeki yang kita dapatkan (Makassar, 2009)

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist