Anshar Aminullah

Kaum LGBT selama ini memang merasa adanya keberpihakan yang berat sebelah dan sengaja di dalam masyarakat, khususnya pada posisi kehidupan normal berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan pada pola hubungan resmi bernama pernikahan. Ini wajar saja, sebab dalam kelompok masyarakat kita khususnya di Sulsel prasyarat fungsional sistem sosial serta tingkatan analisis tindakan sosial khususnya pada kultural, kepribadian dan perilaku, itu masih tergolong terjaga walau tak sekuat dulu. Pada akhirnya hal-hal yang bertentangan dengan bangunan nilai warisan masa lalu, itu sulit terhindar dari respon penolakan. Bahkan bisa lahir penolakan sedikit ekstrim. LGBT ataukah khususnya pada kasus statemen mahasiswa yang berkelamin netral ini mau dijelaskan bagaimana pun akan tetap sulit diterima dalam struktur masyarakat kita di Sulsel ini. Permakluman terbaik dalam masyarakat kita secara turun temurun adalah adalah Wanita yang berprilaku laki-laki, dan atau dia adalah Laki-laki yang berprilaku wanita. Dan persoalan kepastian jenis kelaminnya, kedua hal tersebut tetap mengacu kebentuk kelamin mereka sejak lahir.

Kasus di Unhas beberapa hari lalu ini mempertegas bahwa ada hal yang cukup serius bagi masyarakat kita yang harus segera diantisipasi. Bahwa penegasan eksistensi LGBT ini sudah tergolong sebagai gerakan terstruktur, massif yang mendapat dukungan penuh hingga level internasional. Jika komunitas mereka bereaksi, institusi sekelas Unhas pun berpotensi untuk keteteran. Alasannya sederhana, ini mengacu pada fakta di salah satu jejaring sosial bernama LinkedIn beberapa minggu lalu, ribuan tokoh terkenal, puluhan kampus ternama di dunia serta ratusan perusahaan kelas wahid di dunia, itu dengan sengaja merubah warna foto profil mereka dengan warna bendera pelangi milik LGBT sebagai dukungan dan pemberian ruang serta hak asasi yang sama dengan yang lain. Yang masih segar di ingatan, di kedutaan Inggris di Jakarta, juga dengan berani memasang bendera pelangi ini. Hemat saya, dunia kampus harus melawan gerakan struktural ini dengan gerakan kultural. Nilai-nilai sosial kemasyarakatan kita harus didengungkan kembali. Meskipun itu bukanlah hal yang mudah.

Pendekatan langsung kepada orang tua mahasiswa yang mengaku berjenis kelamin netral ini seperti yang telah dilakukan pasca viralnya video ini, hemat saya ini menjadi sebuah langkah preventif bagus untuk melibatkan keluarga mereka dalam menyelesaikan persoalan sensitif ini. Sebab sudah jadi rahasia umum, bagaimana komunitas LGBT ini di beberapa tempat nongkrong bahkan kampus pun mereka sasar sebagai lahan potensial untuk menjaring keanggotaan secara terselubung yang sudah sejak lama mereka ingin deklrasikan tanpa rasa sungkan sedikit pun. Dan respon balik terbaik dari kita saya rasa tak perlu menunggu hal itu berlarut-larut, yah diantisapasi segera.

  • Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Viral Mahasiswa Unhas Pilih Dua Gender, Sosiolog: Lawan Gerakan Terstruktur ‘Mereka’ dengan Kultural, https://makassar.tribunnews.com/2022/08/23/viral-mahasiswa-unhas-pilih-dua-gender-sosiolog-lawan-gerakan-terstruktur-mereka-dengan-kultural.

  • By Anshar Aminullah

    Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist