Tak sengaja mendapati tulisan ini di galeri Hape saya. Bahkan saya sudah lupa kepada siapa saya peruntukkan tulisan ini. Beberapa kalimatnya sangat terasa bahwa kala itu saya sedang jatuh hati berat pada tulisan Ahyar Anwar sebelum dia berpulang kerahmatullah.
Dorongan feel saja yang membuat saya mengidentikkan tulisan ini dengan sebuah penghianatan cinta. Meskipun isinya menggambarkan sebuah semangat dan romantisme, tapi semua itu sepertinya adalah murni kepalsuan.

#Prolog

Setelah sekian lama, sejak kali akhir dia memeluk damai. Disuatu senja romantik, seorang wanita yg memeluk perpisahan dari jejak cintanya yg singkat.
Ia berkisah pada rintik hujan dan kadang pada semilir angin malam, tentang kerinduan pada pelangi yg garis warnanya telah hilang dijiwanya. Dia berkisah tentang sesuatu yg dimilikinya, kisah yg kadang menghidupkan harapan-harapannya, dan kadang kala kisah itu pula yg selalu merapuhkan jiwanya.

Alkisah ada seorang anak yang sangat pemberani.
Meskipun dia pemberani tetapi dia mempunyai hati yang lembut dan senyum yang ramah.
Di waktu kecil dia harus menjalani kehidupan masa kecil yg tidak biasa, dia telah melihat pertengkaran dan perkelahian. Hal yang seharusnya tdk ia lihat di awal kehidupannya.
Tapi itu tidak menjadikan dia berkecil hati. Karna hal itulah sang anak pemberani tersebut mempunyai cita-cita yang mulia.
Dia ingin menjadi anak yang kuat dan pemberani, agar dapat membela orang yang lemah dan tertindas.
Allah SWT pun mendengarkan rintihan doa nya ketika ia kecil, saat dia tdk dapat membela dirinya sendiri.
Dia adalah sang pemberani, berhati mulia yang takut kepada Allah SWT.

Mendadak kisah sederhana itu berhenti, seakan dia tercerabut dari padang luas kebun cinta dijiwanya.
Kisah itu adalah kisah dari buah hatinya, seorang anak kecil yg ditasbihkan spirit kebaikan pada nuraninya, guna menjalani hari-hari dalam merangkai pertemuan antara mimpi, waktu dan kenyataan hidup sang anak itu kelak.

Masih terlintas dijiwanya sesosok lelaki, ketika ia terbawa arus jalan takdirnya menikah dengan laki-laki yg dikirim dari dunia yg aneh. Lelaki itu bahkan telah menyudahi sepenggal episode depan dari latar kisah yg kelabu.
Bathin wanita itu mengalami pergolakan hebat, penuh kecemasan dan kesepian yg tak kunjung berhenti menghantuinya. Bahkan ketika dia berada dihiruk pikuk sebuah pesta, selalu saja dia didera kesepian yang melelahkan jiwa.

Dalam keheningan, disebuah landskap gelap malam buram. Wanita itu mengirimkan pesan jiwanya pada sang anak, yg oleh jarak dan kebencian telah menjadi dinding pemisah mereka. Dengan mata berkaca-kaca dia mengurai pesan itu:
“Nak, sayangilah selalu ibumu ini, bukan karna aku pantas untuk disayangi. Bukan juga karna ibumu ini satu-satunya yg mungkin untuk engkau sayangi. Sayangilah Ibumu ini karna kau tak memiliki alasan untuk membenciku. Sayangilah aku Nak, karna rasa sayangmu akan selalu lebih baik dari sebuah kebencian”.
Lalu ia berseru pada dirinya sendiri :
“Hidup dan kehidupan haruslah memberikan ruang lebih pada Jiwa, dan melakukan pembiaran pada teratai cinta agar mampu membuka kelopak-kelopak cahaya. Hidup ini haruslah menghadirkan terang, melahirkan kebebasan untuk bertamu pada harapan-harapan”.

Lalu pada dimensi lain aku mengirimkan pesan lama untuknya :

“Aku mencintaimu Bukan karna kamu tidak memiliki kekurangan, Untuk men-dapatkanmu, aku rela mengorbankan kehidupan & cita-citaku, karna aku tahu dengan bersamamulah akan lahir kehidupan & cita-cita baru yang lebih mulia & menentramkan Jiwa”.

Sejak saat itu, dia telah banyak melukiskan kisah yg tak pernah dia kenal, kisah yg dia gantung pada museum perjuangan hidupnya. Ia membingkai semua kisah hilang dari apa yg telah dialaminya pada sebuah galeri yg belum terisi. Lewat pensil kehidupan dengan kisah yang buram, wanita itu menuliskan makna dari namanya sendiri : Sang Pembuka Peradaban.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist