Anshar Aminullah

Beberapa hari ini Twitter berkali-kali diramaikan dengan hastag #kebayamerah. Video dua orang beda jenis yang mencari duit lebih lewat video dewasa. Tak menunggu waktu lama, pihak berwajib berhasil membekuk kedua pelaku. Sekitar 92 video dewasa konon telah mereka produksi. Jumlah yang tak main-main. Bisa dipastikan mereka cukup profesional untuk urusan produksi film jenis ini.
Apa ini ada hubungannya dengan kecenderungan kita sejak masa lalu, bahwa konon salah satu sifat asli orang Indonesia itu adalah artistik. Mereka suka seni. Hingga pada akhirnya kelakuan tak bermoral seperti ini pun mereka jadikan sebagai jualan dengan berdalih karya seni. Entahlah, pikiran liar tak bersumber jelas ini tak boleh ada di kepala kita.

Perilaku mereka menggunakan kebaya sebagai salah satu simbol tradisionalisme bangsa kita ini memang cukup berpotensi membuat kita akan semakin direndahkan oleh bangsa lain. Namun kekuatiran ini tak begitu tergambarkan selama video ini beredar luas, mungkin karena sebagian dari kita selama ini menganut prinsip religius yang tinggi. Bahwa semakin kita direndahkan oleh orang lain maka semakin mulia kita di atas langit.

Kita semua paham, film dewasa di Barat sana memang telah menjadi industri. Tapi itu tak boleh menjadi alasan bagi kita untuk menjadi lemah dalam bersikap atas ‘kegaduhan’ yang dilakukan oleh kedua orang yang menginjak-injak status kita sebagai bangsa yang berbudaya. Atau sekali lagi, jangan-jangan tak sedkit dari kita memang senang ketika terinjak agar supaya makin menegaskan bangsa kita ini adalah gudangnya orang arif dan bijaksana.

Apapun alasannya, bangsa ini tak boleh mengalah dengan perilaku ‘nyeleneh’ si Kebaya Merah dan mungkin selanjutnya Si Kebaya-kebaya hijau, kuning, kelabu, biru muda dan ungu yang tak pernah merasa hatinya kacau. Cukuplah tim Sepakbola saja yang kadang mengalah dengan skor titipan para petinggi mereka, Sepakbola yang petingginya tak pernah merasa hatinya kacau, lalu mundur oleh karena ratusan nyawa telah melayang karena kelalaiannya dalam mengurus organisasi. Andai Jepang mewariskan budaya harakiri saat menjajah kita, mungkin akan lain ceritanya.

Pasca pelaku tertangkap, hingga detik ini tak pernah ada rasa bersalah kepada bangsa ini dimuka mereka pada foto-foto di berita yang beredar. Permintaan maaf pun tak kunjung mereka ucapkan. Mungkin mereka masih merasa disupport dan mendapat dukungan jauh dari dalam hati dari para penonton setiap adegan mereka. Dukungan yang diberikan saat berpura-pura membaca pesan singkat dari kontaknya, sambil menahan nafas dan jantung berdegup kencang dengan mata yang tak berkedip. Dan bisa jadi pelaku ini masih punya niatan kuat untuk melakukan kegiatan yang sama dilain waktu, karena menganggap loyalis setia mereka yang seolah sedang membaca share video bijak di gelapnya kamar masih menunggu video binal kedua orang penumpang gelap nilai simbolis tradisionalisme ini. Selebihnya mari kita istighfar.

Artikel ini juga telah tayang sebelumnya di :
https://herald.id/2022/11/11/kebaya-merah-penumpang-gelap-nilai-simbolis-tradisionalisme-bangsa/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist