Anshar Aminullah

Saat ini, kadangkala pada permukaan kita memilih untuk terlihat tidak peduli, bagaimana seseorang menganalisis kecenderungan kondisi perpolitikan bangsa ini pada konteks yang berbeda-beda dalam sebuah ruang diskusi tak resmi ataupun resmi. Namun dalam realitanya, tak sedikit kesempatan yang mengindikasikan dan justru membuktikan ketertarikan kita untuk ikut serta menyumbang analisis saat diskusi diberbagai sudut pandang. Entah itu dari sudut pandang Sosiologis hingga sisi Cocoklogis (istilah asal mencocok-cocokkan saja, yang penting ketemu ujungnya).

Membahas soal politik bangsa ini dan segala tetek bengeknya tak pernah habis daya minat pesertanya. Dan rakyat selalu memiliki peran ganda, menjadi peserta, pelaku, pengamat bahkan lebih langganan menjadi korbannya.
Demikianlah keadaan masyarakat kita sekarang ini. Dalam konteks posisinya sebagai rakyat, ruang untuk menuju kedewasaan dalam berdemokrasi, efektifnya hanya sekali dalam 5 tahun, yakni pada momentum Pilpres, Pileg, atau di saat Pilgub dan pemilihan Walikota atau Bupati. Sebuah pelajaran berulang agar dewasa berdemokrasi, namun pada prakteknya justru menjadikan semakin jauh dari kedewasaan itu sendiri.
Upaya Kedewasaan berdemokrasi yang kadang harus diikuti fatwa haram kalau golput. Fatwa yang tanpa ada pengecualian dan mencoba berhusnudzon soal keputusan orang yang melakukan golput itu. Dimana bisa jadi pilihan golput lahir dari sikap peduli yang mendalam terhadap persoalan bangsa. Dan justru segelintir person yang pergi memilih bisa jadi adalah wujud kepedulian dikarenakan dorongan serangan fajar dengan nominal yang mengoyahkan idealisme.
Upaya menuju kedewasaan berdemokrasi bernama pemilu yang sekaligus menjadi hajatan ‘pesta’ bagi rakyat mendadak dipermasalahkan. Ada kelompok yang meminta ditunda dan di sebagian yang lain mengingatkan agar jangan ada penundaan hajatan besar bangsa ini. Apatahlagi didalamnya konon ada terendus oleh para mahasiswa diberbagai kampus di negeri ini, soal upaya pengkhiantan konstitusi dan semangat reformasi dengan menambah-nambah periode masa jabatan.

Beredar secara berantai pesan di WAG perihal rencana aksi di tanggal 11 April 2022 yang akan serentak dilakukan oleh berbagai elemen Mahasiswa di seluruh Indonesia. Ada kemungkinan ini adalah sebuah riak dalam upaya mengembangkan kondisi-kondisi bagi refleksi diri semangat bermahasiswa yang dalam beberapa tahun terakhir nyaris kehilangan kritisnya seperti di orde-orde sebelumnya. Entahlah. Namun rencana Demo di bulan Puasa ini juga tak luput dari pengamatan tetangga saya, dimana dia merekam pendapat aktivis di sebuah Jejaring Sosial. Aktivis yang tak jelas, dia dalam ketersesatan yang cukup serius sebagai orang yang merasa dirinya intelektual walau kesiangan. Dia menempatkan dirinya sebagai pelawak dengan analisis aksi kuno tanpa penjabaran jelas bentuk aksi yang pas dengan semangat kebangsaan dan tradisi hidup dan kehidupan menjadi mahasiswa di Indonesia. Bangsa kita ini khan sudah jelas yang bisa menarik perhatiannya sejak jaman radio, televisi hingga internet, dimana masih didominasi oleh stigma ‘rusuh’ baru seru.

Bagi beberapa mahasiswa sendiri Kalau tidak rusuh tidak ramai aksinya. Ditambah lagi media peliput yang kadangkala butuh angel gambar yang sedang bakar-bakaran dan lempar-lemparan agar adrenalin penonton televisi ikut naik dan tak memindahkan channelnya walau iklan ikut menyela pemberitaan ini. Video Youtube dan Video singkat di beberapa jejaring sosial pun acapkali keributannya yang justru menarik minat kita untuk mengunduh dan menontonnya.

Tak sedikit yang akan bertanya-tanya soal mengapa penundaan pemilu ini mesti bergulir. Menariknya, permintaan itu justru terucap dari beberapa ketua parpol malah. Padahal jika kita cermati dari berbagai pemberitaan, KPU dan Bawaslu diberbagai tingkatan, itu terlihat cukup siap menyongsong hajatan di 2024 ini. Dan jangan lupa, sejumlah Rumah Sakit Jiwa pun kelihatannya sudah terlihat cukup siap mengantisipasi lonjakan pasien, khusus bagi para kontestan pemilihan legislatif yang tak kuasa menghindari beban psikis alias depresi karena kegagalannya.
Seyogyanya ragam perspektif dan persepsi dalam melihat rencana aksi 11 April ini dipandang sebagai sebuah dinamika pemikiran dan kekayaan analitis.
Bulan Ramadhan menjadi alasan bagi banyak pihak dan menyarankan agar Mahasiswa menahan diri dari aksi mendemo Penguasa.
Dan rasa-rasanya tak bijak jika kita benturkan dengan asumsi “puasa ramadhan kita harus menahan diri”. Karena hemat saya, puasa bukan soal itu saja. Tapi masih ada aspek hak, kewajiban, dan anjuran.

Saat tak sedikit orang merasa bahwa bangsa ini sedang tidak baik-baik saja, dan mereka memutuskan untuk turun kejalan meminta para ulil amri di Indonesia agar berlaku bijak dan adil, kita jangan serta merta memvonis bahwa mereka tidak menghormati bulan ramadhan. Jangan-jangan semangat beribadah mereka dalam meneriakkan sebuah kebaikan bagi ummat, justru menghadirkan pahala yang banyak dan kita yang menganjurkan agar jangan demo justru mendapatkan dosa karena melarang mereka melakukan kebaikan.

Soal efek kemacetan dan beberapa aktivitas tertunda bagi para pengendara yang terjebak kemacetan, anggaplah bahwa itu sebagai bahagian dari ruang berbuat baik dan melatih kesabaran yang dihadirkan oleh Mahasiswa. Berterima kasihlah ke mereka, yang hanya meminta sedekah waktu kita, yakni bergelut dengan macet demi niatan mereka memperbaiki bangsa ini. Kita tak boleh terlalu kikir walau itu hanya sedekah berbentuk pengorbanan waktu beberapa jam demi kebaikan negeri ini.
Puasa ramadhan ini juga tetap mengajarkan kita untuk bermental pejuang. Sebagai makhluk sosial dan khalifah Allah di muka bumi, yang memiliki daya juang untuk sesama, berupa berbagi rejeki dari hasil kerja kita selama ini. Dan daya juang untuk berbagi hasil perenungan kita selama ini, untuk kebaikan bangsa Indonesia. Sebuah perenungan akan kondisi keummatan dan kebangsaan yang berwujud gerak-aksi bernama demonstrasi yang ‘kita’ wakilkan pada mahasiswa.
Bisa jadi kita yang sibuk beribadah ramadhan sebagai jamaah masjid, justru itu malah menggambarkan sebentuk ‘ego’ kita, karena hanya memikirkan diri sendiri. Sementara mahasiswa yang aksi di jalan, justru adalah jamaah demokrasi, jamaah kemanusiaan yang lebih paham dan tergerak berpanas-panasan di bulan ramadhan, demi kebaikan bangsa, demi mewakili kesulitan rakyat yang berupaya bangkit ditengah pandemi. Mereka bisa jadi adalah jamaah peradaban bangsa ini dimasa yang akan datang. Dan mereka justru lebih paham, kapan berpuasa demo dan kapan yang berkuasa di demo. Wallahu A’lam.

Artikel ini juga telah tayang di https://sulsel.herald.id/2022/04/10/konsep-otomat/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist