Disuatu sore setelah menunaikan shalat ashar, di sebuah pohon tua depan masjid, terpampang baliho kecil salah seorang bakal calon Presiden RI di pemilu 2024 nanti. Saya cukup familiar dengan nama dan gambar tersebut. Di momentum Pemilihan Gubernur 2007 lalu pun saya telah melihat gambar dan sosok asli pria tua ini. Dengan kamera tergantung di lehernya, dia menjepret setiap gambar peserta disalah satu pertemuan organisasi kepemudaan 16 tahun silam. Namanya Capt. Rusly Ibrahim. ME. Saya sendiri tak memiliki cukup data perihal asal pelaut pria tua berbaret merah berbintang lima ini. Disalah satu pemberitaan media nasional juga pernah saya baca bagaimana dia mengadu pada Sandiaga Uno soal perkara tanahnya di Jakarta.

Masih cukup segar di ingatan kita mungkin, bagaimana tulisan-tulisan di baliho ataupun pamplet yang dia sebar langsung oleh dia sendiri di beberapa momentum politik di Sulsel. Saat hendak mencalonkan diri sebagai Gubernur, dengan tegas dia menyampaikan di salah satu forum kala itu tentang komitmennya dalam mensejahterahkan rakyat, dan tidak akan korupsi, jika dia tidak mampu, dia siap untuk digantung. Satu setengah dekade, balihonya bertebaran lagi dibeberapa lokasi, nyaris tak banyak berubah dari janji politiknya, hanya raut mukanya yang telah banyak berkeriput dimakan usia, namun tidak dengan kekonsistenannya dalam berkomitmen berbuat yang terbaik untuk rakyat.

Sebagai sikap bijak, maka tak elok rasanya jika kita menertawakan apa yang dilakukan oleh sosok Capt. Rusly Ibrahim ini. Kita semua mungkin dapat memprediksi bahwa tak akan pernah ada satu parpol pun yang akan melamar untuk mengendarai partainya. Dan mungkin tak akan pernah sampai kapanpun cukup dukungan KTP untuk maju melalui jalur non parpol. Sebab terlalu banyak kriteria yang belum bisa terpenuhi oleh bapak berusia senja ini. Bahkan tak sedikit diantara kita bisa jadi menganggap bahwa ini adalah salah satu bentuk ketakwarasan yang dirawat oleh Capt. Rusly Ibrahim secara tidak sengaja. Hal ini diakibatkan oleh karena terlalu lama beliau berada dalam ilusi dan mimpi besarnya menjadi pemimpin. Dan berbagai spekulasi mengarah fakta atas segala perilaku tak memenuhi unsur tahu kapasitas dari bapak ini dalam setiap momentum politik.

Namun kehadiran pria berbaret merah ini, seolah mrmberikan sebuah edukasi yang cukup berharga bagi kita semua yang merasa sedikit lebih waras dari dia. Pertama, kekonsistenannya dalam janji politik bahwa siap ditembak mati jika tak mampu membuktikan visi-misinya. Ini seolah menyadarkan kita, bahwa kesadaran akan wajibnya memenuhi janji politik, itu diatas segalanya. Dalam kenyataan selama ini, tak sedikit Bupati ataupun Gubernur yang tak sanggup mewujudkan Visi-Misinya dengan baik hingga habis masa jabatannya. Ini seolah menegaskan kepada kita semua, bahwa keberanian menanggung konsekwensi berat atas ketakmampuan itu justru mau dilakukan oleh pria tua lemah yang tak pernah sekalipun diperhitungkan dalam percaturan politik lokal, regional bahkan nasional.

Kedua, konsistensinya hadir menyemarakkan bursa calon pemimpin disetiap momen walau dengan berbagai keterbatasan, itu tak pernah menyurutkan langkahnya. Ini bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi kaum muda kita. Bahwa sekecil apapun peluang kita, dan seterbatas apapun kesempatan kita, itu tak boleh menciutkan nyali untuk tetap ikut ambil bagian. Perkara berhasil atau tidaknya itu belakangan, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap merawat mimpi-mimpi kita dan biarkan Tuhan yang memeluk dan mewujudkan mimpi itu jika masanya telah tiba. Karena urusan kita hanyalah beriktiar dan bertawakkal, selebihnya adalah kehendak Yang Maha Kuasa.

Ketiga, Capt. Rusly Ibrahim ini menggelitik kesadaran berpolitik kita, bahwa ‘ketaksadaran’ dalam ingatan dia justru telah menghajar bangunan kokoh kita terhadap mindset bahwa politik dan uang banyak akan selalu bergandengan. Lihatlah Capt Rusly ini, dia berjalan seorang diri mencoba meyakinkan rakyat yang dilewatinya untuk mendukung dia, dan sepertinya tak seorang pun yang memperdulikannya oleh karena tak sedikit pun nampak padanya bahwa dia memiliki kekayaan yang cukup untuk maju menjadi calon pemimpin. Mestinya kehadiran pria tua ini mengingatkan kita bagaimana kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib dengan kesederhanaannya, dia yang tak pernah mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya. Bahkan dia harus mematikan lentera yang menggunakan minyak dari duit rakyat saat ada tamunya yang membawa urusan pribadinya.

Terlepas dari pertimbangan waras dan kurang waras, layak dan belum layak, kehadiran Capt. Rusly Ibrahim mestinya menjadi pelajaran penuh hikmah bagi kita semua. Minimal adalah tetap bisa memperlakukannya sebagai makhluk Tuhan yang sama kedudukannya dengan kita semua. Sebab jangan sampai disetiap kehadirannya, disaat itu pula kita menganggap kita sedikit lebih baik dari dia namun tak menyadari bahwa hal tersebut tetap akan dicatat oleh Malaikat, dan kelak kita tak akan memiliki kemampuan untuk menjawab satu kalimat pun, saat Capt Rusly mengadukan segala keluh kesahnya akan sikap kita kepadanya tepat dihadapan Tuhannya di Yaumil Akhir kelak. Wallahu A’lam

Artikel ini juga telah terbit di https://portalmedia.id/kolom/24/belajar-konsisten-walau-peluang-nihil-ala-capt-rusly-ibrahim

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist