Kata salah seorang tokoh Nasional asal Sulsel dalam sebuah kesempatan dialog, agar engkau menjadi orang yang sukses, maka engkau harus memenuhi tiga syarat. Pertama, orang tuamu harus sukses lebih awal. Kedua, engkau harus menikah dengan orang yang kaya dan sukses. Ketiga, saat kedua poin diatas susah engkau penuhi, maka engkau harus bekerja keras, tekun dan ulet. Ketiga hal diatas selalu saya ingat. Namun ketika kita berada pada lapisan kelas kaum marginal dan pinggiran, rasa-rasanya, bermimpi untuk apa yang bisa dimakan besok jauh lebih penting dibanding menghayal untuk jadi orang kaya dan sukses.
Kehadiran kaum pinggiran plus termarjinalkan adalah kondisi yang acapkali memang harus kita terima sebagai sebuah konsekwensi pada majunya peradaban suatu kota modern. Apatahlagi kota seperti di Makassar dan beberapa daerah lainnya di Sulsel. Jarak tingkat perekonomian dan kesejahteraan yang cukup signifikan pada beberapa sampel antar Kepala Keluarga dalam satu kelurahan, seringkali kita dapati kesenjangan itu.
Memang, kepedulian sebagai tetangga dan sebagai makhluk sosial untuk urusan kebutuhan sembako memang tak perlu kita ragukan lagi, bahwa kepedulian antar sesama di Sulsel, kita masih ada pada levelan sangat peduli.
Namun hal itu tak cukup untuk menghilangkan potensi terjadinya persoalan sosial lainnya untuk Kepala Keluarga berstatus Pra Sejahtera.
Di beberapa pemberitaan media online, cetak maupun televisi. Seringkali kita dapati berita kekerasan seksual, perampokan, pembunuhan, dan berbagai kasus lainnya yang kerap menimpa kaum pinggiran ini. Faktor keterbatasan SDM dan lemahnya kondisi ekonomi mereka menjadi bagian sebab mudahnya kasus tersebut menimpa mereka.

Kelompok Peduli itu bernama BMPI

Kelompok Tulus itu bernama BMPI. Dia adalah sekelompok orang-orang yang peduli terhadap persoalan sosial, persoalan bangsa. Barisan Masyarakat Pinggiran Indonesia ini mencoba responsif terhadap berbagai masalah dan persoalan yang menimpa orang-orang yang kurang mampu menyelesaikannya akibat keterbatasan akses dan jaringan yang dimilikinya.
Saya cukup mengenal satu orang person yang menjadi Founder dari organisasi ini. Saya baru saja bertemu kembali dengan dia. Sejak menghilangnya dia 25 tahun lalu dari status siswa di kelas kami di STM kala itu. Rentang waktu pada ketidak hadirannya sangat terasa. Dia adalah figur terdepan yang selalu membuat kami mampu ikut melawan tekanan anak-anak jurusan Mesin di STM. Tradisi kami di anak elektronika komunikasi memang dikenal sedikit lebih adem dibanding dengan jurusan Mesin yang selalu bergelut dengan alat-alat berat. Person ini memang tak terprediksi stylenya kala itu. Dengan model celana senapan ala Cowboy, sepatu boots Dr Martens, tampilan rambut rapi dan selalu menyanyikan lagu Slank saat memasuki ruang kelas. Nampak seolah dia adalah Siswa yang tak punya nyali berhadapan dalam aktivitas tawuran era 90an.
Namun banyak yang diperkelirukan oleh tampilan sopannya. Dari beberapa peristiwa tawuran di sekolah, dia selalu menjadi yang terdepan memimpin, alasan dia bahwa ini persoalan harga diri sekolah.
Pasca peristiwa itu dia menghilang entah kemana. Beberapa kali anak kelas mesin masuk dikelas kami berteriak lantang menantang, namun kala itu itu selain karena pertimbangan tidak perlu menggubris orang yang tidak punya kerjaan seperti ini, juga kami sekelas memang tak punya lagi dan hanya sanggup mengingat bahwa kami punya seorang jagoan yang heroik yang sangat peduli terhadap persoalan teman kelas dan sekolahnya, seseorang yang telah menghilang dikelas kami entah kemana.

Beberapa waktu lalu jejaknya terlacak oleh WAG teman sekelas kami. Kami mengundangnya masuk bergabung. Kalimat yang selalu dia lontarkan adalah betapa dia menyesali segala bentuk perilakunya semasa sekolah, dan itu harus dia hindarkan pada anak-anaknya agar tak tersentuh dengan kenakalan berbentuk apapun sejak masa sekolah hingga kuliah.
Yang tidak berubah adalah sikap pedulinya. Saya bentuk lembaga yang selalu siap membela hak-hak kaum pinggiran ungkapnya. Kami merasa hanya ini yang bisa kami lakukan. Kebanyakan dari kami itu punya keterbatasan dalam hal finansial, namun kami masih punya tenaga dan fikiran untuk membantu masyarakat yang jadi korban ketidakadilan hukum, ungkap sahabat saya ini.
Rupanya selama dia menghilang, kapedulian dan sikap tak kenal takutnya membela yang dia anggap perlu dibela itu tidak serta merta hilang. Dari berbagai kasus yang dibelanya menurutnya itu murni dorongan nurani, murni karna sangat penting bersuara lantang untuk sesama kita yang tertindas dan tak mendapatkan perlakuan adil dalam masyarakatnya. Bahkan dibeberapa peristiwa bencana alam pun mereka tetap menjadi salah satu garda terdepan bergerak membantu walau itu masih dengan berbagai keterbatasan mereka.
Dari niat yang baik akan selalu memberikan ruang lebih bagi Allah buat mensehatkan kami untuk berbuat, ungkap sahabat saya ini yang akrab dipanggil Ullu, namun saya tetap memanggil dia Hasyim, iya Hasyim. Sebuah nama diabsen kelas yang kerap menasbihkan posisi tingkat kecerdasan saya diatas dia lewat intimidasinya memaksa kertas lembar jawaban saya untuk dibagikan kepadanya saat jam ujian berada diwaktu krusial.
Saya kemudian tersadar, bahwa kesuksesan kita memang tidak serta merta pada keberhasilan menaklukkan kemiskinan dan menjadi orang kaya. Namun kesuksesan kita itu juga saat kita bisa menaklukkan rasa takut untuk membela sesama dan berjuang bersama atas hak-haknya yang terabaikan, entah oleh yang berkuasa ataupun oleh orang yang memiliki kekayaan harta dan status sosial yang tinggi.

Kita selalu berharap, Barisan Masyarakat Pinggiran Indonesia ini tetap menjadi bagian dari Kelompok Sosial kemasyarakatan yang berkolaborasi hal positif dengan pemerintah. Kelompok yang selalu hadir dan menginspirasi komunitas dan organisasi lainnya untuk tetap istiqomah dalam berbuat baik untuk orang sekitar kita.
Barisan ini juga harus tetap menjadi representasi perjuangan kaum pinggiran. Yang selalu hadir untuk kebaikan bangsa dan ummat, hari ini, esok dan yang akan datang. Istiqomah dalam sebuah ‘shaf yang rapat’ untuk kebaikan ummat dalam sebuah ikhtiar berkelompok bernama BMPI.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist