Anshar Aminullah

Dalam beberapa peristiwa, tak mesti dibutuhkan analisis komparatif dan historis untuk membuktikan sebuah kecenderungan perbedaan. Terlebih pada soal kapan mulai puasa pertama di tiap tahunnya.
Memang dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan pada perbedaan puasa pertama di Indonesia tak lagi terjadi secara massif. Tentunya Komunitas Islam di An-Nadzir tetap menjadi pengecualian. Dimana awal Ramadhan dan berlebaran berdasarkan perhitungan versi mereka, acapkali membuatnya lebih awal dalam melaksanakan pada lingkup komunitasnya.
Tahun ini puasa pertama Ramadhan akhirnya beda juga. Edaran Muhammadiyah yang sempat terposting dibeberapa akun media sosial, pada akhirnya membuat tak sedikit yang memilih berpuasa sehari lebih awal dari putusan pemerintah.
Kita tak usah berdebat soal siapa yang benar dan siapa yang paling benar akan hal ini. Yang jelas bahwa yang keliru adalah yang tidak berpuasa lantas keluar rumah berpura-pura loyo, padahal mulutnya bau Rokok dan sambel terasi.
Puasa dalam konteks pemikiran Cak Nun, itu idealnya menjadi titik pijak sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia muslim. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis, lalu teologis lalu kemudian kultural.
Namun belum kita memulai tujuan gerak kita pada konteks diatas, dan juga belumlah reda rasa was-was masyarakat kita soal potensi terjadinya kelangkaan minyak goreng saat ramadhan dan saat jelang lebaran. Mendadak puasa pertama ini dibarengi dengan kenaikan BBM pertamax yang dilakukan oleh pemerintah. Kenaikan yang dilakukan ini terlihat nampak santai, dan tak ada riak. Mungkin karena telah diprediksi bahwa jika dinaikkan diawal Ramadhan maka aksi demo akan bisa diminimalisir.
Sepertinya masyarakat kita mungkin masih dalam keadaan sehat-sehat saja. Karena biasanya jika masyarakat tidak sehat akan terjadi ketidakteraturan
(kekacauan), kecenderungan konflik,
perpecahan dan persengketaan karena sosialisasi BBM tidak berjalan dengan baik.
Namun aneh bin ajaib memang. Kenaikan harga Pertamax ini hal yang dikuatirkan di atas tidaklah terjadi. Mungkin Ramadhan hadir tepat disaat pemerintah sudah sangat siap menyambutnya dengan tepat, walau itu dengan kebijakan kurang tepat bernama kenaikan Pertamax yang jauh-jauh hari telah mereka perhitungkan.

Puasa pertama ini memang harus jadi momentum bagi masyarakat kita agar lebih siap menjadi masyarakat digital yang tetap menjunjung nilai-nilai Islam. Bukan masyarakat Kapitalis di Industri modern. Sebab hanya pada masyarakat kapitalis di industri modernlah menjadi rutin bagi para penguasa untuk bertindak atas alasan efisiensi dan penuh perhitungan, bukan karena alasan emosi atau tradisi, atau karena kesetiaan kepada pemikiran yang sempit. Walau pun pada akhirnya beberapa hari lalu salah satu petinggi negara ini di video singkat yang beredar tetap menganggap kecenderungan kurang piknik (mengarah berfikir sempit) bagi yang mempersoalkan dan tegas dalam membahas TOA di mesjid.
Puasa pertama kali ini juga kita harapkan menjadikan kita pribadi yang menduniakan yaumil akhir, mengakhiratkan kehidupan dunia serta mendunia-akhiratkan hidup dan kehidupan kita dalam jangka panjang. Kenaikan BBM pertamax anggaplah sebagai salah satu ujian tambahan kita menuju kategori orang-orang yang bertakwa. Dan pada akhirnya kita menjadi pribadi yang kuat serta rasional pada pilihan-pilihan berdasarkan keyakinan kapan Puasa Pertama atau kapan Puasa pertamax. Wallahu A’lam.

Artikel ini telah tayang di https://sulsel.herald.id/2022/04/03/puasa-pertama-dan-puasa-pertamax/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist