Anshar Aminullah

Hari ini Bangsa kita sedang berulang tahun kemerdekaan yang ke 77. Angka cantik yang hanya bisa diperoleh sekali dalam satu dasawarsa. Sejak dari awal Agustus semangat HUT Kemerdekaan ini terasa dimana-mana. Bendera yang berkibar disetiap rumah, hingga poster para bakal calon kontestan Pileg, dan Pemilihan Kepala Daerah juga tak kehilangan momentum untuk turut memeriahkan sekaligus menegaskan eksistensi kesiapan mereka berkompetisi.
Hari ini juga sepertinya jadi hari buat beristirahat sejenak. Rehat dari hiruk pikuk pembahasan dan pemberitaan kasus pembunuhan, peristiwa yang mengakibatkan terguncangnya instansi kepolisian kita oleh karena yang terseret adalah putra-putra terbaik bangsa yang terjebak khilaf berujung fatal.

Kita berharap ada jeda sejenak dari kasus aneh pencuri coklat versus karyawati salah satu toko ritel. Namun apa daya kehendak nitizen untuk berkomentar sulit terbendung diberbagai media sosial.
Kita juga berharap ada jeda sejenak dari beban hidup yang mendera saudara-saudara kita yang bekerja sebagai buruh harian dengan gaji pas-pasan. Mereka yang acapkali perutnya dan perut keluarganya masih akrab dengan kondisi keroncongan. Ataukah saudara sebangsa kita, para pengangguran yang masih belum juga mendapatkan peluang kerja yang layak dari pemerintah, setidaknya bisa sedikit rileks dari beban cicilan utangnya direntenir yang tak kunjung mereka bisa lunasi.

Kemerdekaan dibanyak hal adalah dambaan kita semua. Ini adalah target para pejuang kemerdekaan yang tidak boleh kita biarkan melebihi ambang kesalahan untuk bisa mencapai target yang mereka impikan.
Dan para putra kebanggaan bangsa yang dihargai lantaran kesempurnaan peforma yang berdampak pada melejitnya karier mereka. Hari ini mereka terpaksa melupakan dan menghapus mimpi puncak kariernya. Mereka semua semestinya menjadi aktor yang sanggup melihat kelangsungan esensi-esensi peformanya dan sanggup menunjukkan siapa dirinya lebih dari sekedar sebagai lulusan akademi terbaik, tetapi mereka adalah aset bangsa yang akan menjadi penjaga pondasi kemerdekaan para pendiri bangsa ini. Namun apa daya, mereka justru kehilangan kemerdekaan mereka dari ego dan merdeka dari tekanan solidaritas teman sesama institusi. Hari ini semestinya mereka dengan seragam bertaburan pangkat dan tanda jasa mengangkat tangan tanda hormat dipengibaran bendera merah putih. Tapi justru mereka sekarang sedang mengangkat tangan dalam sebuah kepasrahan nasib putusan beberapa bulan kedepan.

Kisruh perseteruan pencurian coklat dan karyawati toko retail. Mereka yang seharusnya hari ini bergembira ria ikut lomba antar tetangga dikemeriahaan pesta rakyat. Hari ini mereka justru terlibat maaf-maafan situasional. Maaf yang tak pernah ikhlas dilakulan. Satunya meminta maaf karena diancam proses hukum oleh pengacara. Yang satunya meminta maaf karena sadar akan dapat masalah besar telah memaksa orang lain meminta maaf. Tindakan yang selalu berulang dan kadang sangat membosankan oleh karena sudah terlalu banyak emosi dan rasa iba yang kita investasikan pada peristiwa ini, namun ujung-ujungnya justru kita yang cenderung terseret kehilangan kemerdekaan dalam berpihak.

Kesusahan hidup tak berujung para buruh harian dan para pengangguran bangsa ini. Hari ini mereka semestinya mendapatkan bonus dari perusahaan tempat bekerjanya. Menikmati hidup layak oleh karena kekayaan bangsa ini yang melimpah dan menjadi hak mereka seperti yang dimaktubkan dalam UUD 1945. Namun pada kenyataannya, mereka masih berada pada tingkatan imajinasi yang tinggi tentang kehidupan yang layak bersama keluarga kecil mereka.
Jangankan untuk memiliki iPhone Pro Max 512gb. Bahkan untuk sekedar menyentuhnya pun mereka sulit mendapatkan kesempatan itu. Mereka berada pada kelas sosial yang hanya bisa pasrah tak bisa lagi menonton televisi lewat tv tabungnya oleh karena peralihan dari siaran analog ke digital tak mampu mereka sambut dengan membeli tv baru. Bahwa untuk makan mereka jauh lebih prioritas dibandingkan urusan hiburan tontonan dalam keluarga. Mereka dipaksa untuk mengambil posisi sebagai penonton luar atas perubahan ke era digital ini.

Diusia ke 77 tahun ini. Kita masih menyimpan asa yang besar agar bangsa ini bisa pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat dalam menyongsong masa depan yang lebih baik. Harga diri bangsa ini harus tetap kita jaga lewat menumbuh kembangkan moralitas yang kuat dan komitmen kebangsaan yang mantap. Para pemangku jabatan dilevel elit harus tetap bersandar pada legitimasi moral. Ini urgen, sebab masa depan bangsa ini sedang kita pertaruhkan oleh ulah segelintir orang yang semena-mena karena jabatannya, oleh secuil orang yang merampok bangsanya sendiri lalu membenturkan kepala Indonesia hingga hilang ingatan akan identitasnya sendiri.

Kita sedang berada pada sebuah persimpangan, pada situasi merdeka dalam khayalan tetapi terluka dalam kenyataan. Jika kita tidak berbenah dari sekarang, bagaimana mungkin di masa depan kepala kita bisa tegap dihadapan anak-cucu kita jika ternyata kepada mereka kita wariskan berupa bangsa dengan kondisi bobrok moralnya dan rusak mentalitasnya. Mungkin saat itu mereka adalah generasi dengan rasa malu yang sangat tipis dengan mentalitas tangan dibawah lebih baik dari tangan di atas. Jika kita kuatir dengan kondisi itu, mungkin sebaiknya dari sekarang kita berbenah agar dimasa depan mereka dengan bangga menyebut nama kita yang telah memberikan tongkat estafet sebuah bangsa yang sedang berada dalam sebuah peradaban besar.

Dirgahayu ke 77 Bangsaku. Merdeka!

  • Artikel ini telah tayang sebelumnya di :
    https://herald.id/2022/08/17/merdeka-dalam-khayalan-terluka-dalam-kenyataan/

  • By Anshar Aminullah

    Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist