Anshar Aminullah

Dalam sepuluh hari terakhir ada dua kasus bunuh diri di Sulsel yang membuat kita cukup prihatin, ibu B di Pinrang dan MI di Takalar. Bahkan ada lima kejadian se-Indonesia dalam sepekan terakhir. Ironisnya ini terjadi tepat dibulan peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia pada 10 September.
Dalam beberapa riset ditemukan bahwa biasanya tindakan bunuh diri ini ikut dipengaruhi tingkat atau tipe integrasi sosial. Bunuh diri dalam konteks ini merupakan frekuensi dari sebuah fakta sosial yang ada di dalam masyarakat kita.
Jika mencermati data Emotional Health for All Foundation (EHFA) terungkap bahwa 77% bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah seperti yang banyak terjadi di Indonesia. Data Kepolisian Republik Indonesia sendiri di tahun 2020 saja terdapat 671 kasus kematian akibat bunuh diri. Sementara data Potensi Desa Badan Pusat Statistik di tahun 2021 terdata ada 5.787 korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri.

Dari pengamatan diberbagai pemberitaan beberapa tahun terakhir, dalam pendekatan Durkheim, Bunuh diri yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir didominasi oleh 2 tipe, pertama, Bunuh diri Egoistik. Ini adalah jenis Bunuh diri yang dilakukan seseorang akibat lemahnya ikatan sosial atau kondisi masyarakat yang automistik atau disebut juga individualistik.
Dimana yang bersangkutan seolah harus menanggung seorang diri segala penderitaannya tanpa tempat berbagi atau tempat untuk mencurahkan perasaannya yang ketika individu lambat laun tidak kuat, dia bisa mengambil opsi untuk bunuh diri.
Tak sedikit orang-orang disekitar kita yang berutang kemudian tidak sanggup melunasi pembayarannya, lalu dia merasa dikejar-kejar oleh tagihan yang pada akhirnya membuat dia depresi. Tak jarang akhirnya mereka lari dari masalah dengan cara bunuh diri. Dua kasus bunuh diri dalam seminggu ini, jumat kemarin MI yang tak kuasa lagi menahan beban tagihan utang dari beberapa orang akhirnya menghabisi nyawanya sendiri dengan menenggak racun serangga , dan lebih seminggu sebelumnya, Ibu B di Pinrang yang menghabisi nyawa kedua anaknya sebelum dia menghabisi nyawa sendiri dengan racun dan gantung diri, dari rekaman Voice Notenya mempertegas juga ditengarai karena beban terlilit utang.

Yang Kedua adalah Tipe Fatalistik. Ini adalah Bunuh Diri yang dilakukan karena individu merasa sangat terkekang kehidupannya. Seakan-akan hidupnya itu sudah ditentukan oleh orang lain, bisa jadi akibat kekangan atau tekanan psikis dari orang lain. Kondisi ini kerapkali menjadi alasan seseorang mengakhiri hidupnya. Jumlah kasus pada tipe ini dalam beberapa pemberitaan beberapa bulan ini juga tidak sedikit. salah satunya pada 8 Agustus 2022 lalu, Ido (32), warga di Sinjai yang nekat membunuh mertuanya, oleh karena tekanan psikis mertuanya yang hendak memisahkan dia dengan istrinya yang menurutnya hubungan mereka memang sering mengalami cekcok.

Dari beberapa kasus diatas, kita cukup prihatin dengan kondisi ini. Olehnya itu penguatan kepedulian kita khususnya dalam bertetangga, mulai dari sekedar saling menyapa hingga saling berbagi cerita perlu dibudayakan. Hal ini akan sangat membantu seseorang minimal berbagi beban psikis masalahnya walau dalam dalam bentuk berbagi cerita. Dan secara tak langsung juga akan menguatkan solidaritas sosial kita dalam masyarakat sebagai upaya untuk keluar dari berbagai persoalan sosial yang marak selama ini.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Meninggal Tak Wajar di Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia, https://makassar.tribunnews.com/2022/10/02/meninggal-tak-wajar-di-hari-pencegahan-bunuh-diri-dunia.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist