Portrait of Raden Adjeng Kartini (1879-1904), circa 1890. Private Collection. Artist Anonymous. (Photo by Fine Art Images/Heritage Images via Getty Images

Hari ini menjadi hari istimewa bagi para perempuan Indonesia. Sudah 145 tahun berlalu dari kelahiran seorang R.A. Kartini, dan hingga hari ini kelahirannya diperingati setiap tahun dalam rangka merefresh dan mereview kembali semangat para perempuan tanah air guna memberikan yang terbaik bagi negeri.

Di sela jelang peringatan hari Kartini tahun ini, ada ironi oleh karena tersisa sebuah duka mendalam. Adalah JU (35 Tahun), korban KDRT di jalan Kandea, Makassar yang harus rela kehilangan nyawanya di tangan suami yang dicintainya. Peristiwa yang membuat pilu hati siapapun yang mendengarnya. Tak hanya fitnah kabur dengan pria lain, dikubur secara tak layak yang diawali aksi keji menjadi serangkaian cerita dari mendiang JU ini.

Kekerasan yang menimpa JU adalah satu dari ratusan bahkan ribuan kasus kekerasan di Indonesia yang mendera para wanita khususnya yang masih berstatus istri. Peristiwa semacam ini seolah tak pernah ada habisnya. Dan cukup wajar, dari sekian banyak kasus perceraian, tak sedikit perempuanlah yang banyak melakukan gugatan. Dan alasan KDRT selalu menjadi pemicu utamanya, sedikit diantaranya kemapanan ekonomi seorang istri dibanding sang suami juga menjadi salah satu penyumbang stimuli untuk mengajukan gugatan di pengadilan agama.

Pada ruang sosial, peran perempuan mungkin telah terdiferensiasi. Namun ini tak boleh menjadi perdebatan berlarut-larut. Sebab kebebasan peran perempuan khususnya di perkotaan dalam berbagai segmen adalah sebuah diferensiasi yang dibawa oleh masyarakat modern yang tetap membutuhkan individu yang fleksibel dan rasional.
Singkatnya , seiring dengan semakin tidak ramahnya kota terhadap kehidupan masyarakat,
maka kepentingan diri sendiri menjadi semakin penting. Acapkali didapati satu rumah namun semuanya sibuk dengan dunia masing-masing.
Eksistensi kemapanan kaum perempuan pun di media sosial banyak kita jumpai, sebagai ibu-ibu pebisnis produk kosmetik dan pakaian. Keberhasilan bisnis yang memapankannya terlihat ke publik berupa tumpukan duit banyak hasil jerih payahnya. Namun pun demikian, banyak diantaranya tetap menjadi wanita yang tawadhu yang artinya lebih sederhana dalam bersikap tanpa merendahkan diri sendiri. Juga sebagai wanita tawadhu, yang percaya diri dalam tindakannya tapi tetap tidak merasa dirinya lebih baik dari wanita lain walau sebenarnya memiliki banyak kelebihan. Dan kita berharap hanya sedikit diantaranya dengan kategori Tawadu berbeda alias “Tahu Warna Duit”.

Hebat di bidangnya

Kita patut berbangga, negeri ini menjadi gudangnya wanita hebat di berbagai segmen kehidupan, khususnya di bidang politik. Ini penting, sebab para perempuan Indonesia harus mafhum bahwa dalam Politik kehidupan memungkinkan “kembalinya mereka yang tertindas,” karena isu-isu moral dan
eksistensial terkait dengan seksualitas, kesehatan, penyimpangan, dan sejenisnya menjadi bagian
dari wacana publik. Gerakan sosial baru mengedepankan isu-isu ini dan mengubah moral
kehidupan sosial, seiring dengan meluasnya refleksivitas ke lebih banyak bidang di masyarakat.

Kita juga bangga ada sosok Kartini masa kini seperti seorang Puan Maharani, sosok ketua DPR RI yang kemungkinan besar akan menyandang kembali jabatan ini beberapa bulan kedepan untuk kali kedua. Di Sulsel juga, kita tak kekurangan wanita-wanita hebat. Sebutlah Andi Ina Kartika Sari yang masih menjabat sebagai ketua DPRD Sulsel, Indah Putri Indriani orang nomor satu di Kabupaten Luwu Utara, serta Sekjend ICMI Pusat Andi Yuliani Paris yang juga untuk kali keempat duduk di DPR RI. Dan seorang St Diza Rasyid Ali yang dengan kemampuan Leadershipnya, ketenangan serta tangan dinginnya, dia mampu memimpin ratusan ribu kader, bahkan mampu melahirkan ribuan kader-kader baru di Pemuda Pancasila dengan kualitas SDM yang mumpuni.

Demikianlah seharusnya persepsi yang tepat
dalam menilai wanita Indonesia. Bangsa Indonesia tidak membutuhkan kaum hawa yang hanya mampu banyak omong, kita butuh yang sadar bahwa makin arif seorang wanita,
makin sedikit kata-katanya. Makin ‘sakti’ seorang
wanita, makin pendek lembingnya. Jika kita mengenal dunia kesusastraan, maka puisi tertinggi adalah yang kata-kata apa pun sudah tak mampu
mewakili inti nilainya dalam menggambarkan luarbiasanya para Kartini kita di masa ini.

Dalam banyak kesempatan banyak diantara kita mungkin punya harapan positif, misalkan saja, bahwa betapa dahsyatnya kehidupan masyarakat kita kalau sebahagian besar para wanitanya di saat masih berusia belia, dia lebih membina dirinya agar memiliki kualitas hidup, dimana dia lebih memilih mengolah perilakunya ke tatanan yang berkualitas dibandingkan dengan menghabiskan waktu membuat postingan medsos tak bermanfaat dan konten-konten yang kurang mendidik. Meskipun kita tetap perlu memahami kondisi benturan irama masa muda mereka serta pilihan-pilihan nilai, hingga ke filosofi dan sikap batinnya yang masih kadang mengalami benturan dikarenakan kondisi labil di usia demikian. Wanita belia jaman now ini juga tak boleh terjebak dikondisi gagal move on. Yang saat bersamaan didera oleh perasaan gelisah, galau dan merana hingga alisnya pun jadi pelampiasan untuk diresing-resing posisi lengkungan dan ketebalannya.

Dalam kapasitas sebagai pendamping pun, wanita sangat penting dia menjadi Istri yang cerdas, karna ini akan sangat berpengaruh pada mentalitas dan kualitas SDM anak-anaknya. Ataukah menjadi istri saleha, karena ini akan berdampak pada ketenangan bathin dan suasana religius dalam keluarga. Dan bahkan menjelma menjadi istri yang pintar berbisnis, sebab ini akan menjadi penopang terbaik bagi keuangan keluarga. Meskipun tetap saja ada sebahagian pria menganggap yang tak kalah penting dari ketiga itu adalah bagaimana ketiganya bisa hidup akur, aman dan saling menghargai. Namun yang perlu dicamkan baik-baik oleh para pria, bahwa seorang pria sukses itu selalu ada wanita hebat dan luarbiasa di sampingnya. Bukan sosok wanita yang apabila sudah berkata “tungguma, 5 menit jie”, itu berarti sang suami harus menunggu dia dan bisa menggunakan waktu itu untuk sholat, cuci pakaian, pergi umroh, mudik bahkan cukup untuk ikut perang kemerdekaan”.

Mari kita rawat optimisme terhadap kebangkitan peran vital kaum perempuan dalam perjalanan bangsa ini kedepan. Sebab harus diakui, bahwa para wanita Indonesia adalah komponen sentral dari penciptaan peradaban bangsa ini.

Selamat Hari Kartini!

Artikel ini juga telah tayang sebelumnya di :

https://makassar.tribunnews.com/2024/04/21/kartini-masa-kini-di-antara-emansipasi-dan-tungguma-5-menit-jie

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist