Anshar Aminullah

Beberapa hari lalu Makassar bahkan Sulsel mendadak dihebohkan dengan kematian seorang pemuda. Qadrian Surya Subyanta, ditemukan tak bernyawa di kubangan bekas galian proyek StadionĀ Mattoanging. Setahun yang lalu dua orang remaja juga telah mendahuluinya dengan kondisi berakhir sama dan ditempat yang sama pula. Warga sekitar menyalahkan Pemprov, dan Pemprov pun membela diri. Epilepsi dan tak bisa berenang menjadi kambing hitam dalam peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu.
Gemerlap dan gegap gempita suara puluhan ribu orang-orang meneriakkan nama klub kesayangan, dan setiap pertandingan yang selalu memacu degup jantung para fans, kini hilang tenggelam berganti dengan teriakan orang-orang yang tenggelam lalu detak jantungnya pun menghilang.
Kok bisa, salah siapa, dan sampai kapan? Adalah sebentuk pertanyaan yang akan terus bermunculan dari para warga dan para fans klub bola kesayangan Kota anging mammiri ini. Hemat kami itu pertanyaan realistis dari warga sekitar bahkan masyarakat Sulsel sekalipun.
Dan Pemprov pun selalu terlihat optimis dan tak pernah kehabisan alasan pasca merobohkan stadion ini.

Sistem budaya serta mekanisme sosial di Sulsel yang telah matang dari berabad-abad lalu menjadi jaminan bahwa pemimpin-pemimpin yang lahir adalah putra-putri terbaik daerah ini. Berdedikasi bagus dan punya tanggung jawab. Tapi mungkin persoalan di Mattoanging ini bisa menjadi kasus unik mengarah pengecualian. Indikatornya sederhana, merobohkan dan tak ada solusi penggantian bangunan baru. Semacam lepas dari tanggung jawab dan tak bisa mengambil keputusan tegas diantara ranah-ranah peningkatan prestasi dan kebaikan hidup lain yang begitu luas khususnya dalam bidang olahraga sepakbola dan berbagai cabang olahraga di stadion ini dulunya.
Jika kita flash back 21 Oktober 2020. Janji pembangunan terucap dengan kemantapan yang luar biasa. Publik terlihat sepakat dan memberikan apresiasi lebih dan apresiasi ini mengarahkan pemerintah dan masyarakat untuk saling mendukung. Meski ada secuail gerak dan respon ketidak-sepakatan terhadap kebijakan merobohkan, namun pada akhirnya publik pun menaruh harapan besar pasca diratakannya dengan tanah stadion ikonik ini.
Waktupun berlalu. Pengambil kebijakan awal merobohkan juga telah roboh kekuasaannya. Konon Besi-besi tuanya mencapai 3,4 M yang tersetor hanya 1, 3 M menurut dugaan salah satu LSM Pelapor ke kejaksaan pada sebuah pemberitaan media online beberapa waktu lalu.

Harapan besar kini berubah menjadi goresan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Sulsel khususnya pecinta PSM. Klub ini bahkan harus luntang-lantung numpang sewa di Stadion klub lain agar tetap bisa memainkan pertandingan. Sebagai fans fanatik PSM tribun depan Televisi, saya hanya bisa turut sedih. Sebab tak ada yang bisa diperbuat banyak selain hanya pasrah dengan ketakpastian. Tak ada yang bisa menjelaskan dengan cukup gamblang dari yang telah merobohkan hingga ke suksesornya mengenai apa rencana pasti yang langsung diimplementasikan secara bertahap. Kita seperti dibiarkan hidup dalam kebiasaan memprediksi progres janji-janji renovasi. Dan pada akhirnya kita justru mengalami kesulitan keluar dalam kenangan historis dari masa ke masa bangunan bersejarah ini. Rilis pemerintah di media seolah memperlihatkan upaya pembangunan kembali terus bergerak maju, meski kadang dengan cara yang masih kurang konsisten. Dua kali gagal tender justru berpeluang memunculkan persepsi kurangnya pengkoordinasian tindakan yang bisa menuntun mencapai tujuan terhadap masa depan stadion ini.

Namun kita tetap menaruh harapan besar pada pemerintah provinsi agar meningkatkan level rekonsiliasi tindakan dan kolektivitas dalam jalinan erat berbagai stake holder untuk masa depan stadion ini. Para korban yang telah menghadap Ilahi semoga menjadi pemicu spirit Pemprov untuk segera menggenjot pembangunannya dalam rangka membangkitkan kembali arena gudang prestasi dan mengakhiri kubangan yang berakhir orang mati.
Pada akhirnya ini akan bisa menjawab keraguan publik akan kemampuan Pemprov mewujudkan pembangunan kembali Mattoanging. Kita mungkin perlu menunggu dua minggu kedepan semoga harapan besar kita sudah perlahan terwujudkan.

Jika pada akhirnya kemudian Pemprov kembali melempem, entah apa lagi jawaban mereka jika seandainya nanti fans PSM sekaligus fans Kangen Band penuh semangat dengan urat leher terlihat jelas bertanya ke mereka : Empat belas hari kumancari dirimu, untuk menanyakan Kamu dimana, dengan siapa, disini aku menunggumu dan bertanya?”
Selain hal ini akan menjadi lebih ribet karena ini persoalan harapan besar ke pemprov bukan dengan Yolanda.

artikel ini juga telah dimuat di https://sulsel.herald.id/2022/06/05/ironi-mattoanging-dari-gudang-prestasi-ke-kubangan-mati/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist