Beberapa hari lalu publik digegerkan dengan sebuah komentar di akun jejaring sosial dua orang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tak tanggung-tanggung, berbalas komentar tersebut sampai pada kalimat ancaman pembunuhan dan menghalalkan darah para anggota di salah satu ormas terbesar di Indonesia. Terlepas dari serius atau tidaknya komentar tersebut dan pelakunya telah diamankan pihak berwajib, namun hal itu telah telanjur menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Khalayak bertanya-tanya, apa yang terjadi sehingga dua orang peneliti di lembaga besar tempat orang hebat berkumpul dengan basis keilmuan yang mendalam, beragama Islam pula, mereka terjebak dalam hal nyeleneh bin konyol berujung serius seperti ini? Efek kecil lanjutan dari peristiwa tersebut bagi tak sedikit di atara kita mungkin adalah sebentuk pertanyaan kecil, apakah berbalas komentar tersebut merupakan sinyalemen kuat bahwa di saat ini, kita masih menemukan sifat-sifat negatif seperti yang dikedepankan oleh kedua oknum tersebut itu juga masih melekat pada banyak orang di negeri ini, sehingga tak ada rasa malu lagi sebagai orang Indonesia yang selalu menjunjung tinggi nilai kesopanan dan penghormatan. Ataukah di antara kita mentalitas hipokrit, enggan bertanggung jawab atas perilakunya, bermental feodal, percaya takhayul, dan tidak hemat itu masih menjadi persoalan lama yang muncul kembali karena tercerabutnya dari akar kebudayaan asli warisan nenek moyang kita? Meskipun kita memiliki Kekhususan antropologis yang kemudian membuat kita berbeda dari bangsa lain di muka bumi ini, di mana perilaku kita, kecenderungan fisik serta mental kita beda. Pun juga dengan watak serta aspirasi, bahkan cita-cita dan gaya hidup pun beda. Namun tetap saja terasa bangsa ini seperti nyaris kehilangan kesadaran bagaimana karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia itu jauh melebihi apa yang ada pada bangsa-bangsa mana pun di dunia.

Mengambil banyak hikmah di balik peristiwa ini menjadi alasan yang cukup bagus agar kesan bijak tetap melekat. Dan kita tentu tidak mau ketika ulah diskusi kedua oknum tersebut lantas membuat banyak orang berilmu berstatus peneliti di negeri ini dicap sebagai orang aneh yang katanya berilmu dan terpelajar dan cukup beradab, namun ternyata hanya memiliki pemikiran yang linier dan tingkat kecerdasannya sangat tidak bisa diandalkan. Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei ini harus menjadi bahan restrospeksi. Pun dengan cita-cita membentuk manusia Indonesia seutuhnya tak boleh hanya berhenti sebatas gagasan dan menjadi agenda primer, namun tidak masuk hati di para pemimpin kita. Khittah awal para pendiri bangsa ini mau tak mau harus kembali pada treknya. Sebab dengan modal itulah akan menjadi kekuatan bagi bangsa ini untuk kembali menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam banyak hal di mata dunia. Semoga Tuhan menjauhkan kita dari terjadinya kepemimpinan yang jeblok, suasana demokrasi bak di ‘hutan rimba’, dan kemanusiaan yang tak mengenali dirinya terjadi di negeri ini. Sebab kita optimis, Indonesia bukan hanya kedua oknum iseng kebablasan tadi, namun Indonesia adalah gudangnya orang-orang berilmu dan beradab serta para pemimpin yang selalu amanah dalam jabatannya. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Artikel ini telah terbit di ‘Pendidikan Nasional dan Peneliti yang Kebablasan’ selengkapnya https://herald.id/2023/05/02/pendidikan-nasional-dan-peneliti-yang-kebablasan/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist