Anshar Aminullah

Semua terdiam, tak ada yang bisa bicara banyak. Tak satupun yang tak merinding mendengarkan voice note seorang wanita berstatus ibu 4 orang anak sedang menanti ajal yang akan menjemputnya, dia akan segera menyusul kedua anaknya yang telah meninggal beberapa menit sebelumnya melalui tangannya sendiri.
Tak usah kita berdebat soal harapan sang ibu untuk masuk surga bersama dua anaknya dengan membenturkannya pada konteks rule dalam agama. Ini bukan saat yang tepat bicara hukum agama, tunda saja dulu, sebab moralitas dan kemanusiaan kita telah ditampar keras akan kejadian ini.

Tragedi yang menimpa ibu B ini setidaknya telah memberikan gambaran bagaimana peristiwa ini menjadi bagian dari sederetan persoalan sosial bangsa ini yang tak kunjung habis, dimana beban hidup dalam sebuah keluarga sanggup membuat seseorang nekad mengambil langkah mengejutkan, menghabisi nyawa sendiri dan kedua anaknya.
Beban hidup berlebih yang banyak orang hadapi khususnya yang masih bergelut pada level ‘kurang mampu’ memang menjadi problem sosial yang tak akan pernah ada habisnya. Kenaikan BBM bersubsidi, penggantian meteran listrik 450 ke 900, dan konversi kompor gas ke kompor listrik akan menjadi amunisi baru dari serangan kesulitan pada kaum miskin di Indonesia pasca pandemi.

Perlu kita catat bersama, dalam beberapa bulan kedepan, ancaman krisis global akan membuat peluang orang yang mengambil jalan pintas mengakhiri beban hidupnya ala ibu B mungkin masih bisa terjadi. Meskipun kita berharap semoga kasus tersebut menjadi penutup dari segala kasus bunuh diri demikian. Namun harapan seperti ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Beban hidup rakyat terus bertambah justru ditengah ekonomi kita telah dijanji meroket dalam beberapa tahun ini.
Pemerintah kita punya pekerjaan ekstra guna mengangkat derajat ekonomi rakyatnya. BLT hanya menjadi solusi sesaat, jika dibiarkan terus menerus ini justru berpotensi melemahkan mentalitas bangsa kita menjadi mental tangan dibawah lebih baik dari tangan di atas.

Meskipun bantuan terus mengalir terhadap keluarga yang ditinggalkan, namun ini tetap tidak akan mampu menghapus rasa bersalah kita itupun jika kita masih memiliki sikap peduli atas tragedi ini. Mari merenung sejenak, luangkan waktu walau hanya sekedar menyapa tetangga kita. Mungkin mereka sedang dilanda kesusahan dan Allah ‘mengutus’ kita secara tak langsung untuk menjadi perantara berbagi nikmat dan rejeki. Abaikan sejenak idiom “memberi utang sulit namun jauh lebih sulit untuk menagihnya”, berbagilah secukupnya. Mungkin melalui tangan kita banyak nyawa yang akan terselamatkan dari tindakan nekad persoalan serupa pada ibu B ini. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana tangan-tangan mereka kelak akan menarik dan membebaskan kita tepat disaat kita akan terlempar kedalam jurang dalam tak berujung di hari pembalasan. Wallahu A’lam.

Artikel ini telah tayang selengkapnya https://herald.id/2022/09/29/tragedi-ibu-di-pinrang-sulsel-alarm-keras-menipisnya-kepedulian-bertetangga/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist