Suatu malam kami sedang giat-giatnya memasang bendera organisasi serta spanduk dan baliho sebuah kegiatan. Diantara banyak teman-teman se-periodesasi kala itu, salah satu diantaranya ikut berjibaku memasang bendera. Berstatus anak pejabat nomor satu di salah satu Kabupaten di Sulsel tepat di Tahun 2008 tersebut, tetap tak mengurangi gengsinya untuk ambil bagian dikerja-kerja kepanitiaan di lapangan saat itu.

Waktu berganti tahun demi tahun. Tepat di 10 tahun setelahnya kami kembali bersua masih di organisasi yang sama meski dengan status yang berbeda. Saya di Pusat sedang dia tidak kalah bergengsinya, menjadi nahkoda organisasi tersebut di level propinsi bahkan terbilang sukses menjalankan amanahnya. Dia menjalankan roda organisasi murni dengan pendanaan yang hampir keseluruhan tanpa campur tangan dana hibah pemerintah. Hal yang sangat sulit didapati pada seorang top leader organisasi kepemudaan saat ini. Selain keterlibatan pada program-program kerja kemanusiaan, mulai dari keterlibatan langsung, hingga support pendanaan, semuanya dilakukan demi dedikasinya terhadap kemajuan pemuda Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan.

Sahabat saya ini beberapa hari lalu juga berhasil mempertahankan Disertasinya dan berhak menyandang gelar Doktoral Ilmu Manajemen. Dari sekian banyak proses dalam promosi tersebut, perhatian saya justru tertuju pada bagaimana dia sangat memegang teguh petuah dari sang kakek tercinta. Sebuah falsafah kehidupan tentang bagaimana pentingnya mendahulukan ilmu dibanding harta, serta wajibnya menghormati kedua orang tua.

Kedua hal ini dapat kita sepakati menjadi hal yang substansial dan prinsipil disaat berbagai impian untuk sukses ada dalam sebuah keinginan. Ilmu dan doa orang tua. Masih hangat peristiwa anak pejabat di Ditjen pajak yang menjadi pelaku penganiayaan putra seorang petinggi ormas. Pada medsosnya dia memamerkan harta miliknya yang pada akhirnya berimbas pada pengketatan pemeriksaan kekayaan pejabat di negeri ini. Dan saat bersamaan pula, secara tak langsung pelaku penganiayaan ini juga tak mampu menjaga nama baik dan kehormatan kedua orang tuanya. Sangat disayangkan memang, dia berhadapan dengan hukum ketika usianya sedang segar-segarnya menuntut ilmu di perguruan tinggi. Dan itu mungkin bukanlah hal yang sulit dengan kondisi keuangan no limit milik bapaknya, dia mampu kuliah dikampus besar di luar negeri bahkan di kampus manapun yang dia inginkan.

Pesan bijak dari kakek kawan saya ini memang mengandung makna dalam banyak sisi. Dengan memprioritaskan ilmu itu akan mampu membuat kita lebih mudah mendapatkan sumber-sumber rejeki guna menambah harta. Meskipun dengan memprioritaskan harta, ilmu juga akan tetap bisa kita raih. Namun terjebak dalam zona nyaman akan kelapangan kondisi materi akan membuat seseorang sulit istiqomah bin konsisten dalam menuntut ilmu secara formal maupun non formal. Dibeberapa kasus disekitar kita mungkin sering terdengar, bagaimana seorang anak pejabat yang terlena dengan kekayaan dan jabatan orang tua sehingga membuatnya abai dalam menuntut ilmu. Dan kebanyakan selalu berakhir dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Limit dan masa tenggang dari jabatan akan selalu menjadi penyumbang utama sindrom di beberapa anak pejabat saat tak lagi diperlakukan istimewa dikalangan sekitarnya, baik teman-teman sepergaulan maupun dilingkungan sekitarnya. Namun ini sepertinya tak berlaku bagi kawan saya ini. Saat jabatan sang ayah berakhir di periode pertama. Dia justru menjelma menjari pribadi yang lebih gampang diterima dan lebih mudah bergaul disegala segmen masyarakat. Kualitas keilmuan dan kemampuan berbahasa yang lebih humanis menjadikannya figur yang tak hanya dinanti selalu kehadirannya, namun juga selalu mampu menceriakan suasana dengan candaan-candaan dengan diksi yang pas untuk humor diberbagai kondisi dan suasana. Berada di level doktor justru membuatnya lebih tawaddu mengarah pada implimentasi rendah hati secara konsisten. Ketenangannya justru lebih terlihat dalam memainkan ritme politik yang dia mainkan. Dengan komposisi partitur yang lumayan punya cita rasa seni politik saat dia memilih langsung untuk menjadi dirigennya. Pasca sebuah momentum politik beberapa hari lalu lewat pesan Whatsapp saya menyentilnya “ah… Bikin deg-degan aja lewat drama draw”! Dia tertawa terkekeh simbolik dengan sticker balasannya, “supaya bisa lebih clear keberpihakan kaka” ucapnya.

Dia memang bukanlah pengamat politik kawakan yang mampu beretorik dengan piawai. Namun sahabat saya ini mampu memberikan sebuah edukasi tak langsung dalam mengamati dinamika politik,
bahwa kita perlu membedakan mitos dari kenyataaan dalam studi politik. Dimana acapkali kita dapati beberapa pengamat politik yang terlihat kritis biasa dengan sengaja mencari kesenjangan politik atau hal yang menyimpang yang dilakukan pemerintah maupun kelompok-kelompok tertentu yang berpengaruh luas. Problemnya adalah, bahwa kesimpulannya sering terjebak dalam klise atau pengeneralisiran yang minim manfaat dan tidak kuat dalam perspektif historis atau tingkat pemahaman perihal tindakan apa yang tepat dan efektif untuk harus dilakukan.
Dan pada sebuah momentum, kawan saya ini rupanya mampu membuktikan bagaimana urgennya ketepatan dan tindakan efektif di dalam dinamika politik. Dia memenangkan proses tersebut dengan posisi suara yang cukup jauh melewati sang pesaing.

Beberapa hari ini saya tak pernah bersua langsung lagi. Dalam kondisi tertentu memang saya selalu berhati-hati dengan keusilannya. Video saat saya tertidur lelap lengkap dengan ngorok di sebuah momen perjalanan pernah beredar di group Whatsapp terbatas kami. Usil dan humor khasnya inilah yang membuat kami selalu merindukan kehadirannya. Saya optimis setahun kedepan dia akan mampu memenuhi ekspektasi politiknya di sebuah posisi yang tak banyak politisi bisa mendudukinya. Rakyat yang kelak dia pimpin pasti akan selalu mencintai dan mempercayai segala kebijakannya. Saya percaya dan yakin akan hal itu. Namun mempercayai sikap diamnya saat saya terlelap dan dia sedang terjaga, akan sulit saya lakukan. Karena percayalah, keusilannya akan selalu terkondisikan dan kelak itu akan menjadi hiburan yang akan selalu membuat kami tertawa bersama. Dimana saat itu pula dengan mukanya yang mulai keriput dan rambutnya yang telah memutih, dia bercerita kepada kami mengenang kepemimpinannya dua periode di kampung halamannya.

Artikel ini juga telah terbit di https://portalmedia.id/kolom/23/merawat-petuah-bijak-sang-kakek-ala-abm

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist