Aplikasi filter kamera Smartphone dalam beberapa hari ini lagi jadi buah bibir. Hadir mempercantik dan memperindah khayalan, namun justru memperburuk ujung dari sebuah keadaan. Dua kasus dengan label Sulsel menghiasi pemberitaan berbagai media. Di Bali, seorang polisi asal Sulsel meregang nyawa. Hanya karena PSK yang dipesan wajah aslinya tak seperti tampilan di aplikasi kencan. Filter kamera agar lebih beauty telah mengambil peranan penting dalam kekisruhan ini. Di Sulsel, PSK mengamuk dan mengancam pria pengordernya. Konon si pria kecewa pada si wanita karena aslinya tak seindah di foto profil di salah satu aplikasi kencan. Kembali filter beauty kamera menjadi penyulut kekecewaan atas kenyataan yang tak sesuai imaginasi. Saat bekas luka mirip mur-mur onderdil motor terlihat jelas, membuat korban merasa tertipu pada PSK tersebut. Saya termasuk kategori pemakai smartphone yang menghindari aplikasi semacam ini di handphone saya. Alasannya sederhana, setiap kali aplikasi ini mode : on, tampilan muka saya terlihat seindah pelangi yang siap tempur bermain pedang-pedang dengan sejenis. Cakep sih iya, tapi risih saja dengan tampilannya. Bukan soal kepalsuan, namun lebih pada saya lebih mensyukuri originalitas keterbatasan wajah saya, walau selalu gagal menembus level cakep. Saya memiliki banyak cerita soal kekecewaan teman saya pada seseorang, yang saat bertemu dengan wanita idamannya itu tak sesuai dengan tampilan foto profilnya. Sangat wajar dan normal akan kondisi tersebut. Sebab skin care yang berkualitas sekarang ini harganya cukup mahal. Yang terjangkau pun dapat membuat cantik namun glowingnya membuat wajah lebih mirip gadis Korea di banding gadis Indonesia.

Bedak kuno dari hasil racik bahan tanaman samping rumah, bedak merk berastagi astagina ataupun bedak Viva dan krim kelly yang menjadi andalan dari jaman nenek hingga ibu saya perlahan mulai ditinggalkan. Padahal produk ini justru lebih membuat orang tua kita dulu cantiknya lebih terlihat, dan glowingnya tidak terlalu berlebihan tampilannya.
Kemajuan teknologi smartphone telah menempatkan filter beauty kamera dari 180 hingga 360 menjadi aplikasi yang digemari oleh tak sedikit para wanita pengguna gadget. Sepertinya ada kondisi, dimana hadirnya semacam minim kepercayaan diri atas karunia wajah yang Tuhan telah anugerahkan. Mereka lebih mencintai kepalsuan atas originalitas, walau itu dibangun dari alasan bahwa wanita memang harus selalu mempercantik diri. Maka wajarlah ketika filter beauty ini menjadi pilihan. Sebab jangankan operasi permak wajah, atau yang kelas sulam alis, laser bibir buat merah merona yang mengharuskan seseorang merogoh kocek dalam-dalam.

Filter kamera ini selalu menjadi pilihan praktis dan simple untuk urusan tampilan di dunia maya. Lantas apakah kasus yang muncul ini akan berdampak pada pilihan filter sebagai solusi cepat? Hemat saya tak akan berefek sedikit pun, sebab imajinasi yang dihadirkan oleh objek hasil polesan filter ini akan selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Mungkin itulah yang hadir di awal pada benak dua orang pria korban tadi. Bagaimana fantasi dan imajinasi seks yang mereka hadirkan lewat cinta satu malam yang akan mereka jalani, telah menghadirkan malapetaka bagi mereka. Saat marabahaya dan maut mendekat akibat kecantikan di balik filter, hanya enak di layar, namun bikin eneg saat dibayar. Mungkin mereka lupa lagu Ada Band, “Karena Wanita Ingin Dimengerti”.

Baca berita ‘Wajah Pemuas di Balik Filter, Enak di Layar, Eneg Saat Dibayar’ selengkapnya https://herald.id/2022/11/17/wajah-pemuas-di-balik-filter-enak-di-layar-eneg-saat-dibayar/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist