Sebagai seorang anak dari pebisnis dengan kondisi usaha yang sering mengalami kesulitan keuangan , Einstein di sekolahnya seringkali dianggap mengalami kebiasaan lambat dalam memahami pembelajaran, dia bahkan mengalami kesulitan berbicara hingga dia menanjak di usia 4 tahun. Einstein bahkan gagal dalam ujian masuk pada seleksi Mahasiswa baru di Politeknik Swiss di Zurich pada percobaan pertamanya. Itu murni karena keterbatasan dia dalam hal akademik dengan metode yang berlaku pada saat itu, bukan karena Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mendadak naik 100%. Kita bisa bayangkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini akan mengalami sedikit keterlambatan andai Einstein tidak jadi masuk kuliah karena bisnis bapaknya sedang tak baik-baik saja, yang akhirnya berimbas ketakmampuan membayar UKT yang wajib dibayarkan.

Masih hangat terasa, dimana dalam beberapa minggu terakhir pendidikan nasional kita sedang mengalami situasi yang cukup dinamis, anggaplah seolah-olah demikian, agar kementerian pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta kampus yang menaikkan UKT yang sedang mendapat sorotan tajam dari anak bangsa merasa tidak begitu tersudutkan. Di saat negara maju dan berkembang di luar sana membebaskan UKT bagi para calon mahasiswa, Ironis di negeri yang memiliki kekayaan alam seperti sebahagian hasil Nikel Rp. 271 triliun yang nyangkut di kanton SD dan sang suami HM. Ini menegaskan bagaimana kelas sosial selain menentukan kesempatan hidup yang tidak sama juga berada di luar jangkauan makna ekonomis dalam arti sempit. Dan bahwa posisi kelas seorang menentukan kesempatan mengakses pendidikan tinggi yang bakal dijalani oleh anak-anak dari orang-orang yang tak pernah sedikitpun terdapak soal kenaikan UKT.

Meski terjadi penundaan kenaikan UKT berdasarkan pernyataan resmi Mas Mendikbudristek, namun dampak psikologisnya masih terasa bagi para orang tua mahasiswa terkhusus pada para calon mahasiswanya. Tak sedikit yang memprediksi bahwa penundaan ini hanya akal-akalan pemerintah yang mungkin dalam waktu yang tak lama akan melakukan pembiaran Terhadap kampus-kampus yang menaikkan UKTnya dengan nominal yang cukup memberatkan.

Ketika kita berada dalam rasa putus asa dalam menjalani kehidupan ini telah menguasai hati kita, stagnasi akan selalu menghadang langkah dan pikiran kita untuk bergerak maju ke depan.
Termasuk saat memikirkan hal di atas pasti akan menyerap banyak energi kita yang semestinya bisa tersalur pada aktivitas yang lebih produktif. Namun tak boleh juga kita melakukan pembiaran dengan tidak bersuara dengan nada kritik. Sebab dampak yang akan ditimbulkan bisa cukup serius di 2045 nanti, disaat bonus demografi telah sampai waktu yang telah dihitung dan diprediksi lebih awal. Dimana melimpahnya SDM kita yang produktif tidak akan bisa produktif oleh karena tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan bidang yang dikuasai yang disebabkan oleh karena pendidikan selevel Strata 1 saja banyak yang keok di awal karena tak mampu membayar UKT.

Jika UKT pada akhirnya naik kembali dan pemerintah tak mampu memberikan solusi untuk pendidikan di bangku kuliah yang lebih terjangkau, mungkin sudah saatnya kita bersedia sebagai penonton aktif dari
dunia pendidikan kita yang acapkali menyumbangkan
kepada kita kebingungan dibandingkan
kemudahan menjangkaunya. Sebagai warga negara dari suatu negeri yang didominasi suguhan
bahan-bahan untuk khawatir, bersedih, rasa cemas,
bahkan frustrasi, dibanding membangun argumen bagi rakyatnya untuk merasa aman
menjalani masa kini serta membayangkan masa
depan dengan sesekali menguatkan warganya.
Mungkin saatnya kita harus lebih mampu mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, kesengsaraan kita dalam sebuah rasa merdeka dalam belajar namun terjajah dalam UKT.

Artikel ini telah tayang lebih awal di :

https://herald.id/2024/06/04/terjajah-ukt-saat-merdeka-belajar/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist