Dalam banyak kesempatan, dr Wahidin Sudirohusodo konon selalu mengulang-ulang kalimat ini “Kalau bangsa ini ingin merdeka, ingin bebas dari penjajahan, maka rakyat harus cerdas dan harus pandai”.
Spirit dari keinginan ini yang kemudian menjadi salah satu alasan di bentuknya organisasi Budi Utomo oleh sembilan orang pelajar pasca berinteraksi dengannya.
Adalah Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek dan Soewarno yang menjadi lokomotif berdirinya gerakan ini.
Berdarah Bugis dan Makassar keturunan dari Daeng Karaeng Nobo seorang bangsawan asal Makassar.
Dahulu, Wahidin muda kerap bepergian ke berbagai kota-kota besar di tanah Jawa sebagai upaya untuk memperbanyak ide serta gagasannya yang pada akhirnya disambut antusias mengenai bantuan dana bagi pelajar berdarah pribumi yang berprestasi namun tidak memiliki berkesempatan mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Meminjam istilah Hans-Georg Gadamer
Dalam uraian pemikirannya tentang keterpengaruhan sejarah (historically effected consciousness), bahwa pemahaman seseorang itu sangat dipengaruhi oleh tradisi, kultur dan pengalaman hidupnya.
Kontekstualitas dari apa yang dilakukan oleh tokoh penting dibalik berdirinya organisasi Budi Utomo ini kala itu sangat berpengaruh pada progresifitas pemikiran manusia Indonesia saat ini.
Kemajuan bangsa ini dalam berbagai hal tetap tak bisa menafikan apa yang telah dilakukan oleh organisasi ini di masa lalu.
Faktor kontekstualitas dari DNA utama gerakan Kebangkitan Nasional ini telah berhasil merubah cara pandang (world view), cara berpikir (mode of thought) serta berperilaku (attitude) banyak tokoh hebat di negeri ini dari masa ke masa.
Meskipun terdapat pengecualian dan jeda dalam implementasinya, dimana salah satu putra kebanggaan dari pelosok Indonesia timur, tepatnya di Ruteng, NTT, ‘khilaf’ di level tinggi pada proyek BTS yang membuat seorang JGP harus berurusan dengan hukum karena indikasi korupsi.
Ini menjadi sekelumit kisah anti klimaks pada apa yang menjadi cita-cita Budi Utomo 115 tahun silam.

Lara Hati di Sinyal 4G

Kita bisa bayangkan, bagaimana lara hati dr. Wahidin Sudirohusodo bersama 9 tokoh pendiri Budi Utomo jika seandainya masih hidup dan menonton televisi, Youtube serta membaca berita penangkapan salah satu menteri di republik ini atas dugaan korupsi proyek penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G ini.
Dalam benak beliau mungkin tersirat namun mendalam bagaimana nominal 8 triliun jika seandainya dipakai untuk melanjutkan spirit pergerakan Budi Utomo bagi bangsa ini hasilnya pasti tak main-main.
Putra-putri ibu pertiwi akan melaju lebih gesit lagi menuju masa depan, dan yang pasti, aset sumber daya manusia kita yang menguasai teknologi Artificial Intelligence serta kemampuan merancang aplikasi saingan dari Chat GPT akan mampu dilakukan dengan baik pengembangannya oleh anak negeri. Bukan tak mungkin ratusan Wahidin Sudirohusodo muda akan mampu dicetak oleh bangsa ini.
Atau bahkan ribuan anak muda sekelas 9 orang pendiri Budi Utomo akan lahir dan hadir jika seandainya uang dari skandal Rp 300 triliun digunakan untuk kebaikan bangsa ini.

Mungkin saja tindakan JGP ini bukanlah sejenis tindakan yang menyebar sebagai hasil dari impuls-impuls terprogram.
Namun andai saja, pengawasan refleksif pihak terkait terhadap apa yang seharusnya dikerjakan oleh oknum ini sebagai bagian intrinsik dari apa yang ada dan itulah yang harus mereka kerjakan, maka kejadian yang mengakibatkan kerugian negara ini mungkin bisa terhindarkan.
Perihal benar ataupun salahnya dugaan korupsi yang menimpa JGP ini biarlah waktu yang menjawabnya, kita hanya perlu mengambil banyak pelajaran bernama hikmah di dalamnya.

Namun yang pasti, sampai kapan pun dalam perjalanan bangsa ini, gagasan mengenai kemajuan bangsa oleh Budi Utomo tetap saja akan selalu memiliki para ‘penghambat’ setianya bernama koruptor.
Tidaklah keliru jika kita menganggap kelompok para koruptor ini memiliki perspektif yang naif terhadap ide kemajuan, dan asa besar dr Soetomo, dkk terhadap Indonesia.
Dan mereka adalah para oknum yang selalu pesimis bin putus asa dengan gelimang harta titipan Tuhan yang selalu saja dirasa tak cukup memenuhi kebutuhan hedonis mereka.
Para penguras kekayaan negara ini mungkin setiap tahunnya memperingati Hari Kebangkitan Nasional namun tak pernah berupaya sadar memperingatkan diri hari kebangkitan di Padang Mahsyar.

115 Tahun Hari Kebangkitan Nasional!

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Kebangkitan Nasional dan Lara Hati di Proyek BTS, https://makassar.tribunnews.com/2023/05/19/kebangkitan-nasional-dan-lara-hati-di-proyek-bts

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist