Dalam sebulan terakhir ini ada dua wanita yang terbilang lumayan intensitas hadirnya dalam dua kondisi emosional yang berbeda. Pertama, wajah ibu saya yang saat terbayang akan sesegera mungkin saya video call dengannya yang bermukim di kampung halaman. Wajah kedua yang hadir adalah wajah seorang wanita belia putri sahabat saya Novi. Gadis beranjak remaja yang memiliki senyum sangat manis. Kayla, Seorang perempuan ayu yang telah kehilangan kehidupannya secara total dan hanya menyisakan jejak sebuah batu nisan.

Kesedihan saya akan selalu berulang dan membekas tajam disetiap melihat postingan status WA dan FB sang ibu. Mungkin karena saya belum sempat memanjatkan doa langsung diperistirahatan terakhirnya dan menyampaikan duka secara face to face pada sahabat berstatus sang ibu.

Saya bisa merasakan bagaimana ibunya kini yang sedang berupaya menghilangkan senyuman yang pahit, oleh karena ekstase jiwanya jatuh terhempas, dan lumpuhnya harapannya yang nyaris keseluruhan. Kehampaan yang dia rasakan sekarang ini bukanlah gagasan kosmos dan ilusi yang hadir untuk sewaktu-waktu dia bisa dengan sengaja terjaga dan sadar, bahwa buah hatinya masih akan pulang sore ini setelah latihan marching band bersama teman-teman sebayanya. Bahwa sesungguhnya ini adalah takdir yang nyata dan akan selalu diiringi dan diakhiri dengan airmata dalam kehampaan.

Kayla…..
Dalam keheningan peristirahatan terakhirmu, kami memahat sebuah epitaph namamu wahai Kayla, pusara tempat kelak dimana orang akan menaburinya dengan bunga kesedihan dan kerinduan.

Kayla….
Dalam perjalanan pulangmu ke belaian kasih sayang sang Maha Penyayang. Ijinkan kami mengirimkan sebait doa untukmu. Doa yang akan menyertaimu dalam perjalanan panjangmu menuju cahaya putih Rabb mu di keabadian kelak.

Kayla….
Kami merindukan tawa dan candamu yang kini perlahan menyusut pudar, dan masih menyisakan sebentuk bayangan nyata disetiap tempat yang pernah engkau singgahi. Tempat yang akan selalu menumbuhkan ribuan harapan dan cinta, warisan seorang gadis beranjak remaja berparas ayu dengan binar mata yang indah, bernama Kayla Alifiah Masse.

(Mengenang 30 Hari Kepergian Kayla)

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist