Sore itu antrian di sebuah gerobak penjual Bakso sedang berlangsung. Itu rutinitas sejak 10 tahun terakhir disekitar poros jalan tempat penjual ini berpindah pindah tempat. Para pengunjung bakso gerobak keliling ini sebagian merupakan penggemar setia selama bertahun tahun. Bahkan tak sedikit yang merupakan penggemar bakso ini sejak berusia TK hingga berstatus sebagai kepala rumah tangga.
Namanya Erik Daeng Ngaya. Pria berpostur tinggi besar dengan senyuman khas dan nada suara yang selalu terlihat saat melintas ataupun menyempatkan singgah menikmati bakso dengan ciri khas tekstur halus dan kasarnya di Makassar. Dia asli dari salah satu kabupaten di Sulsel bernama Takalar. Dua puluh tahun sudah dia menggeluti usaha ini. Konon dia meninggalkan kampung halamannya oleh karena tak mau berpolemik dengan kakak kandungnya yang selalu ngotot mewarisi 70-an ekor ternak Kerbau milik orang tua mereka.
Berbekal tamatan terbaik SMU di Kabupaten itu dan sempat mewakili untuk melanjutkan sekolah di SMU andalan di Malino, dia akhirnya hanya berhasil menyelesaikan studi bangku sekolah dan harus mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah disalah satu perguruan tinggi ternama tepatnya UGM yang telah berhasil dia taklukkan dalam tes ujian masuknya. Kuatnya tekanan permintaan orang tuanya yang meminta menjaga hewan ternak tersebut membuatnya frustasi dan memilih jalan bertahan di Makassar sebagai penjual bakso keliling dari kompleks ke kompleks.
https://www.ansharaminullah.com/wp-admin/post-new.php
Setiap bulan pun dia selalu menyisihkan hampir sebahagian besar penghasilannya untuk dikirimkan ke kedua orang tuanya. Para pelanggannya pun tak main-main. Dari kalangan anak sekolah, anak putus sekolah, kelompok preman, kelompok anak jalanan, pengusaha dan pegawai kantoran. Bahkan puluhan doktor dan Guru Besar menjadi langganan tetapnya.
Erik daeng ngaya ini memang memiliki strategi marketing yang cukup bagus hingga membuat para pelanggangnya rela datang hingga dinihari hanya untuk menikmati jualan pria ramah dan bersuara unik ini. Kita mungkin jarang mendapati seseorang yang berjualan dengan pelayanan unik seperti pria satu ini. Ada sebentuk keramahan dan nuansa persahabatan yang hangat selalu terasa disetiap berinteraksi dengannya. Dan itu tidak pernah membosankan.
Kemampuannya meladeni berkomunikasi dari berbagai segmen dan jenjang pendidikan membuatnya menjadi penjual bakso istimewa dihati para pelanggannya. Curhat soal studi, soal pekerjaan dan soal asmara pun akan selalu dia sempatkan untuk menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi yang baik. Tak jarang para anak-anak putus sekolah yang hendak melakukan kejahatan bermodal busur itu mampu dia redam dengan nasehat-nasehatnya yang berbuah pada diurungkannya niatan anak-anak tersebut mrlakukan kejahatan. Dan pada akhirnya pola komunikasi ini yang justru menjadi cara tradisional sekaligus strategi marketingnya untuk tetap membuat para pelanggangnya nyaman untuk tetap datang tanpa peduli cuaca apapun ditempat berjualan yang terkesan sangat sederhana.

Di era sekarang ini menjadi hal lumrah ketika para pedagang kuliner selalu disibukkan dalam meladeni pesanan pelanggannya. Tapi tidak dengan Erik Daeng Ngaya. Seolah jualan baksonya selalu disertai bonus dengan interaksi dengan pembeli dalam bentuk bercengkrama seperti dua orang yang lama tak bersua.
Strategi marketing ini lah yang pada akhirnya mampu membuat seorang Erik Daeng Ngaya akan selalu dirindukan oleh pelanggannya.
Dikota-kota besar saat semua orang sibuk dengan kesibukannya, disaat waktu makan pun terkadang hanya sekedar numpang lewat saja di warung-warung langganan. Namun ruang hampa pada interaksi face to face mampu dibaca oleh seorang Erik sebagai sebuah peluang dalam mempertahankan eksistensi bisnisnya.

Demikianlah Erik Daeng Ngaya. Yang pada dirinya kita bisa belajar bahwa Tuhan selalu adil terhadap hambanya. Bahwa disetiap pribadi selalu saja diberikan kelebihan satu sama lain. Sehingga ketika keseimbangan hidup terjadi dalam suatu suasana di sekitar kita, mungkin karena masih ada hambanya bernama Erik Daeng Ngaya yang senantiasa istiqomah dalam berusaha dan menjaga silaturahmi antar sesama dalam sebuah hubungan antara pejual dan pembeli. Meskipun terkadang tingkat pendidikan seseorang selalu menjadi tolak ukur kita untuk menilai kualitas Intelektual dan kemampuan SDM. Namun seorang Erik Daeng Ngaya mungkin menjadi salah satu dari sedikit person yang telah merubah paradigma ini.

Wallahu A’lam.

Artikel ini telah terbit sebelumnya di https://portalmedia.id/kolom/18/strategi-marketing-tradisional-ala-erik-dg-ngaya

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist