Di suatu ketika, lewat keputusan rapat panitia, fiks, kami akan melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di tahun 1995 Masehi kala itu. Saat selesai membacakan sambutan sebagai ketua Panitia, salah satu rekan remaja masjid yang bertugas membaca terjemahan Al-Quran sebagai saritilawah, telah menjalankan amanahnya dengan baik. Dia membaca terjemahan itu cukup fasih layaknya seorang profesional dengan jam terbang yang cukup.

Kami memanggilnya Yaya. Setiap pagi hari kadang saya satu mobil angkot dengan dia saat berangkat sekolah. Dia sekolah di SMA Negeri 11 tepat setahun di bawah saya, yang kala itu menempuh pendidikan di STM Negeri 1 Ujung Pandang.
Di awal Agustus 2023 kemarin kami bersua kembali sekedar berbagi cerita dan pengalaman. Hampir dua jam saya banyak menyimak cerita perjalanan hidupnya hingga meraih predikat sebagai guru besar di salah satu perguruan tinggi negeri Islam di Makassar. Tak sedikit yang menyangsikan apakah dia mampu meraih predikat seorang Professor disaat yang lebih senior mengalami status tertunda ataukah tertolak dari proses pengajuan berkas bertahun-tahun sebelumnya.
Hanya butuh waktu 5 bulan dia mengajukan berbagai lembaran berkas untuk status Guru Besarnya. Dan fiks, SK turun dan dia pun meraihnya secara tertulis di keputusan tersebut.


Dia mampu mengkorelasikan disiplin ilmu yang orang anggap itu tidak linear dan tak akan pernah mampu mengantarkannya menjadi seorang Professor. Dan dua hari setelah beberapa pihak menyangsikan kemampuannya, dia resmi menyandangnya dengan nama Lengkap Prof. Dr. Nur Hidayah, S. Kep, Ns., M.Kes.
Tak banyak yang berubah darinya kecuali kedalam ilmu dan keluasan perspektifnya dalam mengulas sesuatu. Senyum khasnya masih tetap sumringah dan bersahabat bagi siapapun. Pikiran-pikirannya untuk kemajuan pendidikan di negeri ini tajam, lugas dan berkarakter. Kalimat demi kalimat dia sampaikan dengan terstruktur penuh wibawa. Saya seperti dibawa flashback ke 28 tahun lalu. Saat dia membacakan terjemahan dari ayat-ayat Qauliyah dalam Kitabullah. Hari ini dia tetap penuh wibawa menguraikan ayat-ayat Kauniyah yang tersurat dalam penemuan-penemuan teoritik dalam riset luarbiasa yang telah dia selesaikan dan mendapat pengakuan dunia akademik. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa kedua orang tuanya menamainya Nur Hidayah. Karena hari ini dia telah menjelma menjadi setitik ‘cahaya’ bagi jalan panjang Ilmu Pengetahuan, dan menjadi ‘petunjuk’ bagi jalan buntu orang-orang yang lelah dan nyaris kehilangan asa atas dogma “No Linier No Guru Besar”.

Yaya, tetaplah membumi dan menginspirasi bagi dunia IPTEK di negeri ini.

Tulisan ini sebelumnya telah diserahkan sepenuhnya Kepada Prof Dr Nur Hidayah, S. Kep, Ners, M. Kes dalam catatan jelang pengukuhan guru besarnya

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist