Saya dikagetkan oleh sebuah iklan disalah satu website penyedia lapak jual beli bernama Online Exchange yang familiar kita sebut OLX. Sebuah Group pasar daring global yang berkantor pusat tepatnya di Amsterdam, Belanda. Pemiliknya berasal dari kelompok media dan teknologi di Afrika Selatan tepatnya di Naspers.
Entah benar apa tidak keabsahan pengapload iklan ini. Namun dalam pemantauan penulis, tercatat telah dua kali teks deskripsi dan foto objek iklan mengalami perubahan di situs tersebut. Dan penulis sampai dikesimpulan awal, bahwa iklan tersebut serius adanya.
Belum pernah iklan seperti ini saya dapat, ini jujur. Saya merasa aneh dan seperti terlempar dalam sebuah dimensi lain. Naluri akademisi saya terusik, serasa sesak, sekejap blank saat melihat iklan “dijual bangunan plus yayasan pendidikan……” dan dibawahnya tertera nominalnya dalam jumlah puluhan Miliar.
Kampus di ujung pertemuan jalan Veteran Selatan dan Jalan Andi Djenma Makassar ini, adalah salah satu kampus swasta Favorit di Makassar era 80-90an bahkan hingga awal 2000an. Bangunannya harus berakhir di website eks Tokobagus.com ini.
Tak elok rasanya jika ditulisan ini membahas persoalan dapur mereka di pengelolaan Yayasan maupun Universitasnya. Sebab saya percaya, tak sedikit diantara pembaca tulisan ini paham betul cerita dibalik berakhirnya salah satu kampus kebanggaan kita di Makassar.
Universitas beserta Yayasan ini mungkin saja mengalami stagnasi pada progresivitas hasil-hasil konseptual, inovasi kelembagaan dan pengembangan sains. Ini dugaan awal sekaligus upaya tetap berhusnuzan. Sebab konseptual, inovasi kelembagaan, dan pengembangan sains selalu berbanding lurus dengan minat mahasiswa untuk kuliah didalamnya.
Mahasiswa banyak, otomatis pemasukan ke yayasan akan banyak pula. Berbicara tentang pengembangan sains, memang harus diakui bahwa tidak sedikit universitas publikasi jurnal mereka baru giat dibeberapa tahun terakhir, setidaknya ini menjadi pertanda baik buat Sains kedepan.

Hal lain berupa inovasi kelembagaan dalam hal ini pembenahan internal dengan melakukan reakreditasi fakultas dan Universitas tentu tetap menjadi prioritas. Pertanyaannya apakah ini cukup untuk menasbihkan eksistensi sebuah Universitas dalam jangka panjang?
Gampang-gampang susah menjawabnya. Hal ini dikarenakan acapkali sulitnya berbanding lurus antara orientasi pengembangan Iptek, SDM dalam Universitas dengan orientasi keuntungan ekonomi dalam Yayasan. Konon sering didapati beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab justru menjadi makelar nilai, makelar Skripsi dan Tesis dengan mengedepankan aspek pragmatisnya dibanding proses akademiknya. Ini rahasia umum yang pada penulis juga kadangkala mendapati fakta ini.
Dan menjadi bencana berkelanjutan, saat pengelola dalam hal ini yayasan terkesan cuek atau bahkan mengaminkan hal tersebut. Jika hal ini tumbuh menjadi sebuah kebiasaan yang menular, maka ini menjadi alamat pertanda kejatuhan sebuah lembaga pendidikan setingkat Universitas.
Kebutuhan finansial itu penting, namun dia tidak boleh berdiri angkuh mengangkangi proses formal akademik. Tak boleh ada ‘pelacuran’ pada ruang proses akademik. Ini menyangkut generasi bangsa. Para bajingan penghisap darah tubuh Universitas ini tak boleh dibiarkan menggerogoti setiap urat nadi proses intelektual formil. Dia jangan sampai tumbuh subur, terlihat seperti tanaman hias, tapi sesungguhnya adalah semak belukar dan ilalang tak berguna dipekarangan bangunan bernama ruang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Fenomena diatas memang mungkin tak terjadi di Yayasan dan Universitas di iklan OLX diatas. Namun ini menjadi peringatan keras bagi Yayasan-yayasan pada perguruan tinggi swasta lainnya. Penulis yakin, jika profesionalisme pengelolaan Universitas berjalan sesuai treknya, sekeras apapun ujian dan dinamika internal Yayasan, Internal Universitas, atau Yayasan dengan Universitas akan bisa dilalui dengan baik. Konflik itu baik buat pengembangan kearah yang lebih progres. Olehnya itu, top leader perlu paham dan tak mesti khatam cara memanagemeni sebuah konflik.
Sebagai catatan tambahan, pada iklan OLX ini ada dua hal penting yang bisa kita petik :
Pertama, pada pengelolaan kampus dalam dunia pendidikan, Kadang kita butuh sikap sebagai seorang satria agar tak hilang seperti Satria diiklan ini.

Kedua, Kadangkala Di OLX lah kita bisa menjual yang lama dengan cepat, agar bisa mengganti dengan yang baru secara cepat. Dan adakala sesuatu yang berakhir di OLX mungkin adalah sesuatu yang dijual cepat akibat keinginan pada yang baru dengan mengganti yang lama dengan cara yang cepat pula.

Wallahu A’lam.

Artikel ini juga telah dimuat di https://jurnalmakassar.pikiran-rakyat.com/trending/pr-826498779/ironi-satria-yang-tak-lagi-sanggup-mencetak-kembali-para-ksatria-intelektual

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist