Peristiwa tragis di Stadion Kanjuruhan memang tak bisa dilihat dalam satu perspektif saja. Kerusuhan yang terlihat dalam satu sisi ini merupakan perilaku suatu kelompok yang berasal dari kecenderungan agresivitas tindakan individual. Ini bisa dilakukan secara spontan maupun terencana yang dapat mempengaruhi individu lainnya untuk melakukan secara bersama. Dilain sisi, Agresivitas ini yang kemudian memicu responsif dari pihak keamanan yang bertindak untuk mengendalikan situasi dari kerusuhan. Yang disayangkan memang adalah respon pihak keamanan berupa lemparan gas air mata yang berakibat pada kepanikan massif penonton untuk menyelamatkan diri dari efek gas air mata tersebut. Pintu keluar yang tak mampu memberi ruang lebih untuk meninggalkan stadion, fan akhirnya peristiwa memilukan ini pun tak bisa dihindarkan.

Kita percaya bahwa pihak keamanan tak ada niat sedikit pun untuk mencelakai para penonton dengan melakukan tindakan yang menurut kepolisian sendiri telah sesuai Standar Operasional Prosedur. Namun standarisasi dari FIFA sendiri tentang larangan menggunakan gas air mata di dalam stadion yang telah melewati berbagai pertimbangan riset akan efek berbahayanya, standarisasi ini hemat saya mestinya harus tetap didahulukan oleh pihak keamanan dibanding dengan pola represif seperti pda video-video yang beredar di medsos.

Kita berharap ini menjadi peristiwa terakhir dari sudut dunia manapun yang menyelenggarakan event sepakbola. Dan para korban serta keluarga korban diberikan ketabahan dan kesabaran atas ujian dari tragedi memilukan ini.

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist