Entah apa penyebab yang paling pas untuk menanggung caci maki dan gerutu rakyat kecil seperti kita atas pemadaman bergilir ini. Tiga jam yang kemudian meningkat menjadi enam jam sehari, yang pada akhirnya memaksa kita perlahan berdamai dengan gelap gulita yang membutakan mata tepat saat kita sedang ikhlas-ikhlasnya buang hajat di kamar kecil.

Kita juga seolah sedang dalam masa transisi dari jaman Pra Listrik ke Jaman serba saklar on-off. Kita mungkin belum memiliki cara yang pas untuk secepatnya keluar dari pemadaman bergilir ini. Satu-satunya cara adalah memelintirnya menjadi menyalakan listrik bergilir. Kita memang tak boleh menjustifikasi hal ini dikarenakan manajemen negara kita sendiri yang sedang berorientasi menjaga tradisi keluarga di lingkaran pengambil kebijakan. Sebetulnya secara tak langsung Ini juga krisis, dimana kita sama sekali tidak mampu menyembuhkannya oleh karena kita yang justru kadang terjebak merawat krisis jenis di atas.

Atau siapa tahu kita memang buta terhadap apa yang sebenarnya terjadi, tetapi merasa kitalah penyebabnya, kitalah yang mungkin malas bayar listrik sehingga PLN merugi dan Tuhan marah karena kita suka berutang pada PLN dan akhirnya Malaikat diperintahkan agar menahan hujan turun di musim yang seharusnya dia sudah mengguyur khususnya Sulsel, namun ternyata diarahkan jatuhnya ke JIS dan menggenangi lapangan di saat pertandingan Brazil melawan Argentina di World Cup U17 2023 . Siapa tahu khan. Namanya juga asumsi.

Pemadaman bergilir ini juga ikut memaksa rakyat kecil menanggung resiko kerusakan barang elektronik yang dibeli dari hasil mengumpulkan duit dari penghasilan yang kadang buat makan saja pas-pasan. Beralihnya siaran TV analog ke TV digital sebelumnya juga telah memaksa siapapun yang memakai TV jadul untuk membeli alat tambahan bernama setup box. Jika pada akhirnya TV mereka rusak dan setup box juga mengikuti jalan takdirnya, maka lengkaplah sudah ujian dari pemadaman bergilir ini.

Lain halnya dengan kawan saya di kampung sebelah. Mendadak di chat personal ke saya. Dia curhat tentang istrinya yang kakinya terkilir gara-gara pemadaman bergilir.
Tepat saat listrik padam mendekati lama waktu sekitar 5 jam. Putaran kipas angin mati plus hawa panas menyeruak di dalam rumah, teman saya tak bisa lagi keluar main domino, disebabkan tugas mendadak memutar secara manual kipas kertas guna mengipasi anak istrinya hingga lengannya juga nyaris ikut terkilir.
Saya hanya tersenyum sambil sesekali tertawa kecil. Saya hanya mengajak teman saya untuk merenungi nasib sambil ngopi bersama di salah satu sudut warkop dan membahas tema yang jauh dari persoalan mati lampu dan PLN yang katanya terus merugi. Kami memilih tema sedikit berbeda, pertama, tema tentang bagaimana peluang meningkatnya angka kelahiran bayi akibat pemadaman bergilir di sepuluh bulan kedepan. Tema kedua adalah bagaimana daster berpengaruh pada kaki terkilir dan jatuh bersamaan secara sengaja, dimana motif dasternya tidak berpengaruh lagi pada pandangan mata saat listrik mendadak padam.

Artikel ini juga telah tayang sebelumnya di : https://herald.id/2023/11/28/mati-lampu-daster-dan-kenaikan-angka-kelahiran-bayi/amp/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist