Anshar Aminullah

Beberapa hari ini jagat maya ramai dengan tema perbincangan perihal jagat semesta dalam sebuah gambar yang sangat menakjubkan.
Semua berdecak kagum, saat melihat keadaan gugus galaksi berupa pemandangan 4,6 miliar tahun yg lalu. Kilauan cahayanya dapat dipastikan berasal dari berbagai galaksi yang termasuk tertua di jagat semesta.
Teleskop James Webb, dibuat dengan nilai fantastis, 11 Miliar Dollar yang kalau dirupiahkan dengan kurs terakhir bisa mencapai 165.406 miliar. Dia juga merupakan yang paling terbesar yang pernah dibuat dan meluncur ke luar angkasa tepat di 25 Desember 2021, dengan roket Ariane 5 dari Spaceport Eropa di wilayah Guyana Prancis, Amerika Selatan.
Ini merupakan generasi teleskop pengganti dari teleskop Hubble yang meluncur tahun 1990 dan Spitzer di tahun 2003.
Dengan citra inframerah terdalam dan tertajam dari Alam Semesta yang jauh, dan hanya membutuhkan 12,5 jam proses pengambilan gambar, Alhasil sebuah foto yang menakjubkan yang berseliweran di Google dan menjadi tranding topic di Twitter, dan sudah pasti juga mengalahkan foto kabar baku tembak dua arah dan akhirnya yang mati duluan adalah CCTV.
Sebuah capaian yang luar biasa dari tim Webb menjadi cerminan terbaik dari apa yang pernah dilakukan badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat, NASA. Tak muluk-muluk, yakni mengambil sebuah mimpi dan mentransformasikannya menjadi realitas untuk kepentingan kemanusiaan. Ini asli keren bagi kita penduduk kota yang lagi bermimpi menjadi kota Metaverse dengan jalanan yang seringkali ada yang iseng menanaminya pohon pisang di lubang jalan yang cukup dalam.

Apa yang dilakukan oleh tim Webb ini adalah sebuah kejutan dari impian tim solid mereka, berupa kombinasi ketajaman dan kepekaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.
Capaian ini pula menjadi momentum langka bagi para ilmuwan, bahwa sekarang mereka telah dapat melihat dengan detail apa yang belum pernah terjadi sebelumnya, perihal proses galaksi-galaksi yang berinteraksi lalu memicu pembentukan bintang satu sama lain.
Dengan tingkat keterbatasan predikat keilmuan, bisa saja pencapaian teleskop Webb ini membuat kita menjadi senada dengan Foucault, bahwa penemuan ini seolah telah melewati ambang batas keilmiahan. cara-cara di mana ambang batas keilmiahan dilewati berdasarkan bentuk-bentuk epistemologis yang berbeda-beda. Tujuannya adalah menemukan, misalnya, bagaimana satu konsep yang masih terlapisi muatan-muatan metafor dan imajiner bisa dipurifikasi dan diberikan status dan fungsi sebagai konsep yang ilmiah.
Dan memang sangat penting bagaimana mengenali dengan baik diskursif dalam sains, bukan hanya mengenalinya dari akumulasi linear dari kebenaran-kebenaran atau asal usul rasio kata Foucault.
Namun ini rasa-rasanya sulit terbantahkan keilmiahannya, dan ini bukan mitologi perihal planet-planet dimasa lalu yang menjadi serpihan dari proses awal terbentuknya Bumi ini.
Hasil gambar dari teleskop James Webb ini sepertinya menjadi penegasan kemenangan untuk kesekian kalinya ilmu atas mitologi, sebagaimana dimasa lalu kekalahan telak juga pernah dialami oleh ilmu pengetahuan atas mitologi. Peristiwa kemenangan mitologi pernah digambarkan oleh Cak Nur tentang historis perpustakaan Iskandaria di Mesir yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dimana pertama kalinya umat manusia mengumpulkan dengan penuh kesungguhan secara sistematis pengetahuan apapun tentang dunia. Kuatnya mitologi pada akhirnya membuat perpustakaan ini dibakar oleh kelompok pemuja berlabel pembela kesucian ajaran agama tertentu. Carl Sagan bahkan mengatakan, jika seandainya perpustakaan Iskandaria masih hadir, maka Albert Einstein sudah tampil di bumi 5 abad lalu. Manusia sudah tinggal dan beranak pianak di berbagai belahan planet. Bumi hanya diisi oleh sedikit manusia dan hanya menjadi tempat mudik di waktu tertentu untuk mengobati kerinduan saat kita telah berada pada era interstellar. Dan yang pasti teleskop Webb ini adalah barang rongsokan peninggalan berabad-abad yang lalu.

Menemukan Tuhan Dalam Kesunyian Galaksi

Temuan Teleskop Webb dan rintisan Elon Musk lewat proyek SpaceX untuk jalan-jalan bahkan berdomisili di Mars 5 tahun kedepan, bisa jadi adalah jalan nyata dari apa yang Tod William tegaskan tentang bagaimana dimasa mendatang ada kehidupan lain diluar bumi yang akan terungkap. bahwa kelak akan menjamur perdagangan antar galaksi yang berpusat di Bumi. Dan kesemuanya diawali dengan penjelajahan luar-angkasa sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan pengalaman bersama dengan bentuk-bentuk kehidupan lain yang belum diketahui selama ini. Dan dimasa itu mungkin tidak ada lagi seleksi para direksi dan dewas Perusda yang panselnya tanpa ampun mengkandaskan beberapa peserta dengan selisih nilai yang cukup presisi diangka nol koma nol sekian.
Kemampuan manusia yang terepresentasi lewat kinerja bagus teleskop ini senada dengan apa yang diungkap dalam Islam pada Surah Ar-Rahman ayat 33, tentang daya jelajah manusia dalam alam semesta akan terbatasi, kecuali dengan kekuatan yang maknanya oleh para ulama adalah IPTEK yang mumpuni, “Yaa ma’syaral jinni wal insi inis tata’tum an tanfudzuu min aqtaaris samaawaati wal ardhi fanfudxuu, laa tanfudzuuna illaa bisultaan”.

Dengan melakukan proses internalisasi, temuan ini semakin menegaskan kepada manusia bahwa dihadapan Tuhannya dia adalah makluk yang tanpa daya dan upaya kecuali atas izin-Nya. Keterserapan dalam setiap pixel foto teleskop ini menyimbolkan kekuatan terbesar Tuhan yang dapat kita temukan dalam sinar bintang dan kesunyian di tiap galaksi.
Era baru dunia sains ini juga menegaskan bahwa pengamatan penduduk bumi ke depan akan merevolusi pemahaman kita tentang kosmos dan asal usul kita sendiri sebagai makhluk berKTP bumi.

Artikel ini juga telah tayang sebelumnya di :

https://makassar.tribunnews.com/2022/07/15/babak-baru-dunia-sains-fitur-kosmik-pada-semesta-yang-tak-terlihat?page=all

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist