Tanggal 2 November 2022 akan memiliki sejarah tersendiri bukan cuma buat Indonesia, tapi bagi ibu saya di rumah. Televisi tabung hasil dari banting tulang almarhum bapak saya dulu, kini resmi dipensiunkan.

Analog Switch Off (ASO) mendadak lebih hebat dari gas airmata. Selain membuat mata saya berkaca oleh karena barang kesayangan bapak saya ini akan menjadi penghuni baru gudang barang bekas rumah kami, colokan buat alat tambahan yang tak bisa berfungsi normal makin memuluskan dia menuju peristirahatan terakhirnya. ASO ini juga membuat ratusan ribuan bahkan jutaan Televisi kini hanya mampu menampilkan gambar pasir (istilah jaman dulu).

Tapi demikianlah memang perkembangan jaman. Saat VHF dulu dilibas oleh siaran UHF. Dan sekarang siaran UHF pun dilibas oleh TV Digital. Entah usia kita masih bisa mendapati siapa selanjutnya yang akan melibas TV Digital ini, sebab kecepatan dari majunya teknologi mungkin dua kali lipat lebih awal kedatangnya dari 60 tahun digdayanya siaran analog ini sebelumnya.
Tapi apa iya dengan beralihnya ke siaran digital maka penonton video di Youtube dan Tiktok akan serta merta bisa kembali lagi menjadi penonton setia depan TV? sebab tak bisa dipungkiri kecepatan informasi secara real time di TKP akan tetap menjadi penentu bagaimana minat penonton akan selalu menjadikannya sebagai pilihan prioritas.

Masyarakat kita di Indonesia ini pada akhirnya akan menjalani sebuah teknologi baru, meski di negara maju di luar sana sudah memulainya kurang lebih 10 tahun lalu, namun setidaknya era baru ini akan membuat mata kita akan lebih nyaman dengan kejernihan tampilannya, sekaligus menjadi penutup tradisi kita naik ke atap rumah putar-putar antena karena siaran masih banyak semutnya.

Kita mungkin akan merindukan teriakan-teriakan khas dari belakang atau samping rumah saat kita berbagi tugas, ada yang pencet remote untuk cek channel yang ditangkap TV kita, satunya lagi bertugas mengarahkan posisi antena mirip dengan arah TV tetangga yang siarannya lebih jernih. Kita juga mungkin akan merindukan tingginya tiang bambu yang berdiri kokoh bertahun-tahun di belakang rumah, tiang yang kadang memunculkan rasa was-was saat angin bertiup kencang kala musim hujan tiba. Dan kita akan memiliki sebuah kenangan baru, perihal bagaimana dulu kita hanya memilih channel-channel tertentu oleh karena ketakberdayaan booster TV kita yang kemasukan air lewat kabel antena dan berakibat mengalami korsleting pada trafonya.

Meskipun sulit oleh karena banyaknya kenangan, namun saatnya sekarang kita move on ke Siaran Digital. Mungkin TV Analog kadangkala harus kita posisikan seperti halnya seorang mantan. Bahwa cara paling manis untuk menyatakan perasaan masih sayang pada mantan adalah dengan cara menjelek-jelekkannya. Sayonara Siaran Analog!

Artikel ini telah tayang sebelumnya pada :
https://herald.id/2022/11/06/mantan-terindah-itu-bernama-tv-analog/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist